MuriaNewsCom
Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Menengok Istana Juragan Candu Terkaya di Asia Tenggara yang Kini Jadi Kandang Ayam

0 14.465

MuriaNewsCom, Semarang – Oei Tiong Ham dikenal sebagai peranakan Tionghoa yang pada abad 20 dikenal karena kekayaannya. Ia tercatat sebagai orang terkaya se-Asia Tenggara berkat bisnis candu dan juragan gula.

Bisnis opiumnya menggurita dari Bangkok, Singapura, Hongkong sampai New York. Bahkan sebagian tanah yang ada di Kota Semarang yang dulu dikuasai para Yahudi pun berhasil diambil alih.

Salah satu peninggalan bisnisman yang sangat berpengaruh zaman dulu itu hingga kini masih bisa dijumpai. Rumah gedong milik keluarga Tiong Ham hingga saat ini masih ada. Rumah itu berada di Bukit Simongan, dan dikenal dengan nama Istana Bukit Simongan.

Sejarawan Kota Semarang, Yongkie Tio dilansir dari metrosemarang.com menyebut, kedigdayaan Tiong Ham dalam menguasai roda bisnis di Kota Lumpia tempo dulu tak lepas dari peran ayahandanya, Oei Tjie Sien. Keluarganya merupakan peranakan Tionghoa yang mengawali bisnis dari nol.

Di Istana Bukit Simongan itulah, Oei Tjie Sien ditempa menjadi seorang bisnisman. “Rumahnya di Bukit Simongan sangat luas. Itu rumahnya Oei Tjie Sien, di sanalah Tiong Ham kecil tumbuh hingga dewasa,” ujarnya.

Dari situlah, kata Yongkie, jejak kejayaan keluarga Tiong Ham dimulai. Mula-mula, ayah Tiong Ham resah melihat banyaknya orang Tionghoa terkena pungutan pajak cukup besar tiap kali bersembahyang di sebuah kelenteng depan Simongan (Kelenteng Sam Poo Kong).

Dia lalu punya ambisi untuk menguasai lahan-lahan milik warga Yahudi yang bertebaran di situ.

“Dulunya kawasan yang sekarang jadi Sam Poo Kong itu rumahnya orang-orang Yahudi. Orang China yang pergi ke sana mesti bayar pajak. Kan jadi males to. Untuk menghindari hal itu, maka dibuat patung Sam Poo Kong dan ditaruh di Tay Kak Sie Gang Lombok. Melihat hal tersebut, terus Tjie Sien terobsesi membeli semua tanah Yahudi. Impiannya jadi kenyataan tatkala bisnisnya sukses,” kata Yongkie.

Maraknya pembelian tanah Yahudi oleh Tjie Sien pun berdampak positif terhadap kelangsungan hidup orang Tionghoa pada waktu itu. “Mereka tidak perlu lagi bayar pajak kalau mau sembahyang di kelenteng,” terang Yongkie.

Seiring berjalannya waktu, Tiong Ham kemudian meneruskan bakat bisnis ayahnya. Namun, ia memilih berjualan opium, bisnis yang kini dikenal dengan perdagangan narkotika.

Tak cuma jualan narkoba. Tiong Ham juga punya bisnis properti dan pabrik gula, sampai bisnis kapal internasional. “Keberhasilan bisnisnya itu tidak lepas dari kemudahannya dapat izin-izin pabrik setelah dia berkawan baik dengan Gubernur Batavia di masa kolonial Belanda,” tuturnya.

Kondisi Istana Simongan yang kini terbengkalai bahkan digunakan untuk kandang ayam. (Foto: metrojateng.com)

Istana yang Kini Tak Terurus

Kemegahan nama Tiong Ham mungkin saat ini sudah mulai pudar, dan hanya tersisa di ingatan para orang-orang tua. Namun sisa-sisa kejayaanya masih terlihat hingga saat ini. Yongkie Tio menyebut, pohon-pohon trembesi yang dulu banyak ditanam di sepanjang Jalan Gajahmada hingga Jalan Pahlawan menjadi saksi sejarah perkembangan bisnis Tiong Ham.

Rumah masa kecil Tiong Ham hingga kini masih ada. Istana tersebut berada di Kampung Bojongsalaman, Kecamatan Semarang Barat. Namun kini rumah tersebut seolah tak terurus, kemegahannya pun mulai pudar.

Rumah itu beberapa kali beralih fungsi, mulai dari asrama tentara, dan kini dihuni oleh 11 keluarga yang tinggal di lantai satu sejak tahun 1960-an.

Rumah ini terbengkalai. Temboknya kusam, sebagian sudah keropos, atapnya bocor kala hujan. Sebagian dari rumah itu dijadikan sebagai kandang ayam, sebagai upaya pertahanan hidup penghuninya.

Baca : Lawang Ombo di Lasem, Jejak Sejarah Peredaran Opium Zaman Belanda

Menurut Mbah Warni, salah satu penghuni rumah gedong ini menyebut jika semula ikut suaminya bertugas sebagai prajurit TNI di Simongan.

“Suami saya asli Ponorogo. Kemudian tahun 1960 disuruh tinggal di rumah ini. Dulunya kampung ini hutan, cuma ada rumah ini saja. Lalu lama-kelamaan beberapa tentara pindah kemari dan punya keturunan sampai sekarang,” tutur Mbah Warni dikutip dari metrojateng.com.

Rumah itu mempunyai nilai sejarah yang sangat besar. Beberapa kali warga mencoba menawar beberapa bagian yang ada di rumah tersebut. Seperti kusen jendela ada yang mau membeloi seharga Rp 700 ribu, hingga kayu atap yang sempat ditawar orang mencapai Rp 2 miliar.

Keturunan Tiong Ham pernah beberapa kali mengunjungi rumah itu. Termasuk Pemkot Semarang yang pernah meminta para penghuninya pindah untuk memanfaatkan rumah itu sebagai pusat bangunan bersejarah. Namun hingga saat ini belum terealisasi.

Editor : Ali Muntoha

 

United Futsal Pc

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.