Loading...
You are here:  Home  >  Regional  >  Grobogan  >  Artikel ini

Pengunjung Obyek Wisata Waduk Kedungombo Tembus 100 Ribu Orang Tiap Tahun



Reporter:    /  @ 07:30:04  /  13 September 2017

    Print       Email

Pengunjung sedang berfoto ria di lokasi wisata Waduk Kedungombo sebelum ditutup. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, GroboganTidak berlebihan jika penutupan obyek wisata Waduk Kedungombo (WKO) memantik reaksi dari berbagai pihak. Terutama, dari mereka yang selama ini sudah jadi langganan berwisata ke obyek wisata di Desa Rambat, Kecamatan Geyer tersebut.

Dari data yang didapat, jumlah pengunjung wisata di Waduk Kedungombo angkanya cukup tinggi. Tiap tahun wisatawan yang datang ke Waduk Kedungombo lebih dari 100 ribu orang.

Dengan banyaknya pengunjung sebesar ini maka tidak heran jika penutupan Waduk Kedungombo yang dilakukan sejak Minggu (3/9/2017) masih jadi trending topic sampai sekarang.

”Perlu diketahui, Waduk Kedungombo selama ini jadi andalan destinasi wisata di Grobogan. Oleh sebab itu, kami sangat menyayangkan penutupan Waduk Kedungombo untuk akses wisata. Meski kami tidak ikut mengelola, namun Waduk Kedungombo sudah jadi ikon wisata Kabupaten Grobogan,” kata Kabid Pariwisata Disporabudpar Grobogan Jamiat, Selasa (12/9/2017).

Dijelaskan, dari data yang dimiliki, sepanjang Januari-Juli 2017, jumlah pengunjung Waduk Kedungombo sebanyak 82.170 orang. Sedangkan, jumlah pengujung tahun 2016 lalu ada 114.467 orang. Jumlah pengunjung paling banyak tercatat tahun 2012 sebanyak 212.514 orang.

Menurut Jamiat, pengunjung Waduk Kedungombo jauh lebih besar dibandingkan pada obyek wisata yang dikelola Pemkab. Seperti Bledug Kuwu yang jumlah pengunjung tertinggi hanya 44.693 orang saja. Sedangkan pengunjung tertinggi di goa lawa dan goa macan ada 2.565.

Selain pemandangan, menu ikan bakar khas Waduk Kedungombo menjadi salah satu daya tarik pengunjung. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Dengan banyaknya pengunjung maka pendapatan retribusi yang didapat pengelola Waduk Kedungombo dinilai cukup besar. Dengan pengunjung diatas 100 ribu orang maka pendapatan yang didapat bisa mencapai Rp 400 juta lebih tiap tahun. Pendapatan ini dihitung dengan asumsi karcis retribusi terendah sebesar Rp 4 ribu per orang pada hari biasa.

“Kalau masalah pendapatan kami tidak tahu. Sejak 2012, Pemkab Grobogan sudah tidak terlibat dalam pengelolaan wisata Kedungombo,” jelas Jamiat.

Terkait dengan penutupan tersebut, Jamiat menyatakan, pihaknya sudah datang ke kantor Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana di Semarang untuk mencari tahu latar belakang penutupan Kedungombo untuk akses wisata. Hal itu perlu dilakukan karena penutupan Kedungombo yang ada di wilayah Grobogan bakal berdampak cukup besar. Khususnya dari sektor pariwisata karena banyak warga Grobogan yang ikut mencari nafkah dari banyaknya pengunjung wisata Kedungombo.

”Beberapa hari lalu, kami sudah bertemu dengan pihak BBWS Pemali Juana. Kami ingin tahu duduk persoalannya dan membuka kesempatan untuk dilibatkan dalam pengelolaan wisata Kedungombo kedepannya,” ungkap Jamiat.

Sebelumnya, Kasi Pidana Khusus Kejari Grobogan Bangun Setyabudi menyatakan, pendapatan dari retribusi yang dikelola Koperasi Jratun Seluna selama ini selalu dibukukan. Penarikan retribusi juga dilengkapi dengan karcis serta kwitansi. Tiap tahun, keuntungan yang disetorkan sebesar Rp 30 juta.

Editor: Supriyadi

Komentar

komentar


    Print       Email


Artikel terkait lainnya

Pemerintah Desa Tlogitirto Grobogan Masukkan Program Droping Air Lewat APBDes

Selengkapnya →