Loading...
You are here:  Home  >  Info Muria  >  Artikel ini

Ini Asal Mula Tradisi Perang Obor Jepara



Reporter:    /  @ 17:43:42  /  4 September 2017

    Print       Email

Para peserta perang obor saling memukulkan api saat acara perang obor tahun lalu. (MuriaNewsCom/Padang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Malam nanti Senin (4/9/2017) tradisi Perang Obor akan dilaksanakan di Desa Tegalsambi, Kecamatan Tahunan, Jepara. Even tahunan ini selalu dilaksanakan bertepatan dengan bulan besar (Dzulhijah) penanggalan Jawa pada Malam Selasa Pon.

Bukan sekedar tradisi, acara ini juga memiliki makna untuk saling memupuskan dendam. Lalu bagaimana asal mula kegiatan ini?

Sutiyo kamituwa (perangkat) Desa Tegalsambi menuturkan, tradisi ini telah bermula pada sekitar abad 16. Saat itu ada kisah peperangan antara majikan dan penggembala sapi. 

“Alkisah dulu ada yang bernama Kyai Babadan yang memiliki banyak hewan ternak. Oleh karenanya ia menyewa tenaga seorang penggembala yakni Mbah Gemblong untuk merawat hewan peliharaannya. Namun tak disangka, alih-alih menggembalakan ternak, Mbah Gemblong justru sibuk memancing di sungai kembangan, sehingga ternaknya terbengkalai. Marahlah Kyai Babadan dan menyabet Mbah Gemblong dengan bara api. Dan dibalas oleh yang dilempar. Dari situ awal mula tradisi itu bermula,” kata dia ditemui di Balai Desa Tegalsambi. 

Ia melanjutkan, setelah kedua orang tersebut saling melempar tidak ada rasa saling dendam antara Kyai Babadan dan Mbah Gemblong. Hal itu lantaran, sapi dan hewan peliharaan milik Kyai Babadan yang tak terurus dan sakit tiba-tiba menjadi sembuh. 

Di zaman modern, adat itu masih dilestarikan. Kini obor yang dibuat berasal dari dua buah pelepah kelapa yang mengering yang disatukan. Setelahnya, disela-sela pelepah tersebut dimasukan klaras atau daun pisang kering. 

“Nanti obor tersebut lalu dibakar dan disabetkan ke ‘musuh’ yang dihadapi. Dan yang pasti tidak boleh dengan perasaan marah sehingga melukai yang disabet,” kata dia. 

Tahun ini telah disediakan 300 obor, dan akan diikuti oleh 30 orang asli Desa Tegalsambi. “Acaranya nanti di perempatan desa, jam tujuh malam biasanya jalanan sudah penuh, acaranya sendiri dimulai pada pukul 20.00. Durasinya sekitar satu jam,” urai Sutiyo. 

Adapun, acara perang obor dirangkaikan dengan tradisi Sedekah Bumi (Kabumi). Selain acara inti, adapula pergelaran wayang, dan karnaval menyusuri desa yang telah berlangsung. 

Editor: Supriyadi

Komentar

komentar


    Print       Email


Artikel terkait lainnya

Panggil DPN APTRI, KPPU Tindak Lanjuti Dugaan Monopoli Gula yang Dilakukan Bulog

Selengkapnya →