Loading...
You are here:  Home  >  Info Metro  >  Info Lainnya  >  Artikel ini

PWI Jateng : Polisi Penganiaya Wartawan di Banyumas Harus Ditindak Tegas



   /  @ 13:35:00  /  10 Oktober 2017

    Print       Email

Aparat kepolisian saat membubarkan aksi Komunitas Selamatkan Slamet di kantor Bupati Banyumas, Senin (9/10/2017) malam. (Istimewa)

MuriaNewsCom, Semarang – Aksi kekerasan terhadap wartawan saat meliput aksi demo Komunitas Selamatkan Slamet di kantor Bupati Banyumas, Senin (9/10/2017) malam, yang dilakukan aparat kepolisian, membuat banyak pihak geram.

Salah satunya Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Tengah yang menyatakan mengutuk  keras aksi tersebut. Tindakan kekerasan yang mengeryoyok dan menganiaya sejumlah wartawan dianggap telah melanggar UU Pers, karena menghalang-halangi kerja jurnalistik.

Ketua PWI Jateng Amir Machmud dalam keterangan tertulisnya mendesak aksi kekerasan tersebut diusut dengan tuntas, serta menindak tegas para pelaku kekerasan.

“Meminta kepada kapolres Banyumas dan bupati Banyumas untuk meminta maaf secara terbuka kepada insan pers di Banyumas khususnya, dan Indonesia pada umumnya,” katanya.

Pihaknya juga meminta kepada kapolres Banyumas dan bupati Banyumas untuk mengembalikan sejumlah barang milik wartawan yang diambil paksa  dalam peristiwa tersebut, serta mengganti kerusakan yang ditimbulkan.

“Kami mendesak Polres Banyumas menindak pelaku tindak kekerasan tersebut, baik perseorangan maupun kelompok sesuai dengan hukum yang berlaku. Termasuk memprosesnya dengan mekanisme Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers,” ujarnya.

PWI juga mengimbau kepada masyarakat, terutama pejabat pemerintah dan aparat keamanan untuk membudayakan sikap mendahulukan dialog ketimbang kekerasan dalam hal apa pun.

Peristiwa kekerasan ini terjadi sekitar pukul 22.00 WIB, saat sejumlah wartawan dari berbagai media meliput pembubaran aksi demo warga penolak pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) di Baturraden.

Baca : BRUTAL, Detik-Detik Wartawan Darbe Dipukuli Ketika Liputan Demo PLTPB Banyumas

Sejak pukul 10.00 WIB, wartawan media cetak, online, televisi, dan radio Banyumas meliput  aksi Komunitas Selamatkan Slamet, yang dimulai dari Kampus IAIN Purwokerto hingga Alun-alun Purwokerto.

Ratusan orang dari berbagai elemen di dalam komunitas tersebut meminta agar Bupati Achmad Husein membuat rekomendasi kepada Presiden RI Joko Widodo untuk menghentikan pembangunan PLTP di Baturraden.

Pembangunan itu dinilai menyebabkan kerusakan lingkungan, yang akan berdampak kepada warga, terutama terkait sumber air bersih dari hutan Gunung Slamet. Beberapa waktu belakangan, air berubah keruh sehingga tidak bisa digunakan.

Tidak ditemukan kata sepakat antara Aliansi Selamatkan Slamet dengan Pemerintah Kabupaten Banyumas. Peserta aksi bertahan di sebelah utara alun-alun hingga Senin malam dengan mendirikan tenda. Sekitar pukul 22.00 WIB, aparat kepolisian dan Satpol PP berupaya membubarkan massa.

Pada saat itulah, menurut kesaksian Agus Wahyudi dan Dian Aprilianingrum (Suara Merdeka), M Wahyu Setiya Putra (Radar Banyumas), Aulia El Hakim (Satelit Pos), dan Darbe Tyas (Metro TV), polisi menghalang-halangi wartawan dengan meminta untuk tidak mendokumentasikan pembubaran massa. Darbe Tyas dipukuli oleh oknum polisi dan Satpol PP, sehingga mengalami luka-luka. Kameranya juga dirampas.

Atas kejadian tersebut, PWI Provinsi Jawa Tengah menyampaikan keprihatinan yang mendalam, dan mengutuk keras sebagai perilaku yang menghalang-halangi wartawan dalam menjalankan tugas profesinya untuk mencari berita. Dalam menjalankan tugas profesinya wartawan dilindungi oleh Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Editor : Ali Muntoha

Baca : Wartawan jadi Korban saat Kericuhan Demo PLTPB di Banyumas Semalam

Komentar

komentar


    Print       Email


Artikel terkait lainnya

Hidup Seorang Diri, Nenek 80 Tahun di Jepara Tergolek Sakit di Ranjang Kayu Selama 7 Bulan

Selengkapnya →