Loading...
You are here:  Home  >  Info Metro  >  Info Lainnya  >  Artikel ini

34 Warga Demak Disandera di Papua, Pemprov Tak Tinggal Diam



   /  @ 11:41:44  /  14 November 2017

    Print       Email

Anggota Timsus Brimob Polda Papua dan sejumlah anggota Polres Tembagapura yang mengintai kelompok kriminal bersenjata di Tembagapura, beberapa waktu lalu. (Humas Polres Papua)

MuriaNewsCom, Semarang – Sebanyak 34 warga Desa Kedondong, Kecamatan Demak, Kabupaten Demak, dilaporkan ikut disandera kelompok kriminal bersenjata di Tembagapura, Papua. Pihak kepolisian memastikan 34 nama warga desa itu masuk dalam daftar yang disandera.

Mengetahui informasi ini, Pemprov Jateng memastikan tidak akan tinggal diam. Gubernur Jateng Ganjar Pranowo menyatakan, pihaknya dan Pemkab Demak siap jika sewaktu-waktu dibutuhkan.

Menurut Ganjar, saat ini proses negosiasi tengah dilakukan oleh pihak kepolisian dan TNI. Sehingga pihaknya terus memantau perkembangan yang ada.

“Kita pantau terus, kan militer sedang bertindak. Ya tentu kalau sudah posisi seperti itu militer yang maju. Tapi kita akan pantau terus,” kata Ganjar.

Tidak hanya memantau, pemerintah daerah juga akan sigap jika dibutuhkan tindakan dari daerah asal para korban penyanderaan.

Namun hingga kini pemerintah daerah belum bisa melakukan apa-apa karena aparat masih berusaha bernegosiasi, bahkan para pelaku belum mengungkapkan tuntutannya. “Jika dibutuhkan tindakan dari pemprov atau pemkab, kita akan sampaikan,” tandas Ganjar.

Warga Demak yang disandera merupakan perantauan di Banti, Tembagapura. Kontak dengan keluarga selalu terjalin dan beberapa bulan sekali pulang ke Demak. Namun sejak beredar kabar penyanderaan, pihak keluarga sudah tidak bisa menghubungi ke-34 warga tersebut.

Kepala Desa Kendondong, Sistianto, kemudian melaporkan hal itu ke Polres Demak. Kapolres Demak AKBP Sonny Irawan juga membenarkan adanya laporan itu.

“Kades Kedondong melapor ke unit intelijen karena khawatir warganya itu tidak bisa dihubungi setelah ramai pemberitaan tentang penyanderaan itu,” katanya.

Ia mengatakan laporan itu disampaikan sekitar 9 atau 10 November lalu. Petugas kemudian langsung melakukan pengecekan data terkait dengan keberadaan para warga yang bekerja di Papua itu.

Sonny menjelaskan dari pengecekan diketahui 34 orang tersebut memang masuk dalam daftar warga yang disandera. “Nama-nama warga yang dilaporkan disandera sudah lengkap,” katanya.

Selanjutnya, menurut dia, hal tersebut sudah disampaikan ke Polda Jawa Tengah untuk diteruskan ke Mabes Polri. “Karena lingkupnya nasional, sudah dikoordinasikan ke Mabes Polri,” ujarnya. 

Ramai diberitakan, KKB menyandera 1.300 orang di Desa Kimbely dan Desa Banti. Saat ini hanya perempuan yang diperbolehkan meninggalkan wilayah kampung untuk mencari kebutuhan pangan. TNI dan Polri berusaha mengedepankan cara persuasif untuk menangani kasus tersebut.

Editor : Ali Muntoha

Komentar

komentar


    Print       Email


Artikel terkait lainnya

Bupati Brebes Berguru Prosedur Pinjaman dari Pihak Ketiga ke Grobogan

Selengkapnya →