MuriaNewsCom
Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Ada Aduan Penyelewengan dan Kredit Bermasalah, DPRD Langsung Cecar Pimpinan Bank Jateng

0 333

MuriaNewsCom, Semarang – Komisi C DPRD Jateng mendapat aduan dari masyarakat tentang dugaan adanya penyelewengan dan kredit bermasalah di Kantor Cabang Pembantu Bank Jateng di Ambarawa.

Aduan ini langsung ditindaklanjuti dengan mendatangi kantor bank tersebut untuk melakukan klarifikasi, Rabu (7/2/2018) kemarin. Ketua Komisi C DPRD Jateng, Asfirla Harisanto langsung mencecar Kepala Cabang Bank Jateng Ungaran, dan Kepala Cabang Pembantu Ambarawa, Joko Salimiyanto dengan berbagai pertanyaan.

Asfirla mengatakan, penyelewengan dan penyalahgunaan kewenangan seberapapun besar kecilnya dan siapapun pelakunya harus mendapatkan sanksi agar tidak terulang lagi.

“Ini ada aduan masyarakat terkait kredit bermasalah di Ambarawa. Ini masalah serius, kenapa ini bisa terjadi, analis kreditnya bagaimana? jangan jangan ada persekongkolan dengan pimpinan KCP Ambarawa,” cecar Asfirla.

Asfirla menjelaskan, kredit bermasalah yang dilaporkan masyarakat berupa kredit umum dan Mitra 25, yang diberikan kepada UMKM dengan tanpa agunan dan bunga murah yang sangat berpotensi terjadi penyelewengan.

“Mitra 25 program yang bagus dan kami sangat mendukung. Namun di Ambarawa ini ditemukan beberapa kasus diberikan tidak tepat sasaran yang akhirnya menjadi kredit macet,” katanya.

Asfirla yang akrab dipanggil Bogi ini menambahkan, Kredit Mitra 25 saat ini menjadi pemicu kenaikan NPL (non performing loan) di beberapa cabang. Pihaknya minta Bank Jateng tetap mengutamakan kelayakan usaha debitur sebelum meloloskan kredit.

“Saya minta kasus kredit bermasalah ini diusut tuntas karena ini menyangkut uang rakyat yang jumlahnya sangat banyak,” tegasnya.

Senada dengan Bogi, Anggota Komisi C Maria Tri Mangesti mempertanyakan pengawasan yang dilakukan terhadap kredit kredit yang dikeluarkan Bank Jateng. Menurut Maria, pengawasan yang lemah bisa berakibat fatal bagi perbankan. “Bisa ada kredit fiktif dan kredit macet setinggi itu bagaimana pengawasannya?,” tanyanya.

Menanggapi cecaran Anggota Komisi C tersebut, Kepala Cabang Pembantu Bank Jateng Ambarawa Joko Salimiyanto mengatakan, kasus kasus yang menimpa bank yang dipimpinnya sudah terjadi sebelum dia menjabat di Ambarawa pertengahan tahun 2017 yang lalu.

Berdasarkan analisa yang dilakukannya, untuk kredit macet yang berasal dari debitur Mitra 25 sebagian disebabkan karena dana pinjaman digunakan oleh dua orang atau lebih. Sehingga ketika terjadi kemacetan pembayaran angsuran, debitur yang merasa tidak menggunakan sendiri uang pinjaman tidak bersedia membayar sesuai perjanjian.

“Saat ini penyelidikan atas kasus tersebut sudah ditangani oleh kantor pusat. Sampai sekarang belum selesai penanganannya,” jelasnya.

Staf Sekretaris Perusahaan Bank Jateng Ratih mengungkapkan, kepala KCP Ambarawa yang diindikasi bertanggungjawab atas kasus tersebut saat ini dipindah ke kantor cabang utama untuk dilakukan pembinaan, sambil menunggu hasil investigasi tim dari pusat.

“Langkah ini dilakukan sambil menunggu hasil investigasi tim guna menentukan jenis punishment yang akan diberikan,” bebernya.

Dengan banyaknya kredit macet, dugaan kredit fiktif dan persoalan persoalan kredit lain yang terjadi di KCP Ambarawa nenjadikan performance KCP ini menurun drastis. Pada bulan Desember 2016 rasio NPL sebesar 1,26 persen.

Sementara pada bulan yang sama di tahun 2017 sebesar 14,89 persen. Padahal toleransi yang diberikan oleh Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) NPL bank masimal sebesar 5 persen.

Editor : Ali Muntoha

United Futsal Pc

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.