Loading...
You are here:  Home  >  Info Metro  >  Info DPRD  >  Artikel ini

Jumlah Alat Peringatan Bencana Minim, Dewan Dorong Pemprov Bikin Inovasi



   /  @ 13:05:03  /  17 Oktober 2017

    Print       Email

Petugas tengah memeriksa alat deteksi bencana alam. Di Jateng jumlah alat deteksi ini masih sangat sedikit. (Foto : Antara)

MuriaNewsCom, Semarang – Jumlah alat peringatan dini bencana alam di Jawa Tengah masih sedikit. Tahun lalu hanya ada lima alat yang dipasang pemprov. Penempatan alat tersebut difokuskan di daerah-daerah dengan kerawanan bencana paling tinggi.

Sekretaris Komisi E DPRD Jateng Hasan Asyari mengatakan, pihaknya mendorong agar pemprov Jateng berinovasi membuat alat EWS (early warning system) secara mandiri. Hal ini dilakukan, lantaran kerawanan bencana di provinsi ini sangat luas.

Ia menyebut, kalangan perguruan tinggi bisa digandeng untuk pembuatan EWS tersebut. Terlebih di perguruan tinggi di Jateng banyak banyak potensi SDM yang bisa digerakkan untuk melakukan penelitian dan merancang EWS.

“Dengan melibatkan mereka (perguruan tinggi), kami yakin alat peringatan bencana yang tepat guna, terjangkau, dan murah itu bisa dibuat,” katanya.

DPRD Provinsi Jateng juga mendorong pengembangan dan pelestarian kearifan lokal guna mengantisipasi bencana yang telah turun temurun di masyarakat yaitu ilmu mengetahui bencana dengan melihat tanda-tanda alam.

Sementara Kepala Pelaksana Harian BPBD Jateng Sarwa Pramana mengatakan, pemasangan EWS di Jateng dilakukan secara bertahap. Tahun lalu menurut dia, pihaknya memasang 5 unit EWS di lima kabupaten, yakni Karanganyar, Purworejo, Kebumen, Cilacap, dan Kabupaten Banyumas.

Ia mengakui jika pemasangan alat EWS tersebut masih sangat kurang jika dibandingkan dengan jumlah desa dan kecamatan di Provinsi Jateng yang terdampak banjir serta tanah longsor.

“Itukan (jumlah alat EWS yang dipasang) masih sangat sedikit, baru nol koma nol sekian persen,” ujarnya.

Sementara itu BPBD Jateng juga mencatat 32 daerah di Jateng rawan banjir dan longsor. Dari seluruh daerah ini hanya Kota Salatiga, Semarang, dan Tegal yang tidak begitu rawan.

Dari hasil pendataan, wilayah terdampak bencana banjir dan tanah longsor pada tahun ini, sebanyak 334 kecamatan dan 1.719 desa rawan banjir, sedangkan 335 kecamatan serta 1.594 desa rawan longsor.

Editor : Ali Muntoha

Komentar

komentar


    Print       Email


Artikel terkait lainnya

Banyak Tumbuhan Mati, DLH Grobogan Tanami lagi Kawasan Alun-alun Purwodadi

Selengkapnya →