Loading...
You are here:  Home  >  Regional  >  Grobogan  >  Artikel ini

Pasutri Asal Kenteng Grobogan Ini Meraih Sukses Setelah Ikut Program Transmigrasi. Begini Kisahnya



Reporter:    /  @ 17:13:02  /  11 Oktober 2017

    Print       Email

Abdullah dan Siti Inayah, pasutri asal Desa Kenteng, Kecamatan Toroh, Grobogan yang meraih sukses setelah ikut program transmigrasi. (istimewa)

MuriaNewsCom, Grobogan – Upaya untuk memperbaiki kondisi perekonomian keluarga selama ini bisa dilakukan dengan banyak cara. Salah satunya adalah mengikuti program transmigrasi ke luar Jawa.

Seperti yang dilakukan Abdullah (45) dan Siti Inayah (44), pasangan suami istri asal Desa Kenteng, Kecamatan Toroh, Grobogan. Meski sama-sama punya titel sarjana agama, pasutri yang saat itu sudah punya satu anak berusia dua bulan tersebut punya tekad tinggi untuk ikut program transmigrasi.

Setelah mendaftar, Abdullah dan keluarganya akhirnya mendapat kesempatan berangkat transmigrasi pada tahun 1999. Bersama rombongan lainnya, Abdullah ditempatkan di daerah terpencil di Desa Togomulyo, Kecamatan Petasia, Kabupaten Morowali (sekarang masuk wilayah Morowali Utara), Provinsi Sulawesi Tengah. Di lokasi penempatan, para transmigran mendapat jatah tanah garapan seluas 2 hektar dan rumah tinggal.

Setelah berupaya keras mengolah lahan garapan selama beberapa tahun, Abdullah akhirnya mendapat kesempatan diterima jadi PNS Kementerian Agama Kabupaten Morowali Utara tahun 2003. Bahkan, Abdullah yang saat ini menjabat sebagai pengawas tersebut juga mendapat kesempatan kuliah S2 di UIN Jogjakarta tahun 2009 dan lulus dua tahun kemudian.

Abdullah asal Desa Kenteng, Kecamatan Toroh, Grobogan yang meraih sukses setelah ikut program transmigrasi. (istimewa)

Kesempatan menjadi PNS juga diraih istrinya, Siti Inayah. Pada tahun 2006, Siti diterima jadi guru agama dan saat ini mengajar di SMKN 2 Bungku Utara, Kabupaten Morowali Utara.

Meski sudah jadi PNS, namun keduanya tetap menggeluti lahan pertanian dan peternakan. Saat ini, keduanya mengelola tanaman kakau atau coklat dan kelapa sawit. Selain itu, mereka juga masih memelihara sapi dan kambing.

“Beberapa waktu lalu, saya dan kepala dinas sempat mengunjungi Pak Abdullah saat melihat calon lokasi transmigrasi di Kabupaten Morowali Utara. Mereka berdua patut dijadikan motivator bagi calon transmigran lainnya. Yakni, mau bekerja keras ketika sudah sampai di lokasi penempatan,” kata Kabid Penempatan Tenaga Kerja dan Transmigrasi Disnaknertrans Grobogan Hadi Purmiyanto, Rabu (11/10/2017).

Selama tinggal di lokasi transmigrasi, pasangan Abdullah dan Siti Inayah dikaruniai dua anak lagi, laki-laki dan perempuan. Saat ini, putra pertama yang dulu diajak transmigrasi sudah kuliah semester tiga di Unida Gontor. Putra keduanya sekolah kelas III di SMA Gontor, dan putri bungsunya sekolah kelas I di SMP Gontor.

Siti Inayah asal Desa Kenteng, Kecamatan Toroh, Grobogan yang meraih sukses setelah ikut program transmigrasi. (istimewa)

Hadi menyatakan, Meski tidak segencar beberapa tahun lalu namun minat warga Grobogan orang untuk mengubah kondisi perekonomian lewat  program transmigrasi masih cukup tinggi. Hal ini bisa dibuktikan dengan masih banyaknya orang yang ingin ikut program tersebut.

”Ya, program transmigrasi ini memang masih cukup banyak peminatnya. Setiap tahun masih banyak orang yang mendaftar program ini dan  untuk saat ini sudah ada puluhan KK yang mendaftarkan diri,” jelasnya.

Program trasmigrasi ini mulai dikenalkan sekitar tahun 1970 lalu. Sejak tahun 1970 sampai sekarang setidaknya sudah lebih dari 7.000 KK yang ikut transmigrasi. Adapun daerah tujuan transmigrasi ini kebanyakan tersebar di wilayah Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi. 

Editor: Supriyadi

Komentar

komentar


    Print       Email


Artikel terkait lainnya

Petaka Mempermasalahkan Beda Kasta Tampak di Pementasan Teater Keset Kudus

Selengkapnya →