MuriaNewsCom
Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Geliat Sepak Bola di Utara Pulau Jawa

0 1.338

Sepak bola Jawa Tengah sudah cukup lama mati suri. Absennya PSIS Semarang di kancah tertinggi sepak bola nasional sebelumnya membuat Jawa Tengah anteng-anteng saja. Bagaimana tidak, klub berjuluk Mahesa Jenar ini dianggap sebagai  klub yang mewakili Jawa Tengah di kasta tertinggi.

Terlepas dari Semarang sebagai pusat pemerintahan—PSIS menjadi salah satu klub legendaris syarat pengalaman ketika era Perserikatan dan Galatama. Pengaruhnya sangat terasa hingga sekarang.

Kini PSIS telah kembali pada jalurnya. Pasca promosi ke Liga 1, masyarakat Semarang kembali gemuruh menyambut tim kebanggaan mereka—tak menutup kemungkinan masyarakat Jawa Tengah lainnya juga ikut dalam euforia tersebut. Namun, identitas sepak bola Jawa Tengah bukan hanya “sebatas” milik PSIS.

Ikon sepak bola Jawa Tengah bisa saja disematkan pada PSIS, tetapi anggapan tersebut bisa saja disanggah. Sebab Jawa Tengah banyak memiliki klub yang tersebar di berbagai kasta sepak bola Indonesia—dari kasta tertinggi hingga terendah.

Di Utara pulau Jawa terdapat beberapa klub profesional di bawah naungan Persatuan Sepak bola Seluruh Indonesia (PSSI)—yang tergabung dalam Karesidenan Pati sebut saja Persipa Pati, Persiku Kudus, PSIR Rembang, Persijap Jepara, Persikaba Blora, terakhir Persipur Purwodadi.

Nama-nama klub tersebut sebagian memang kurang familiar di telinga pecinta sepak bola nasional. Ada beberapa faktor yang membuat nama-nama di atas terasa asing didengar. Pertama, keberadaan PSIS, secara historis memang tidak bisa dimungkiri.

Klub yang berdiri sejak 1932 ini mengukir sejarahnya di lembar sepak bola nasional. Tercatat PSIS berhasil menorehkan tinta emas—salah satunya adalah menjadi kampiun Divisi Utama Liga Indonesia (saat itu menjadi kasta tertinggi liga Indonesia) tahun 1998-1999.

Berkat deretan prestasinya tersebut PSIS menancapkan dominasinya di Jawa Tengah sebagai salah satu klub yang di segani. Di kancah nasional pun sama. PSIS menjadi salah satu klub legendaris bersama PSM Makassar, Persebaya Surabaya, PSMS Medan, Persija Jakarta, Persib Bandung, yang pernah mengecap manisnya juara di era Perserikatan.

Kedua, klub-klub di Karesidenan Pati ini kalah bersaing. Mengingat kasta tertinggi adalah impian semua klub untuk bermain di sana. Membawa nama daerah dan panji kebesaran menuntut klub di Indonesia berlomba-lomba menyuguhkan yang terbaik. Mulai dari materi pemain hingga jajaran pelatih berpengalaman menjadi hal yang mutlak jika ingin ikut meramaikan persaingan.

Ketiga, permasalahan klise yang menerpa banyak klub, yaitu urusan finansial. Keungan tak bisa dimungkiri menjadi salah satu elemen penting dalam hal pendanaan klub. Hal tersebut yang sering menjadi kendala. Dengan sokongan dana yang seadanya tak pelak membuat klub tak bisa berbuat banyak. Dengan materi yang biasa-biasa saja akan sulit bersaing. Belum lagi ditambah dengan gaji pemain yang mengharuskan pihak klub membayar tepat waktu.

Mencari pesaing PSIS?

Ketika PSIS benar-benar mendominasi, lalu muncul sebuah pertanyaan, apakah ada klub (di Jawa Tengah) yang mampu menjadi pesaing? Pada era Perserikatan dan Galatama tak ada yang mampu “menyenggol” PSIS. Barulah pertengahan 2000, PSIS bisa bersua Persijap Jepara di Liga Indonesia. Kedua klub asal Jawa Tengah tersebut menjadi laga klasik—yang sering disebut sebagai Derbi Jateng.

Perseturan panas tersebut pun sering mengundang kerusuhan antarsuporter. Seperti ingin menasbihkan diri sebagai yang terbaik di Jateng, keduanya harus saling sikut untuk meraih kemenangan.

