Loading...
You are here:  Home  >  Regional  >  Grobogan  >  Artikel ini

Otodidak, Petani Asal Grobogan Ini Sukses Budidayakan Kembang Kol di Dataran Rendah



Reporter:    /  @ 19:25:46  /  15 September 2017

    Print       Email

Rofiq (pegang kembang kol) bersama pekerja sedang melangsungkan panen di areal sawahnya di Dusun Permas, Desa Kronggen, Kecamatan Brati, Jumat (15/9/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, GroboganHamparan tanaman kembang kol tumbuh subur di sebuah areal persawahan di Dusun Permas, Desa Kronggen, Kecamatan Brati, Grobogan. Meski tumbuh dengan baik, namun keberadaan tanaman yang lazim ada di dataran tinggi ini memang terlihat aneh.

“Saat ini, cuma saya satu-satunya petani yang mencoba menanam kembang kol. Petani lainnya, masih setia tanam palawija, baik kacang hijau atau jagung,” kata Rofiq, pemilik lahan kembang kol yang ditemui di areal sawahnya, Jumat (15/9/2017).

Rofiq sengaja menanam kembang kol lebih disebabkan rasa penasaran. Selama ini, kembang kol hanya ditanam oleh petani di dataran tinggi saja.

Sementara di dataran rendah jarang sekali petani ditemukan tanaman kembang kol di areal sawah. Lebih-lebih, pada saat musim kemarau seperti sekarang.

Padahal, pangsa pasar kembang kol di Grobogan dinilai masih cukup menjanjikan. Hal itu dilihat dari banyaknya menu makanan yang menggunakan bahan kembang kol di berbagai rumah makan maupun saat pesta hajatan.

“Dari gambaran ini, akhirnya saya nekat pingin nanam kembang kol. Saya mau coba apakah tanaman yang banyak ditemukan di dataran tinggi itu bisa tumbuh dilahan keras pada dataran rendah seperti di sini,” jelas bapak satu anak itu.

Selepas lebaran Idul Fitri, Rodiq mulai mempersiapkan lahan seluas 2.500 meter persegi. Setelah siap, ia pun mulai menanam benih di areal sawahnya.

Dalam perjalanan, Rofiq sempat menemukan kendala. Yakni, munculnya hama ulat yang melahap daun kembang kol. Namun, kendala itu akhirnya bisa diatasi setelah mencari informasi cara penanganan dan mendapat bimbingan penyuluh dari Dinas Pertanian Grobogan.

Setelah berusia 55 hari, sebagian tanaman sudah menghasilkan kembang kol dengan ukuran cukup besar. Hasilnya, tidak kalah jauh dengan kembang kol yang ditanam di dataran tinggi. Kondisi ini membuat Rofiq merasa puas karena rasa penasarannya akhirnya terobati.

Beberapa hari lalu, Rofiq dibantu beberapa orang pekerja mulai panen kembang kol. Panen perdana dapat kembang kol hampir satu kuintal. Hasil panen pertama sudah ditampung pembeli dengan harga Rp 9.000 per kilo.

Saat ini, Rofiq kembali panen kembang kol untuk kedua kalinya. Hasil panen kedua bisa dapat hampir empat kuintal. Sayangnya, saat panen kedua harga jualnya turun jadi Rp 7.000 per kilo.

“Meski turun, masih ada keuntungan kok. Apalagi, tanaman belum seluruhnya dipanen. Saya perkirakan masih panen dua sampai tiga kali lagi. Panen kembang kol ini tidak bisa dilakukan serempak seperti panen jagung atau padi. Tetapi diambil yang bunganya sudah maksimal pertumbuhannya,” jelasnya.

Editor: Supriyadi

Komentar

komentar


    Print       Email


Artikel terkait lainnya

Panggil DPN APTRI, KPPU Tindak Lanjuti Dugaan Monopoli Gula yang Dilakukan Bulog

Selengkapnya →