MuriaNewsCom
Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Pelaku Bom Surabaya Diduga Ibu-Anak, Ansor Jateng Tuding Imbas Kasus Mako Brimob

0 8.244

MuriaNewsCom, Kudus – Teror bom bunuh diri yang terjadi di tiga gereja di Surabaya, Minggu (13/5/2018) membuat gempar. Terlebih kasus ini tak berselang lama dari kerusuhan yang dilakukan napi teroris di Rutan Mako Brimob.

Maka tak ayal banyak yang menghubung-hubungkan antara kasus bom bunuh diri di Surabaya dengan kasus di Rutan Mako Brimob. Kasus ini juga seolah untuk mempertegas bahwa jaringan terorisme masih subur di negeri ini.

Dalam teror di tiga gereja di Surabaya, dikabarkan 9 orang meninggal dunia dan puluhan orang luka-luka. Pelaku sengaja menargetkan jemaat gereja yang tengah melaksanakan misa pagi.

Kondisi ini membuat marah sejumlah pihak dan mengutuk aksi teror tersebut. Ketua PW GP Ansor Jateng, Sholahudin Aly menyebut Indonesia tengah berduka. “Sungguh itu suatu tindakan keji tidak berperikemanusiaan dan tidak beradab,” katanya dalam siaran pers yang diterima MuriaNewsCom.

Ia juga mengaitkan kasus teror di Surabaya sebagai imbas dari kerusuhan Mako Brimob. Gus Sholah menduga bom Surabaya adalah bentuk kode solidaritas dari anggota jaringan teroris terhadap drama Mako Brimob.

“Baru saja usai drama Mako Brimob, disusul dengan penusukan anggota Brimob dan tertangkapnya dua wanita muda yang akan membunuh anggota polisi, pagi ini Indonesia berduka karena terjadi ledakan bom di Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela di Ngagel, Gubeng, Surabaya, Jawa Timur,” ujarnya.

Baca : Dampak Teror Bom Surabaya, Gereja-gereja di Kudus Dijaga Ketat

Pihaknya sangat prihatin dan mengutuk keras tindak teror yang mengusik rasa aman masyarakat Indonesia. Parahnya lagi, itu dilakukan terhadap umat yang sedang beribadah.

“Tindakan teror dengan cara dan bentuk apapun tidak dibenarkan. Negara harus hadir. Polri harus bertindak tegas dan mengusut pelaku pengeboman,” ungkapnya.

Sementara itu, dilansir dari Detik.com, bom bunuh diri yang terjadi di Gereja GKI Surabaya dilakukan tiga orang, yang diduga sebagai ibu dan dua orang anak. Hal ini berdasar keterangan saksi yang merupakan satpam di lokasi kejadian, Antonius.

“Saya sempat melihat 2 orang anak dan ibunya datang membawa 2 tas,” kata satpam, Antonius kepada wartawan di lokasi, Minggu (13/4/2018).

Awalnya, petugas menghadang ibu tersebut di depan pagar halaman gereja sekitar pukul 07.45 WIB. Namun ibu itu tetap mencoba masuk. Tiba-tiba saja ibu itu memeluk petugas.

Pihak kepolisian menyatakan masih menelusuri identitas ibu-anak tersebut. “Semua masih didalami,” ujar Kabid Humas Polda Jatim Frans Barung Mangera.

Editor : Ali Muntoha

United Futsal Pc

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.