Loading...
You are here:  Home  >  Info Muria  >  Artikel ini

Begini Makna Hari Batik Nasional di Kalangan Kawula Muda Jepara



Reporter:    /  @ 13:31:55  /  2 Oktober 2017

    Print       Email

Para pembatik Jepara menuangkan aspirasinya dalam batik payung, Senin (2/10/2017). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Hari ini Senin (2/10/2017) diperingati sebagai Hari Batik Nasional. Lalu bagaimanakah pendapat kawula muda Jepara terkait peringatan tersebut?

Mbak Duta Wisata Regina Lulu Fani (19) mengatakan, Hari Batik Nasional merupakan momen agar kawula muda lebih mengenal dan suka dengan jenis pakaian tersebut. 

“Kita generasi muda hendaknya juga ikut melestarikan batik, kain jenis ini hendaknya tak hanya digunakan untuk orang tua akan tetapi juga bagi kita yang anak muda,” katanya, Senin (2/10/2017). 

Ia mengaku satu diantara upaya pelestarian batik pada kalangan anak muda adalah memakainya secara reguler. Regina berkata, seminggu sekali ia selalu mengenakan batik. 

“Seminggu sekali, terutama hari Kamis, setiap saya ke kampus pasti diwajibkan memakai batik. Nah untuk itu saya selalu memakainya dan kini saya sudah memunyai lima pasang batik, dari Solo, Pekalongan dan tentu saja motif Jepara,” tambahnya. 

Dirinya mengatakan, batik motif Jepara memunyai keunggulan tersendiri. Hal itu dilihat dari motif ukiran yang tercetak diatas kain disamping itu, batik tersebut juga memunyai warna yang khas. 

Pemudi lain, Refi Prastika (20) mengatakan kain batik baginya telah menjadi bagian dari hidupnya. Lantaran, di tengah kesibukannya kuliah ia nyambi sebagai pembatik.

“Saya bisnis kecil-kecilan hijab namun coraknya menggunakan teknik batik jumput,” urainya.

Refi mengaku, banyak anak-anak muda yang tertarik dengan batik kreasinya. Hal itu karena di pasaran jarang ditemui hijab atau jilbab bermotif tersebut. 

Terkait hari batik nasional, ia sangat mengapresiasinya. Namun kedepan ia berharap promosi akan kain tersebut lebih masih dan sifatnya kekinian. 

“Contohnya dengan penerapan motif yang disukai anak-anak muda. Ataupun penerapan kebijakan berbatik untuk anak sekolah sampai universitas. Yang lain bisa mengadakan peragaan busana atau lomba-lomba batik. Hal lain adalah harganya, jangan terlalu mahal agar masyarakat bawah bisa menjangkaunya,” ungkap alumni SMKN 2 Jepara itu. 

Hal serupa diungkapkan Rita Sugianingsih (19), perempuan yang juga perajin batik ciprat itu ingin agar kawula muda tidak meninggalkan batik.

“Batik bisa sebagai bisnis, asalkan kita berani beda dan menciptakan produk yang berbeda dari pasaran pasti dilirik orang,” tuturnya.

Penetapan tanggal 2 Oktober sebagai Hari Batik Nasional didasarkan atas penetapan batik oleh UNESCO sebagai Warisan kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi, di tahun 2009.

Editor: Supriyadi

Komentar

komentar


    Print       Email


Artikel terkait lainnya

Presiden Jokowi Bakal Hadiri MQK ke-VI di Ponpes Balekambang Jepara

Selengkapnya →