Loading...
You are here:  Home  >  Regional  >  Grobogan  >  Artikel ini

Begini Cerita Budi Santoso Hingga Terinspirasi Bikin Kaki Palsu dari Barang Bekas



Reporter:    /  @ 19:43:02  /  7 September 2017

    Print       Email

Dina Rizqi Mariadi (kanan) dan Heri Saputra (kiri), dua sahabat Budi Santoso yang membantu membikin kaki palsu dari barang bekas. (MurianewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Pembuatan kaki palsu dari bahan daur ulang yang dilakukan Budi Santoso, warga Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus belum berlangsung lama. Awal permbuatan dilakukan sekitar satu tahun lalu, sekitar bulan September 2016.

Saat membikin edisi perdana, rencananya hanya akan dipakai sendiri. Namun, proses untuk membuat satu kaki palsu itu ternyata tidak mudah.

Berulang kali, rangkaian kaki palsu harus dibongkar karena dianggap kurang nyaman. Berkat kemauan keras, kaki palsu pertama yang dibikin secara otodidak akhirnya berhasil dibuat.

”Kaki palsu pertama butuh waktu pembuatan sekitar dua minggu. Setelah jadi, saya pakai sendiri sampai sekarang. Meski sudah satu tahun, kaki palsu ini tetap nyaman dan tidak rusak,” kata pemuda 22 tahun itu sambil menunjukkan kaki palsu edisi perdana yang dipakainya.

Baca Juga: Hebat!! Penyandang Difabel dari Banjarejo Grobogan Ini Berhasil Bikin Kaki Palsu dari Barang Bekas

Setelah punya kaki palsu sendiri, Budi kemudian merantau ke Samarinda, Kalimantan Timur. Budi sempat bekerja di bengkel milik saudaranya di Samarinda selama hampir 4 bulan.

Setelah itu, ia balik lagi ke kampung halamannya dan membuka kios distro di Jalan Honggokusuman, Desa Kuwu, Kecamatan Kradenan, Grobogan.

Sekitar bulan April, mulai ada order pembuatan dari sesama penyandang difabel. Satu persatu, permintaan itu dilayani dengan senang hati.

Untuk pembuatan kaki palsu, Budi tidak pernah mematok harga. Bahkan, beberapa penyandang difabel dikasih kaki palsu cuma-cuma karena kondisinya memang tidak mampu. Padahal, untuk pembuatan kaki palsu butuh dana yang tidak sedikit meski bahannya dari barang bekas.

Pembuatan kaki palsu dilakukan disebuah gazebo sederhana yang ada di belakang kios distronya. Pada tembok gazebo ada tulisan dari cat berbunyi ‘Nekat Harapan’. Saat ini, Budi dibantu dua orang karena pesanan terus datang.

Yakni, adik sepupunya Dina Rizqi Mariadi (19) dan sahabat setianya Heri Saputra (17). Keduanya, sama-sama orang dari Desa Banjarejo.

Menurut Budi, kedua orang itu dinilai punya andil besar dalam perjalanan hidupnya. Keduanya selalu memberikan semangat dan mendampinginya setelah ia tertimpa kecelakaan lalu lintas bulan Juli 2016 lalu.

Peristiwa memilukan itu masih terkenang dalam ingatannya. Ceritanya, waktu itu Budi sedang melintas di jalan Purwodadi-Blora mengendarai motor. Sesampai di depan SPBU Ngaringan, ia ditabrak pemotor lainnya yang melaju di belakangnya.

Akibat kejadian itu, Budi terlempar dari motornya dan masuk ke kolong truk tronton yang melaju dari arah berlawanan. Budi masih ingat detik-detik ketika roda tronton menggilas kaki kirinya.

Meski sempat mendapat perawatan medis, namun kaki kirinya gagal diselamatkan. Oleh dokter, kaki kirinya harus diamputasi hingga diatas lutut.

“Setelah diamputasi, saya sempat stres berat sampai satu bulan. Selama masa itulah, kedua sohib saya inilah yang selalu memberikan semangat. Akhirnya, saya bisa bangkit dan berhasil membikin kaki palsu ini,” kata lulusan SMK Pembangunan Nasional Purwodadi tahun 2014 itu.

Meski bisa bikin kaki palsu namun masih ada beberapa harapan yang diinginkan Budi. Yakni, ada lembaga yang bisa menguji kaki palsu bikinannya sehingga punya sertifikasi.

Selain itu, ia juga punya kendala dalam masalah peralatan untuk membuat kaki palsu. Selama ini, memang sudah ada pihak yang membantu peralatan. Namun, jumlahnya belum memadai karena pesanan kaki palsu terus berdatangan.

Editor: Supriyadi

Komentar

komentar


    Print       Email


Artikel terkait lainnya

Pemkab Kudus Anggap Kenaikan Harga Jelang Akhir Tahun Wajar

Selengkapnya →