Loading...
You are here:  Home  >  Info Jateng  >  Artikel ini

Bayi Dugaan Malpraktik RSUD Kajen Pekalongan, Adiyatma, Terabaikan



   /  @ 18:12:08  /  20 Oktober 2017

    Print       Email

Adiyatma Serkan Altaya dalam gendongan saat ini belum mendapatkan penanganan di Pekalongan. (Capture Youtube)

MuriaNewsCom, Pekalongan – Bayi enam bulan, Adiyatma Serkan Altaya, yang merupakan korban dugaan malpraktik RSUD Kajen Pekalongan, kian tak jelas kondisi penanganannya. Sebab RSUD Kajen tak memberikan kejelasan perihal penanganan.

Sebelumnya, Adiyatma dirawat selama 31 hari. Anak dari pasangan Karimah dan Ubaidiah, warga Kedungwuni Barat, Kabupaten Pekalongan itu mendapat penanganan medis setelah ibunya mengalami pecah ketuban dini, saat usia kandungannya 23 minggu pada awal April 2017 lalu.

Korban melalui persalinan normal namun saat itu tidak ada tangisan dan hasil diagnosa diketahui korban mengalami anemia, infeksi sistemik dan asfiksia (kesulitan bernafas) berat.

BacaSaling Ejek di Facebook, Dua Pemuda Wegil Pati Duel dan Tertusuk Pisau

Petugas RSUD Kajen lalu memasang alat bantu nafas C-Pap. Alat bantu nafas ini baru dilepas setelah 15 hari. Saat alat dilepas, ibu bayi Karimah menemukan di dalam lubang hidung anaknya tak tampak lagi sekat seperti umumnya. Atau nekrose (hilangnya kulit dan jaringan penunjang) di sekitar sekat hidung.

Mendapati hal ini, orang tua bayi minta pertanggungjawaban RSUD Kajen. Mediasi kedua belah pihak telah dilakukan setelah keluarga korban mensomasi RSUD Kajen. Dalam surat pernyataan dari RSUD Kajen itu rupanya ada yang dianggap janggal oleh pihak keluarga korban.

Surat yang ditandatangani oleh Direktur RSUD Kajen, Dwi Ari Nugroho per tanggal 17 Oktober 2017 itu terdapat tiga poin. Satu poinnya dianggap memberatkan pihak keluarga yang berbunyi pihak rumah sakit bersedia mendampingi keluarga untuk melakukan rekonstruksi atau pemulihan bayi yang mengalami erosi septum hidung.

“Kami keberatan atas kalimat itu, hanya bersedia mendampingi. Saat mediasi pihak rumah sakit bersedia bertanggung jawab penuh, bukan hanya mendampingi tapi biayanya tidak ada,” kata kuasa hukum keluarga korban, M Yusuf.

Sesuai rencana, Rabu (18/10/2017) bayi malang ini akan dibawa ke RSUD Karyadi Kota Semarang untuk menjalani proses rekonstruksi pemulihan namun tidak jadi lantaran pihak keluarga khawatir atas bunyi pernyataan dari pihak RSUD Kajen.

BacaTilep Uang Ratusan Juta, Calo CPNS di Grobogan Ditangkap Polisi

“Maksud isi surat itu apa, hanya mendampingi? Keluarga korban ingin RSUD Kajen bertanggung jawab penuh sesuai hasil mediasi pada Senin (16/10/2017) kemarin. Bukan sekadar mendampingi. Saya tanya ke pihak rumah sakit maksud dari kata mendampingi itu apa tapi belum ada kejelasan,” kata Yusuf.

Direktur RSUD Kajen, Dwi Ari Nugroho, melalui pesan singkat kepada wartawan mengatakan, sesuai hasil audiensi, korban akan diberangkatkan ke Kota Semarang namun batal.

“Sesuai kesepakatan harusnya hari ini berangkat ke semarang tetapi keluarga menolak. Keluarga dan pengacara menghendaki audiensi dengan Dewan dan pengumpulan koin,” jelas Dwi

Saat ini, kondisi bayi, kata Karimah, sedang mengalami demam. Bayinya tak mendapatkan penanaganan lanjutan karena RSUD Kajen hanya mendampingi saja. “RSUD Kajen hanya bersedia mendampingi, tidak ada kejelasan pertanggung jawaban.Sekarang anak saya malah sakit demam,” ungkap Karimah.

Keluarga korban, Lukman, mengatakan, pihaknya meminta RSUD Kajen bertanggung jawab penuh terhadap kesembuhan dan pemulihan Adiyatma. “Harapannya tanggung jawab penuh pengobatan dan perawatan,” kata Lukman.

Lukman menuturkan, sejak RSUD Kajen mengeluarkan surat pernyataan bersedia mendampingi korban di rumah sakit di Kota Semarang, belum ada titik terang. “Kami kembalikan suratnya. Tidak ada pernyataan di isinya yang menerangkan siap bertanggung jawab, hanya mendampingi,” ungkapnya.

Pihak keluarga korban pun berencana mengadakan aksi penggalangan koin peduli Adiyatma. “Rencananya warga, gabungan LSM dan LBH Pekalongan akan aksi galang koin untuk Adiyatma,” pungkas Lukman.

Editor : Akrom Hazami

Komentar

komentar


    Print       Email


Artikel terkait lainnya

Petaka Mempermasalahkan Beda Kasta Tampak di Pementasan Teater Keset Kudus

Selengkapnya →