Loading...
You are here:  Home  >  Info Metro  >  Info Lainnya  >  Artikel ini

Cukai Naik, Rokok Ilegal Justru Bakal Marak



   /  @ 13:59:27  /  10 November 2017

    Print       Email

Petugas KPPBC memperlihatkan rokok ilegal yang beredar di Kudus. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Semarang – Pemerintah berencana menaikkan tarif cukai rokok mulai Januari 2018 mendatang. Dengan kenaikan tarif ini, otomatis harga rokok akan melejit, dan dikhawatirkan akan berdampak pada kelangsungan industri rokok.

Dampak lanjutanya yakni terhadap puluhan ribu orang yang bergantung pada industri ini. Mulai dari buruh, hingga petani tembakau.

Selain kekhawatiran itu, kenaikan cukai rokok juga dinilai akan membuka keran munculnya rokok-rokok ilegal atau tanpa cukai. Rokok ilegal ini biasa dijual dengan harga murah, sehingga akan menjadi buruan perokok.

“Tarif cukai naik kan membuat harga rokok juga naik. Persoalannya, harga rokok yang semakin mahal tidak lantas membuat masyarakat yang perokok berhenti merokok,” kata Ketua Paguyuban Mitra Produksi Sigaret Indonesia (MPSI) Djoko Wahyudi, dikutip dari Antara, Jumat (10/11/2017).

Ia menyebut, meski rokok bukan masuk kebutuhan konsumsi utama, namun kenaikan harga rokok juga sensitif.

“Harga rokok naik, biasanya masyarakat menyesuaikan. Misalnya, selama ini kalau beli rokok yang harga Rp 15 ribu. Begitu naik, mereka mencari yang harganya sama meski kualitasnya tentu lain,” ujarnya.

Ia menyebut, jika perokok beralih ke rokok ilegal yang harganya lebih murah, yang juga akan dirugikan adalah pemerintah. Karena menurut dia, pemerintah tidak akan mendapat apa-apa, karena rokok yang dibeli masyarakat adalah rokok ilegal tanpa cukai.

“Selama ini industri rokok kan patuh memberikan kontribusi dari pembayaran cukai yang sebagian besar memang menyumbang pendapatan negara,” terangnya.

Di sisi lain, kata Djoko, industri rokok juga tidak pernah merepotkan pemerintah dan menjalankan kewajibannya sesuai aturan main industri. Sekaligus membantu meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat.

“Namun, industri rokok justru dihantam dari berbagai sisi. Mulai sisi kesehatan dengan iklan yang menyebutkan slogan `Merokok Membunuhmu`, cukai rokok yang terus dinaikkan, hingga impor tembakau,” pungkasnya.

Ketua Aliansi Masyarakat Tembakau Indonesia (AMTI) Budidoyo membenarkan nasib industri rokok di Indonesia yang seolah terus dimarjinalkan, dipojokkan, dan tidak pernah diberi ruang yang cukup untuk berusaha.

Padahal, kata dia, kehadiran industri rokok melahirkan “multiplier effect” yang luar biasa. Terutama ekonomi, mulai petani tembakau, petani cengkeh, para pekerja industri rokok, hingga pedagang atau peritel.

“Itu baru mereka yang langsung bergelut dengan produk rokok, ada enam jutaan orang. Belum termasuk tumbuhnya perekonomian sekitar pabrik dengan munculnya warung, para pengojek, angkutan kota untuk mengangkut karyawan,” terangnya.

Salah satu tekanan yang dihadapi industri rokok, kata dia, naiknya tarif cukai yang terus menerus seperti berada di negeri asing. Padahal satu-satunya produk rokok kretek yang ada di dunia cuma ada di Indonesia.

“Produk tembakau dan turunannya itu dari hulu sampai hilir tidak pernah dapat insentif apapun dari pemerintah. Industri rokok tidak harus dibela, tetapi diberitakan objektif saja sudah bersyukur,” pungkas Budidoyo.

Editor : Ali Muntoha

Komentar

komentar


    Print       Email


Artikel terkait lainnya

Bupati Brebes Berguru Prosedur Pinjaman dari Pihak Ketiga ke Grobogan

Selengkapnya →