Loading...
You are here:  Home  >  Regional  >  Grobogan  >  Artikel ini

Tenaga Konstruksi di Grobogan Didorong Kantongi Sertifikat Ketrampilan



Reporter:    /  @ 18:45:35  /  31 Oktober 2017

    Print       Email

Wakil Bidang III LPJK Jawa Tengah Agus Munawar Sodiq menyampaikan materi dalam acara pembinaan jasa kontruksi di ruang rapat lantai I, Setda Grobogan, Selasa (31/10/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, GroboganPara pemilik perusahaan jasa konstruksi di Grobogan diminta melengkapi pekerjanya dengan sertifikat keterampilan (SKT). Hal itu diperlukan karena adanya SKT itu bisa menunjukkan sejauh mana kualitas pekerja dan perusahaan jasa konstruksi.

”Dengan memiliki SKT maka pekerja konstruksi itu bisa punya daya saing lebih. Dalam era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) saat ini, tenaga konstruksi yang punya SKT tentu akan jadi pilihan,” katanya Kepala Balai Jasa Kontruksi Wilayah IV Surabaya Indro Pantja Pramodo, usai menjadi pembicara dalam kegiatan pembinaan jasa konstruksi di ruang rapat lantai I, Setda Grobogan, Selasa (31/10/2017).

Menurut Indro, sejauh ini, jumlah tenaga kerja konstruksi yang mengantongi SKT dinilai masih sangat rendah. Data yang dimiliki menyatakan, jumlah tenaga konstruksi di Indonesia sekitar 7,2 juta orang. Dari jumlah tersebut, hanya sekitar 600 ribu tenaga konstruksi yang sudah memiliki SKT.

”Kalau diprosentase, pemilik SKT tidak sampai 10 persen. Dari data ini membuktikan kalau kesadaran untuk memiliki SKT masih sangat rendah. Padahal, SKT ini banyak sekali kegunaannya,” jelasnya.

Sebagai gambaran, Indro menerangkan, pada beberapa proyek sempat ada masalah dalam pelaksanaan pekerjaan. Misalnya, bangunannya ambruk saat pekerjaan belum selesai.

”Hal ini bisa jadi disebabkan pekerja yang digunakan tidak memiliki SKT. Dengan demikian, hasil pekerjaan tidak bisa sesuai dengan ketentuan,” jelasnya.

Wakil Bidang III LPJK Jawa Tengah Agus Munawar Sodiq menambahkan, pada tahun ini, cukup banyak pengajuan sertifikasi yang diterima lembaganya. Sejak Januari hingga 31 Agustus 2017, pihaknya sudah menerima 3.688 berkas pengajuan sertifikasi badan usaha (SBU). Sementara, permohonan sertifikasi keahlian (SKA) sebanyak 1.761 berkas dan ada 1.429 berkas untuk permohonan sertifikasi ketrampilan (SKT).

”Sejauh ini, kesadaran untuk mencari sertifikat itu memang masih belum menggembirakan. Padahal, untuk mendapatkan sertifikat itu tidak sulit, biayanya ringan serta bisa dilakukan perseorangan maupun kolektif. Para penyedia jasa konstruksi itu biasanya baru mencari sertifikat saat akan mengikuti lelang proyek,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Bagian Pembangunan Pemkab Grobogan Siswanto mengatakan, selain memantau pelaksanaan pekerjaan, pihaknya juga rutin melakukan pengawasan dan pembinaan pada pemilik usaha jasa konstruksi. Hal itu dilakukan agar keberadaan jasa konstruksi makin profesional.

Editor: Supriyadi

Komentar

komentar


    Print       Email


Artikel terkait lainnya

3 Bakal Calon Bupati Kudus Siap Maju Lewat Jalur Independen

Selengkapnya →