Loading...
You are here:  Home  >  Info Metro  >  Info DPRD  >  Artikel ini

Jaring Gillnet Bantuan Pemerintah Banyak yang Dijual Nelayan, Ini Penyebabnya



   /  @ 12:03:30  /  5 September 2017

    Print       Email

Sejumlah kapal cantrang bersandar di kawasan TPI Tasikagung Rembang beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Semarang – Jaring gillnet bantuan pemerintah untuk nelayan sebagai pengganti jaring cantrang, banyak yang tak digunakan. Bahkan bebarapa nelayan di Jawa Tengah, terpaksa menjual jaring tersebut karena nelayan merasa kesusahan menggunakan jaring itu.

Penyebabnya, jaring gillnet mempunyai mata jaring yang besar, sehingga tak bisa digunakan di Perairan Utara Jawa. Akibatnya mereka tak melaut, karena tak bisa menggunakan gillnet dan juga tak berani menggunakan cantrang. Keluhan ini pun disampaikan para nelayan kepada Komisi B DPRD Jawa Tengah.

Nelayan asal Pati, Rasmijan mengatakan, jaring gillnet memang sulit digunakan di perairan Utara Jawa. Sementara jika harus ke peraian lain, biaya yang dikeluarkan terlalu besar, dan hasilnya tak sepadan.

“Untuk melaut di Perairan Utara Jawa modal perbekalan yang harus dikeluarkan antara 100 sampai 150 juta, sementara hasilnya hanya sekitar Rp 50 juta, lama kelamaan kami bangkrut,” katanya.

Ia juga mengaku, banyak nelayan penerima bantuan Gillnet sudah menjual jaring yang dimiliki karena setelah diujicoba tetap kesulitan mengoperasikan dan pendapatannya sangat kecil.

“Menurut saya, Menteri KKP dan jajaran birokrasi di KKP tidak memahami situasi lapangan di mana nelayan berada. Nelayan bisa mati karena kebijakan,” ujarnya.

Beberapa nelayan di Demak, bahkan harus beralih profesi dengan bekerja serabutan untuk menyambung hidup, lantaran tak bisa melaut. Masnuah, pendamping nelayan asal Demak menyebut, beberapa nelayan kini bekerja sebagai buruh bangunan.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Jateng, Lalu M Syafriadi tak terkejut dengan kabar jaring bantuan yang banyak dijual. Ia mengaku sudah mengetahui informasi ini.

“Berdasarkan pantauan yang kami lakukan, memang benar banyak nelayan yang sudah menjual gillnet tersebut,” terangnya.

Ia menyebut, sikap nelayan tersebut diaebabkan rasa frustrasi dalam menggunakan alat tangkap baru yang tidak kunjung mendapatkan hasil, sebagaimana menggunakan alat tangkap yang lama.

”Ini karena sosialisasi dan pelatihan dari pusat yang kurang. Kalau pelatihannya cukup , saya yakin masyarakat bisa menerima,” pungkasnya.

Editor : Ali Muntoha

Komentar

komentar


    Print       Email


Artikel terkait lainnya

Terpeleset, Penjaga Pintu Bendung Klambu Grobogan Hanyut di Sungai Lusi

Selengkapnya →