MURIANEWS.com
Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Cerita Moeldoko Tentang HAM, Masjid Al Manshur dan Cikal Bakal Berdirinya Wonosobo

0 329

MuriaNewsCom, Wonosobo – Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko menyebut, Wonosobo sebagai bentuk keberagaman Indonesia yang sebenarnya. Pasalnya, di kabupaten ini terdapat berbagai agama dan aliran kepercayaan, namun warganya semua rukun tanpa ada konflik berarti.

Ini juga yang menurut Moledoko menjadikan Wonosobo sebagai model daerah toleran. Ini dikatakan Moeldoko ketika bersilaturahmi dengan masyarakat Wonosobo di Masjid Agung Al Manshur Wonosobo. Dalam kesempatan itu, ada 300 orang yang mengikuti pertemuan di masjid berumur 200 tahun tersebut.

Mereka bukan saja hanya beragama Islam, melainkan juga penganut agama lain, bahkan para pemeluk aliran-aliran minoritas turut hadir.

Mereka datang dari berbagai kota di Indonesia bahkan perwakilan dari luar negeri. Para tamu itu sedang ikut serta dalam Festival Hak Asami Manusia (HAM) yang dimulai Selasa (13/11/2018) lalu. Tidak kurang dari 66 organisasi dari dalam dan 5 lembaga internasional mengirimkan utusan.

Mantan Panglima TNI itu mengaku sangat mengapresiasi yang hadir adalah mereka yang peduli pada toleransi. Menurut dia, inti toleransi adalah tidak ada lagi minoritas dan mayoritas.

”Selama bangsa ini masih mempersoalkan mayoritas dan minoritas, tidak akan pernah maju. Wonosobo dipenuhi oleh berbagai agama dan rukun. Tapi semua hidup rukun sehingga Wonosobo menjadi model daerah yang toleran,” katanya dalam rilis yang dikirim Kantor Staf Presiden ke MuriaNewsCom.

Pada kesempatan itu Moeldoko mengingatkan alasan mereka berkumpul saat ini di Wonosobo. Berkumpulnya antarumat beragama bukan untuk menyamakan keyakinan. Tapi membangun kesadaran bersama ikut mengembangkan dan memahami nilai-nilai kemanusiaan.

“Keberagaman itu menjadi potensi, bukan malah menjadi ancaman. Potensi tersebut yang harus membentuk harmonisasi. Seperti gamelan. Semua unsur bunyi dengan harmonis yang bisa jadi kekuatan,” Moeldoko mengibaratkan.

Ia menyatakan, pemilihan Wonosobo sebagai tuan rumah Festival HAM juga bukanlah tanpa alasan. Kabupaten ini merupakan salah satu daerah yang dikenal sebagai kota yang peduli pada kesetaraan HAM.

Kota dataran tinggi yang berudara sejuk ini, pada masa penjajahan Belanda dikenal sebagai kota yang menjadi tempat peristirahatan. Ciri-ciri tata kotanya masih dipengaruhi arsitektur Eropa.

Misalnya, infrastruktur trotoar yang tinggi. Namun setelah deklarasi Human Rights City pada 2014, pemerintah daerah memperbaiki infrastrukturnya. Fasilitas kota yang lebih ramah bagi pengguna kursi roda.

“Pemerintah daerahnya pun berbenah. Mereka menggagas sebagai daerah ramah HAM yang layak dihuni semua golongan. Masyarakat mendapatkan pelayanan kebutuhan dasar sebagai warga negara,” terangnya.

Kesadaran masyarakat Wonosobo pada HAM tak lepas dari sejarah Masjid Al Manshur. Masjid ini dikenal sebagai pusat penyebaran agam Islam di Bumi Wonosobo, dan menjadi pendirian cikal bakal Kabupaten Wonosobo.

Tokoh penyebar Agama Islam di wilayah Wonosobo yakni Kyai Walik. Tokoh ini disebut sebagai perancang kota, yang dikenal sangat dekat di hati masyarakat.

Masjid Al Manshur juga diketahui sebagai pekaringan atau tempat berjemur para wali. Di masjid ini juga dikenal karena terdapat “bencet” atau jam matahari yang menjadi patokan waktu salat.

Salah satu tradisi di Masjid Al Manshur, setiap Sabtu selalu menggelar pengajian yang disebut Setonan. Jemaah datang dari berbagai daerah dan terus mengalami peningkatan. Setidaknya 1.500 orang hadir setiap Sabtu.

Mereka datang dari bebrgai kalangan dan ormas, seperti NU, Muhammadiyah, bahkan aliran-aliran lain yang hingga kini tersisihkan. Mereka mengaji di masjid yang sama, kitab yang sama. Sepulang mereka, seringkali membawa carica sebagai buah tangan.

Editor : Ali Muntoha

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.