MuriaNewsCom
Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Begini Cara Mengelola Irigasi Sehat yang Bisa Cegah Kontaminasi Residu Pestisida

0 185

MuriaNewsCom, Pati – Air tawar apabila tidak dikelola dengan baik akan berdampak negatif terhadap kehidupan manusia. Misalnya air yang berasal dari sungai maupun sawah yang digunakan untuk air irigasi, dimungkinkan mengandung kontaminan logam berat maupun residu pestisida.

Air irigasi terkontaminasi cemaran logam berat dan residu pestisida yang berasal dari aliran permukaan pada area terkontaminasi limbah industri dan pestisida di lahan pertanian intensif. Oleh karenanya diperlukan teknologi penyaringan air sebelum dan sesudah masuk area persawahan.

“Hasil penelitian yang kami lakukan, menunjukkan bahwa penggunaan pestisida di lahan pertanian (lahan padi dan sayuran) dapat mengakibatkan akumulasi residu pestisida dalam tanah, tanaman, dan air (sawah),” ungkap Kepala Balai Penelitian Lingkungan Pertanian, Asep Nugraha Ardiwinata, Senin (9/7/2018).

Lebih lanjut, kandungan residu pestisida ditemukan dengan konsentrasi relatif tinggi dan beberapa jenis pestisida telah melebihi batas maksimum residu (BMR). Kandungan residu pestisida yang ditemukan tidak hanya pada air dalam petakan sawah tetapi juga pada inlet maupun outletnya.

“Kandungan residu pestisida pada saluran outlet, selanjutnya akan masuk ke aliran sungai dan akan membahayakan lingkungan biota air dan kesehatan manusia. Oleh karena itu, diperlukan suatu alat filtrasi yang dapat menahan atau menangkap residu pestisida tersebut sebelum terbawa aliran dan masuk ke sungai,” imbuhnya.

Pihaknya mengaku sudah menemukan alat yang efektif untuk mengatasi hal tersebut, yakni Filter Inlet Outlet (FIO). Alat yang terbuat dari bahan sederhana itu, dapat menyaring air irigasi yang mengandung kontaminan logam, menjadi air sehat untuk tanaman dan lingkungan.

Bahan kerangka yang digunakan untuk membuat FIO ini adalah besi, galvanis, fiber, maupun lainnya dengan dimensi dapat disesuaikan dengan lokasi saluran irigasi. Sebagai tempat dari biochar atau arang aktif, kawat kassa dibuat menjadi selongsong sehingga dapat diisi dengan biochar.

“Untuk pemasangan selongsong dilakukan secara zigzag dengan posisi vertikal ataupun horizontal, supaya air saluran masih dapat mengalir dengan normal. Sedangkan untuk bahan pembuatan biochar berasal dari limbah pertanian seperti sekam padi, tongkol jagung, tempurung kelapa, tandan kosong kelapa sawit,” terangnya.

Setelah semuanya terpasang dalam satu box, maka FIO tersebut bisa ditaruh tepat di saluran masuk maupun keluar irigasi persawahan. Dengan begitu, air yang masuk ke persawahan, bisa dipastikan bebas dari kontaminan logam maupun residu pestisida. Sehingga, kondisi tanaman bisa tumbuh subur.

Editor : Ali Muntoha

United Futsal Pc

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.