MuriaNewsCom
Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Dibuang ke Sungai, Limbah Darah Sapi Resahkan Warga Langenharjo Pati

0 999

MuriaNewsCom, Pati – Limbah darah dari usaha pemotongan sapi yang ada di Desa Dadirejo, Kecamatan Margorejo, ternyata berdampak pada warga Desa Langenharjo, Kecamatan setempat. Limbah yang dibuang di sungai turut dua desa tersebut, ternyata menimbulkan banyak masalah. Selain bau amis yang dihasilkan, kondisi air juga menjadi sarang nyamuk.

Menurut warga setempat, Legi Saputro (67), kejadian adanya limbah darah pemotongan sapi tersebut, kurang lebih sudah lima tahun ini. Hanya, kondisi yang semakin parah adalah sekitar dua tahun terakhir. Sebab, limbah berhenti di Desa Langenharjo, lantaran musim kemarau.

”Kalau pagi hari, disepanjang sungai ini, airnya berubah menjadi merah. Karena sudah lama mengendap, airnya menjadi hitam seperti ini,” tutur legi sembari menunjukkan kondisi air, Jumat (13/7/2018).

Kondisi itu semakin parah dengan adanya bau amis yang dihasilkan dari limbah tersebut. bahkan, banyak warga yang tidak tahan dengan baunya, hingga memilih menggunakan masker mupun penutup hidung lainnya. Sebagain lagi memilih bertahan dengan menghidup udara yang bercampur bau tak sedap itu.

Padahal, sungai Desa Langenharjo itu membentang di tengah-tengah desa, sehingga seluruh warga dipastikan mencium bau amis itu. Bahkan, menurut Legi, pada saat malam hari baunya sampai keluar desa lain.

”Kami ini hanya kena dampaknya. Sebab, di Desa Langenharjo tidak ada yang mempunyai usaha potong sapi. Limbah darah itu dari desa tetangga,” ungkapnya.

Sebelumnya, warga desa setempat juga sudah mengutarakan keluhan itu kepada Kepala Desa. Hanya, penanganannya tidak berlangsung lama. Yakni, yang mempunyai usaha potong sapi sudah disarankan untuk menyiram darah sapi itu dengan air bersih.

Tetapi, lanjut Legi, itu saja tidak cukup. Sebab, pada saat pagi hari, air yang mengalir ke sungai itu masih berwarna merah kehitam-hitaman. Sampai akhirnya, darah terhenti di cekungan sungai karena tidak ada aliran air yang lebih besar.

”Kami ini sangat resah sekali. Kami harap pihak desa bisa segera menindak lanjuti masalah ini. Sebab, dampaknya sangat besar sekali. Kamar saya itu tepat di pinggir sugai. Setiap hari saya mencium bau tak enak itu, sampai-sampai saya harus menutup hidung agar bisa tidur,” tandasnya.

Editor: Supriyadi

United Futsal Pc

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.