Loading...
You are here:  Home  >  Info Metro  >  Info Lainnya  >  Artikel ini

Khatib Salat Jumat Tempat Aksi Rohingya Diminta Galang Dana



   /  @ 19:05:44  /  6 September 2017

    Print       Email

Pelajar Sekolah Islam Terpadu Bina Amal Semarang, menggalang dana guna membantu etnis Rohingya di Myanmar. (Antarajateng.com)

MuriaNewsCom, Semarang – Kapolda Jawa Tengah Irjen Pol Condro Kirono memastikan, meski aksi ”kepung Borobudur” batal dilaksanakan, status siaga satu tetap dilaksanakan. Pihaknya akan mengerahkan ribuan personel untuk melakukan pengamanan.

”Kami akan mengerahkan 25 satuan setingkat kompi (SSK) unyuk pengamanan pada 8 September 2017,” kata Kapolda usai mengikuti rapat koordinasi Forkompinda di kompleks Kantor Gubernuran, Jalan Pahlawan, Semarang, Rabu (6/9/2017).

Sekitar 2.200 personel kepolisian dan 300 personel TNI akan disiagakan untuk melakukan pengamanan baik di kawasan Borobudur dan perbatasan. Candi ini pada Jumat lusa akan ditutup untuk wisatawan perorangan.

Aksi solidaritas sendiri yang rencananya digelar di Candi Borobudur dialihkan di Masjid An Nur, Mungkid, Magelang. Dalam aksi itu nantinya hanya tak boleh ada orasi, dan setelah salat gaib dan salat Jumat, massa harus membubarkan diri.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Tengah, Ahmad Darodji mengatakan, khatib salat Jumat di masjid yang dilakukan untuk aksi simpatik diharapkan meyerukan perdamaian.

”Jika memungkinkan, kotak amal yang diedarkan bisa diusahakan untuk melaksanakan penggalangan dana kepada umat muslim Rohingya,” ujarnya.

Baca : Aksi Bela Rohingya Dialihkan, Borobudur Tetap Ditutup untuk Wisatawan Perorangan

Sementara Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Jateng, Mudjahirin Tohir mengatakan, kondisi yang menimpa umat muslim Rohingya di Myanmar bisa dijadikan momentum pemersatu umat.

Pihaknya akan mengusahakan pembentukan paguyuban yang berisikan lintas agama di tingkat kabupaten dan di bawahnya untuk menjaga komunikasi yang lebih baik.

Saat ditanya apakah sudah ada aksi ancaman kepada umat Budha, Mudjahirin mengaku tidak ada sama sekali. Pasalnya di Jateng dianggap menjadi wilayah yang masih kondusif dan masih memiliki nilai toleransi yang tinggi.

“Ke depan tingkat kecamatan perlu dilakukan pembentukan paguyuban lintas agama untuk mempermudah komunikasi,” terangnya.

Editor : Ali Muntoha

Komentar

komentar


    Print       Email


Artikel terkait lainnya

Jemaah Umrah di Pati Gelar Aksi Solidaritas Kedaulatan Palestina dan Yerusalem

Selengkapnya →