MuriaNewsCom
Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Pertumbuhan Ekonomi Jateng Disebut Hanya Imbas Relokasi Industri dari Jabodetabek

316

MuriaNewsCom, Semarang – Pertumbuhan perekonomian di Jawa Tengah pada tahun 2018 mampu bertengger di angka 5,25 persen. Angka ini disebut jauh lebih tinggi dari pertumbuhan nasional yang hanya sebesar 5,17 persen.

Meski demikian, pertumbuhan ekonomi di Jateng ini merupakan imbas dari relokasi industri dari Jabodetabek. Penyebabnya, murahnya upah pekerja di Jawa Tengah bila dibandingkan dengan Jabodetabek.

Kondisi ini menurut Fraksi PKB DPRD Jateng, pertumbuhan ekonomi tidak memacu peningkatan taraf kesejahateraan masyarakat.

”Dari pantauan kami, investor berbondong-bondong ke Jateng, karena tertarik dengan tingkat upah rendah,” kata Sekretaris FPKB DPRD Jateng, Nur Sa’adah, dalam siaran pers yang diterima MurianewsCom.

Jikal hanya ini yang menjadi penyebabnya, kata Nur Sa’adah, pertumbuhan ekonomi tidak memacu peningkatan taraf kesejahateraan masyarakat.”Masyarakat hanya bertahan hidup dengan menjadi buruh dengan upah rendah,” ujarnya.

Padahal menurut di, peningkatan sektor ekonomi di Jawa Tengah diharapkan bisa memacu peningkatan taraf kesejahteraan masyarakat.

Ia memaparkan, pada tahun 2017 sektor ekonomi di Jateng tumbuh sebesar 5,27 persen dan hingga triwulan III tahun 2018 perekonomian mampu tumbuh sebesar 5,25 persen.

Dia menerangkan, stabilnya perekonomian di Jawa Tengah tidak lain meningkatnya investasi melalui perbaikan kebijakan kemudahan berusaha dan terkendalinya laju inflasi. Pertumbuhan ekonomi pada tahun 2019 kisaran 5,4– 5,8 persen dengan laju inflasi 4 + 1 persen.

Dengan kondisi ini pihaknya mendesak pemerintah untuk bisa menjaga kualitas pertumbuhan ekonomi dengan beriringan dengan prinsip keadilan sosial.

Baca : Jateng Yakin Mampu Gaet Investasi Sebesar Rp 56 Triliun di 2019

Perkembangan perekonomian di Jateng juga mendapat pengakuan dari pemerintah pusat. Kepala BPKPM, Thomas Lembong menyebut, dalam lima tahun terkahir, kondisi investasi di Jawa Tengah cukup memukau kalangan pengusaha dan pemerintah pusat.

Ia mengatakan kisaran lima tahun lalu, peringkat investasi Jawa Tengah di level nasional hanya menempati peringkat 11 dan sekarang telah naik ke peringkat 4.

“Jawa Tengah yang dulunya selalu tumbuh di bawah ekonomi nasional sekarang pertumbuhannya di atas nasional, 5,25 persen,” terangnya.

Kondisi ini menurut dia, karena sektor manufaktur, agribisnis, pariwisata dan ekspor sangat meningkat.

”Inflasi di Jateng juga rendah, kalau dulu tinggi sekarang jika inflasi nasional 3,2 persen nasional, Jateng hanya 2,79 persen. Ini sangat menarik untuk investasi masuk. Itu bukti ekonomi Jateng itu sangat maju,” paparnya.

Bahkan pada 2019 mendatang, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo menargetkan investasi yang masuk ke Jateng mencapai Rp 56 triliun. Target ini mengalami peningkatan sebesar Rp 9 triliun dari target 2018 sebesar Rp 47 triliun.

Editor : Ali Muntoha

United Futsal Pc

Ruangan komen telah ditutup.