Loading...
You are here:  Home  >  Info Jateng  >  Artikel ini

Lihat Konveksi Jeans Pemalang yang Pernah Jaya Kini Terpuruk, Ganjar Langsung Begini



   /  @ 15:00:23  /  27 September 2017

    Print       Email

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo saat mengunjungi industri konveksi di Desa Rowosari, Kecamatan Ulujami, Kabupaten Pemalang, Rabu (27/9/2017). (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Pemalang – Industri konveksi di Desa Rowosari, Kecamatan Ulujami, Pemalang, pernah Berjaya dengan produk jeans. Produk ini tersebar di seluruh wilayah Indonesia, dan mampu mempekerjakan ribuan orang.

Namun kini industri konveksi tersebut mulai terpuruk. Era kejayaannya pada tahun 2000-2003 seolah semakin memudar. Pamor jeans lokal tersebut mulai terkepung dengan pabrikan sehingga permintaan terus menurun.

Produksi mereka hanya mengandalkan pesanan dari distributor di berbagai daerah. Melihat kondisi ini, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo yang melakukan kunjungan ke sentra industri ini, Rabu (27/9/2017) merasa prihatin.

Menurut Ganjar, Rowosari memiliki potensi yang sangat hebat karena di desa itu terdapat 21 cluster konveksi. “Ini kan industri level desa tapi barangnya sudah menyebar di seluruh Indonesia,” katanya. 

Tercatat ada 146 pengusaha dengan serapan tenaga kerja mencapai 1.092 orang. Namun, karena produsen tidak mengorganisir diri dan pola penjualan masih konvensional maka hasil yang dicapai tidak maksimal.

Ganjar meminta para pengusaha untuk semakin melek dengan perkembangan era digital saat ini. Menurutnya, pengusaha konveksi bisa memanfaatkan sistem online sebagai strategi marketing.

“Produsen bisa membuat website, bergabung di toko online, atau memanfaatkan Sadewa Mart yang dikelola Pemprov Jateng,” paparnya.

Ia berharap agar produsen konveksi di Rowosari lebih melek teknologi, sehingga rantai penjualannya lebih efektif dan efisien.

Bukan hanya di bidang marketing saja, Ganjar juga meminta produsen lebih kreatif. Jika selama ini hanya membuat celana jeans, produsen perlu melakukan diversifikasi produk.

“Misalnya mereka bisa membuat sarung, tas, atau barang lain berbahan jeans,” kata politisi PDIP ini.

Dikatakan Ganjar, untuk peningkatan produksi diperlukan juga peremajaan alat kerja dan sokongan modal. Untuk permodalan, lanjutnya, produsen bisa menjalin kerja sama dengan lembaga perbankan.

“Misal dengan Bank Jateng melalui program Mitra Jateng. Selain kredit berbunga lunak program ini juga ramah untuk pengusaha,” jelasnya.

Dia yakin dengan tata kelola yang tepat serta pendampingan pemerintah, sentra industri konveksi Rowosari akan bangkit kembali.

Salah satu pengusaha konveksi asal Rowosari, Haji Maskuri mengatakan pada tahun 2000 hingga 2003 pihaknya mampu menjual hingga 500 potong celana jeans per hari. Keuntungan besar diraupnya selain karena order yang banyak juga kondisi ekonomi yang mendukung.

Sedang saat ini, ia hanya mampu menjual maksimal 100 celana jeans dengan harga jual berkisar antara Rp 60 ribu hingga Rp 100 ribu. Maskuri mengatakan jeans merek Navala yang diproduksinya dijual hingga Jakarta, Surabaya, Solo, dan beberapa daerah di Kalimantan.

“Harga kain yang tak menentu, persoalan tenaga kerja juga membuat kami pusing,” paparnya. 

Editor : Ali Muntoha

Komentar

komentar


    Print       Email


Artikel terkait lainnya

Asyiknya Nge-Jazz Sambil Berkubang Lumpur

Selengkapnya →