MuriaNewsCom
Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Guru Besar Undip Prof Suteki Bantah Jadi Anggota HTI

0 345

MuriaNewsCom, Semarang – Dewan Kehormatan Kode Etik (DKKE) Undip Semarang menggelar sidang etik terhadap sejumlah stafnya yang diduga tak cinta NKRI. Termasuk salah satu guru besar yang diduga pro terhadap ormas Hizbut Tahrir Indonesia.

Guru besar tersebut yakni Prof Suteki, yang merupakan pengajar di Fakultas Hukum Undip Semarang. Sidang etik ini digelar selama dua hari hingga Rabu (23/5/2018).

Meski demikian, Prof Suteki membantah bahwa dirinya bergabung menjadi anggota HTI. Ia menyebut, meskipun pernah menjadi saksi ahli oleh HTI saat menggugat Perppu Ormas, tak langsung membuat dirinya menjadi anggota ormas tersebut.

“Prinsipnya, saya bukan anggota HTI. Kalau ada keterkaitan dengan HTI, karena saya pernah diminta HTI menjadi ahli saat sidang gugatan pencabutan badan hukum HTI, 1 Februari 2018,” katanya dilansir Antarajateng.

Hal itu diungkapkannya menanggapi pemberitaan mengenai unggahan-unggahannya di media sosial yang viral dan ditafsirkan sebagai bentuk dukungan terhadap organisasi kemasyarakat yang dibubarkan pemerintah itu.

Ia mengatakan kedatangannya sebagai saksi ahli yang diundang HTI berdasarkan “background”, kemampuan, dan keahlian khusus di bidang tersebut, apalagi sebagai pengajar Pancasila di Undip selama 24 tahun.

“Mungkin HTI melihat saya punya kapabilitas memberikan keterangan ahli di sidang PTUN terkait gugatan itu. Kalau ditafsirkan saya mendukung, apalagi dikatakan sebagai anggota HTI, terlalu prematur,” ujarnya.

Kehadirannya sebagai saksi ahli, dipastikannya bersifat netral dan memberikan keterangan sesuai dengan keilmuannya di bidang hukum, apalagi saksi ahli disumpah sehingga bisa dipastikan berlangsung fair.

Jauh sebelum persoalan tersebut mencuat, ia mengaku pernah suatu ketika diundang untuk mengisi sebuah diskusi mengenai perbandingan sistem demokrasi dan khilafah di sebuah hotel di Semarang, Juni 2017.

“Yang diundang banyak, dari HTI berbicara mengenai khilafah, sementara saya dosen Undip diundang sebagai dosen Pancasila. Namun, Rektor Undip menelpon, `Prof Teki, lebih baik tidak mengisi acara itu,” tuturnya.

Baca : Guru Besar Undip Ditengarai Pro HTI Bakal Kena Sanksi

Suteki sempat bertanya alasan pelarangan tersebut yang kemudian dijawab Rektor Undip bahwa mudharatnya lebih banyak daripada manfaatnya, sehingga dirinya pun akhirnya memutuskan tidak datang.

“Hanya saja, kalau tidak ada yang mempertemukan untuk berbicara bagaimana. Pemerintah mestinya ketemu HTI, rembukan, ada komunikasi, jadinya tenteram. Kalau seperti ini terus seolah-olah musuh, muncul friksi sosial,” katanya.

Ia juga berharap sidang kode etik yang dilakukan DKKE Undip berlangsung fair. “Saya berharap ini berjalan `fair`. Jangan karena masalah ini, ekspresi saya ini, seolah puluhan tahun yang sudah saya kerjakan tidak berarti sama sekali,” terangnya.

Suteki mengaku belum mengetahui perkembangan, termasuk hasil sidang etik itu. Apalagi, kata dia, sampai sejauh ini belum ada pemanggilan terhadap dirinya dalam sidang etik itu, termasuk surat teguran dari universitas atas unggahan-unggahannya di medsos yang sempat viral.

Yang jelas, Suteki mengatakan bahwa dirinya siap mengikuti prosedur yang dilakukan Undip, termasuk sidang etik tersebut supaya tidak menjadi “bola liar” karena banyak pemberitaan yang menyudutkannya.

“Bahkan, sudah membunuh karakter saya sebagai dosen Pancasila karena saya dikatakan anti-Pancasila, anti-NKRI, dan sebagainya. Saya ini sudah 24 tahun mengajar Pancasila,” ungkapnya.

Editor : Ali Muntoha

Hari Kemerdekaan 2018 Pc
United Futsal Pc

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.