Terkhusus Persijap, klub berjuluk Laskar Kalinyamat ini memang menjadi salah satu rival PSIS. Bisa dibilang pula Persijap sebagai salah satu klub dari Karesidenan Pati yang mampu mengimbangi PSIS. Walaupun secara prestasi Persijap masih kalah mentereng dibanding PSIS.

Setidaknya Persijap sendiri sudah pernah merasakan manis-pahit, ketar-ketir, kompetisi Superliga. Promosi tahun 2007 Persijap berhasil merepotkan banyak tim dengan nama besar. Namun, tampil tak konsisten akhirnya melemparkan Persijap ke jurang degradasi pada kompetisi 2013/2014. Persijap harus berjuang kembali ke liga tertinggi. Tragisnya, usaha mereka kembali harus menelan pil pahit. Persijap malah tambah terpuruk. Persijap gagal bersaing di Liga 2 dan mengharuskan turun kasta ke Liga 3 musim depan.

Berbanding terbalik dengan Persijap yang inkonsisten, kini sepak bola Pantura kembali memunculkan nama PSIR Rembang. Perjuangan klub berjuluk Dampo Awang ini mampu bertahan di Liga 2 musim depan. Bersama saudara se-Jawa Tengah: Persibat Batang, Persik Kendal, dan Persis Solo, PSIR bakal mengarungi ketatnya persaingan di Liga 2.

Perjuangan PSIR bukan tanpa rintangan. Mengawali kompetisi di grup 4, PSIR berhasil finis di posisi ke-3. Mereka harus bersaing dengan klub syarat penagalaman, PSIS dan Persis Solo. Kendati demikian, PSIR berhasil melakoni babak play off.

Tuhan memberkati, di babak tersebut PSIR berhasil menjadi juara grup meyingkirkan Persik Kediri, Yahukimo, dan Timah Babel. PSIR berhak bertahan di Liga 2 musim depan.

Prestasi PSIR tak begitu mengecewakan. Bahkan klub yang bermarkas di Stadion Krida tersebut pernah merasakan manisnya juara Divisi III Nasional pada musim 2005/2006 silam. Tak berhenti disitu saja skuat PSIR, setahun kemudian, mampu keluar sebagai yang terbaik di Divisi II Nasional . Klimaksnya PSIR mampu menembus hingga Divisi Utama.

Setahun sebelum PSIR merengkuh titel juara, saudara mereka se-karesidenan, Persiku Kudus terlebih dahulu juara Divisi II Nasional. Bedanya tak banyak prestasi tingkat nasional yang mampu ditorehkan Persiku. Terbaru, klub yang dijuluki Macan Muria ini berhasil keluar sebagai juara Liga Nusantara (Linus) Zona Jawa Tengah pada 2016 kemarin.

Klub lainnya yang masuk dalam Karesidenan Pati ialah Persipa Pati, Persipu Purwodadi, dan Persikaba Blora. Dibanding klub se-karesidanan yang telah dijelaskan sebelumnya, tiga klub ini kalah bersinar. Prestasi tertinggi Persipur hanya sebatas promosi ke Divisi Utama musim 2012/2013. Bahkan musim kemarin mereka harus terlempar dari Liga 2. Bersama Persijap, Persipur akan mengarungi Liga 3 musim depan.

Sedangkan Persikaba pernah menjadi runner-up Linus 2014 dan runner-upLinus Zona Jawa Tengah 2015/2016. Hal menyedihkan justru dialami Persipa. Hingga saat ini belum ada prestasi gemilang yang mereka ukir. Sehingga Persipa masih betah bertahan di Linus.

Geliat sepak bola Utara pulau Jawa memang tak semasyhur kota-kota lainnya di Nusantara. Bahkan kalah gemerlap dengan dengan klub di Zona Jawa Tengah lainnya. Namun demikian, bukan berarti kecintaan masyarakatnya ikut tenggelam dalam kehausan prestasi. Sepak bola Utara pulau Jawa tetap ada dan akan selalu ada. Meski dilanda berbagai kendala, pada dasarnya sepak bola tak bisa dihentikan begitu saja.

Sepak bola Utara pulau Jawa ini bakal terus bergulir. Hal tersebut dibuktikan dengan serangkaian turnamen dan kompetisi nasional yang mereka ikuti. Serta yang patut diapresiasi adalah pembinaan usia dini disetiap daerah. Sehingga persaingan di sana terus membakar semangat untuk menjadi yang terbaik.

Jadi, sangat mungkin dominasi PSIS dan klub lainnya di Jawa Tengah kelak bisa terpatahkan. Bravo Pantura! (*)

M.S Fitriansyah Warga Kabupaten Pati

 

United Futsal Pc

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.