Loading...
You are here:  Home  >  Info Muria  >  Artikel ini

KH Anwar Zahid : Hargai Waktu, Jangan Sampai Menyesal



Reporter:    /  @ 23:18:57  /  20 Oktober 2017

    Print       Email

Ribuan jemaah pengajian khusuk mendengarkan tausiyah KH Anwar Zahid. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – KH Anwar Zahid mengingatkan ribuan jemaah pengajian supaya bisa menghargai waktu supaya tidak menyesal di kemudian hari. Hal itu, disampaikan saat mengisi pengajian umum dalam HUT ke-70 Sukun Group, Jumat (20/10/2017) di Masjid Taqwa, Dukuh Ngemplak, Desa Gondosari, Gebog.

Kiai yang terkenal akan kelucuannya itu menyampaikan, kalau waktu sangat berharga. Bahkan orang luar bersemboyan kalau waktu adalah uang, dan sebuah hadits menjelaskan kalau waktu itu ibarat sebuah pedang.

“Jika sebuah pedang dapat digunakan dengan baik dan benar, maka dia (pedang) akan sangat bermanfaat bagi pemiliknya. Namun kalau salah penggunaan, maka bisa melukai pemilik, bahkan sampai mampu memenggalnya,” katanya saat berceramah.

Dia menjelaskan, kalau orang bijak mengatakan, orang yang sukses adalah orang yang pandai memanfaatkan waktu dan kesempatan. Siapapun yang bisa memanfaatkan waktu, maka hidupnya akan sukses.

“Termasuk Sukun Grup, diberikan kesuksesan oleh Allah SWT. Karena memang kegigihan ikhtiar maksimalkan, karyawan banyak, bakti sosial, sumbangsih keagamaan. Salah satunya pesantren kami Bojonegoro, tiap ada event, sponsor ya Sukun,” ujarnya.

Bagi dia, kesempatan hanya akan tiba sekali saja. Untuk itu harus dimanfaatkan dengan baik dan jangan sampai menyesal. Jika ada kesempatan lain yang datang, maka itu adalah kesempatan yang baru.

Dia menjelaskan tentang Hadits, yang berbunyi kalau matahari setiap terbit pagi hari selalu berkata, “Wahai kehidupan, aku adalah waktu yang baru, manfaatkan sebaik-baiknya karena aku tak akan kembali sampai kiamat,”

Dia menambahkan, setiap orang saat sudah meninggal pasti akan menyesal. Untuk itu, selagi masih hidup diajak banyak berbuat kebajikan dan amal. “Buktinya apa, kalau orang mati itu dikasih gelu. Yang artinya gelo (kecewa) yang sangat amat. Dan itu jumlahnya tujuh. Makanya orang mati itu pengen hidup lagi dan beribadah,” imbuh dia.

Editor: Supriyadi

Komentar

komentar


    Print       Email


Artikel terkait lainnya

Petaka Mempermasalahkan Beda Kasta Tampak di Pementasan Teater Keset Kudus

Selengkapnya →