Loading...
You are here:  Home  >  Regional  >  Grobogan  >  Artikel ini

Petualangan Menyusuri Sungai Tuntang di Grobogan Awalnya Pakai Ban Tronton. Begini Kisahnya



Reporter:    /  @ 09:07:19  /  3 Desember 2017

    Print       Email

Selain rafting, petualangan menyusuri derasnya Sungai Tuntang di Desa Ngombak, Kecamatan Kedungjati juga bisa dilakukan dengan river tubing. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Sebelum menggunakan perahu karet, petualangan menyusuri derasnya arus Sungai Tuntang di Desa Ngombak, Kecamatan Kedungjati, Grobogan ternyata sudah dilakukan sejak September tahun 2016.

Saat itu, penyusuran sungai masih menggunakan ban dalam truk tronton atau bus. Penyusuran sungai dengan ban ini biasa disebut river tubing.

Petualangan model ini juga dilakukan rombongan beberapa orang. Caranya, sebanyak enam sampai tujuh ban tersebut dirangkai dengan tali. Masing-masing orang menaiki satu ban dengan posisi berjajar ke belakang.

“Aktivitas river tubing ini lebih menantang. Pada awalnya, rutenya juga sama dengan yang dipakai untuk rafting,” kata Abdul Rozak, manajer Darma Raja Adventure yang menjadi penyelenggara rafting dan river tubing menyusuri sungai Tuntang di Desa Ngombak tersebut.

Menurut Rozak, aktivitas river tubing sampai saat ini masih tetap disediakan, karena cukup banyak peminatnya. Hanya saja, rute river tubing diperpendak jaraknya.

Yakni, dari pertengahan rute rafting hingga finis yang berjarak sekitar 8 km. Rute tubing dari titik start hingga pertengahan tidak direkomendasikan karena jalurnya dinilai cukup membahayakan.

Pemendekan rute river tubing diambil berdasarkan hasil konsultasi yang dilakukan pihak Federasi Arung Jeram Indonesia (FAJI) Jawa Tengah bulan Februari lalu. Sejumlah pengurus FAJI Jateng juga sempat berkunjung dan memberikan supervisi mengenai aktivitas arung jeram di Sungai Tuntang.

“Setelah konsultasi dengan FAJI ini akhirnya muncul keiginan untuk membuka rafting. Akhirnya, aktivitas rafting bisa dilakukan mulai bulan Juli kemarin,” jelas pemuda 21 tahun yang tinggal di Desa Ginggangtani, Kecamatan Gubug tersebut.

Sebelum membuka jasa rafting, Rozak dibantu kawan-kawannya mengumpulkan modal untuk membeli peralatan. Seperti helm, perahu karet, dayung, rompi dan sarana pendukung lainnya.

“Saat ini kita sudah punya tiga perahu karet. Total modal untuk menyediakan jasa rafting ini sekitar Rp 100 juta. Untuk pemandu kita punya enam personel,” cetusnya.

Jika ingin rafting menyusuri Sungai Tuntang, terlebih dahulu harus singgah di basecamp yang ada di Desa Ngombak. Dari lokasi ini, rombongan sudah disediakan kendaraan menuju titik start. Untuk sekali rafting dikenakan biaya Rp 550 ribu.

“Untuk biaya river tubing jauh lebih murah. Per orang kita kenakan Rp 35 ribu. Saat river tubing juga ada pemandunya dan dilengkapi perlengkapan pengaman seperti rafting,” imbuhnya.

Editor : Ali Muntoha

Komentar

komentar


    Print       Email


Artikel terkait lainnya

Kosek Kos-kosan dan Penginapan, 9 Pasangan Mesum di Grobogan Terjaring

Selengkapnya →