Loading...
You are here:  Home  >  Info Jateng  >  Artikel ini

Nenek Kutuk Kampung di Brebes Ini jadi Daerah Sulit Air Bersih



   /  @ 15:52:19  /  7 September 2017

    Print       Email

Foto Ilustrasi. Warga berebut air bersih yang dibagikan, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Brebes – Musim kemarau telah melanda beberapa wilayah. Termasuk di Kabupaten Brebes. Meski demikian, selain faktor musim, ternyata ada juga yang mengaitkan kekeringan dengan kutukan seorang nenek.

Yaitu di Dukuh Wangon, Desa Kubangsari, Kecamatan Ketanggungan. Di dukuh itu beredar cerita, kekeringan yang terjadi sampai sekarang merupakan bentuk dari kutukan. Dulunya, warga Pedukuhan Wangon memiliki sumber air seperti kampung pada umumnya. Tapi semuanya berubah akibat adanya kutukan.

Baca : Begini Penampilan Polwan Cantik Saat Nyamar Jadi PSK dan Bekuk Mucikari di Rames Pati 

Kepala Desa Kubangsari, Tarlan Kurniawan, Kamis (7/9/2017), mengatakan, warga masih mempercayai adanya kekeringan di dukuh juga karena kutukan. “Pedukuhan ini konon dikutuk sehingga tidak memiliki kandungan air di dalam tanahnya,” kata Tarlan.

Semua itu akibat kutukan seorang nenek. Ketika itu, ada seorang nenek yang sedang melakukan perjalanan. Setibanya di Wangon, nenek merasa lelah. Nenek juga merasa sangat dahaga. Dengan langkah lemahnya, nenek mendatangi sejumlah rumah warga untuk minta air.

Dari rumah-rumah yang didatangi itu, pemilik tak juga memberikan air barang setetes kepada si nenek. Nenek pun kesal. Dari mulutnya terucap jika tempat ini tak akan ada air sampai kapan pun. Jadilah sampai sekarang, krisis air bersih masih belum hilang dari dukuh tersebut. Bahkan, sejumlah bantuan untuk menemukan sumber air telah dilakukan pemerintah. Tapi lagi-lagi sumber air tak juga dilakukan.

Baca : Listik 5 Desa di Pati Kota Akan Dipadamkan 8 Jam, Ini Penjelasannya

Beberapa tahun lalu ada pihak swasta yang pengalaman menggarap proyek air bersih ingin membantu warga mengebor, biar dapat air bersih. Bahkan dengan lantang, penyedia jasa pencari sumber air itu rela tak dibayar bila belum menemukan air.

Di lapangan, alat canggih dan pekerja telah dikerahkan. Hingga kedalaman 120 meter, air bersih tak juga muncul. Aksi pengeboran yang dilakukan itu juga bukan kali pertama di Wangon. Tapi sudah ada beberapa perusahaan pencari sumber air yang lebih dulu, dan hasilnya gagal.

Camat Ketanggungan, Laode Aris Vindar mengatakan, sumber air tidak ada sama sekali di Wangon. Padahal di daerah tetangga terdapat sumber air. Maka, pemerintah membangun instalasi air di desa tetangga, Luwung Gede. Dari desa itu, warga bisa mendapatkan pasokan air. Setelah sebelumnya dibuatkan pipa yang menyalurkan air dari Luwung Gede ke Wangon dengan panjang sekitar 3 km.

“Warga Wangon yang ingin menikmati air bersih harus membayar Rp 500 per jeriken. Uang yang terkumpul nantinya untuk biaya perawatan instalasi, dan kebutuhan bahan bakar mesin penyedot air, “ ujarnya.

Editor : Akrom Hazami

Komentar

komentar


    Print       Email


Artikel terkait lainnya

Fasbuk Siap Lantunkan Kedamaian Lewat Sastra

Selengkapnya →