Loading...
You are here:  Home  >  Regional  >  Grobogan  >  Artikel ini

Pengangkatan Fosil Purbakala di Banjarejo Grobogan Ternyata Cukup Ribet, Begini Prosesnya



Reporter:    /  @ 20:01:57  /  6 September 2017

    Print       Email

Salah seorang tim ahli menuangkan cairan kimia pada fosil gading gajah purba yang akan diangkat dari lokasi penemuan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, GroboganProses pengangkatan fosil hewan purba dari lokasi penemuan ternyata tidak semudah yang dibayangkan banyak orang. Selain butuh waktu lama, proses pengangkatan itu melalui beberapa tahapan yang harus dikerjakan dengan teliti dan hati-hati.

Dari pantauan di lokasi, pada tahap awal, tim ahli membersihkan dulu sisa sedimen yang masih menempel pada fosil. Setelah itu, dipasang papan pembatas di sekeliling fosil yang akan diangkat.

Kemudian, fosil yang sudah ada dalam kotak kayu ditutup dengan kertas koran. Selanjutnya, dituangkan cairan kimia polyurethane diatas lembaran koran yang menutup fosil tersebut. Fungsi koran ini sebagai pelapis agar cairan kimia tidak menembus fosil.

Baca Juga: Temuan Fosil Hewan Purba di Banjarejo Grobogan Mulai Diangkat

Beberapa saat setelah dituangkan, cairan itu akan mengembang dan membuih membentuk seperti busa. Proses penuangan cairan kimia dilakukan beberapa kali hingga seluruh kotak tertutup busa.

Tahapan ini, prosesnya hampir mirip seperti menuangkan adukan pasir dan semen atau cor beton saat membuat fondasi bangunan.

Selang waktu 10 menit, busa itu akan mengeras. Setelah itu, papan kayu yang sebelumnya dipakai untuk pembatas dibongkar. Saat papan hilang, fosil tidak lagi terlihat bentuk aslinya karena tertutup busa yang kondisinya sudah mengeras.

Sepintas, fosil yang terbungkus busa bentuknya mirip seperti sebatang balok kayu.

“Proses pengangkatan fosil tidak bisa dilakukan seperti mengambil sebuah barang biasa. Ada prosedur yang harus dilakukan dan butuh kehati-hatian,” jelas Albertus Nico, staf perlindungan BPSMP Sangiran yang memimpin pengangkatan fosil di Banjarejo, Rabu (6/9/2017).

Menurut Nico, penggunaan cairan kimia itu bertujuan untuk meminimalkan risiko kerusakan pada fosil yang akan diangkat dari lokasi penemuan. Seperti, resiko terjatuh atau kena getaran saat dibawa ke tempat penampungan sementara. Fosil yang terbalut busa akan tetap utuh seperti aslinya.

Setelah diangkat, fosil memang dibawa ke rumah penduduk terdekat dengan lokasi penemuan, sebelum nantinya diangkut ke rumah Kades Banjarejo Ahmad Taufik. Perjalanan menuju tempat penampungan sementara juga butuh kewaspadaan.

Selain lokasinya cukup jauh dari jalan raya, yakni sekitar 500 meter, fosil yang ukurannya besar harus dipikul oleh empat orang melalui jalan pertanian hingga tempat penampungan sementara.

Editor: Supriyadi

Komentar

komentar


    Print       Email


Artikel terkait lainnya

Kosek Kos-kosan dan Penginapan, 9 Pasangan Mesum di Grobogan Terjaring

Selengkapnya →