Loading...
You are here:  Home  >  Regional  >  Grobogan  >  Artikel ini

Ini ‘Jimat’ Petani Grobogan Agar Tetap Bisa Tanam Jagung di Lahan Minim Air



Reporter:    /  @ 08:59:06  /  3 September 2017

    Print       Email

Salah seorang petani menunjukkan tugal khusus yang digunakan untuk tanam jagung pada lahan minim air akibat kemarau. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Sebuah alat sederhana dibuat petani untuk memudahkan penanaman jagung pada lahan sawah yang kondisi tanahnya mlethek (merekah) saat kemarau. Untuk memudahkan tanam jagung pada lahan minim air, petani menciptakan sebuah taju atau tugal khusus.

Tugal khusus yang ujungnya runcing seperti tombak ini dibuat dari pipa besi berukuran 0,5 inchi. Panjang tugal sekitar 1,5 meter dan pada bagian atasnya diberi pegangan.

Alat sederhana juga dilengkapi sebuah pijakan berlubang yang posisinya sekitar 30 cm dari atas mata tugal. Pijakan ini berfungsi sebagai rembesan air untuk memudahkan tugal saat ditancapkan ke dalam tanah serta menjaga kelembaban yang diperlukan buat menunjang pertumbuhan tanaman jagung.

Saat kondisi kering, titik tancapan tugal ditempatkan pada sela-sela tanah yang merekah atau dalam Bahasa Jawa disebut nelo. Kedalaman tancapan tugal bisa mencapai 30 cm.

Setelah lubang dibuat, benih jagung dimasukkan kedalamnya dan ditutup tipis-tipis. Tujuannya agar benih jagung yang tumbuh bisa lebih mudah menembus lubang tanam.  Petumbuhan awal tanaman akan terlihat sekitar 7 hari setelah tanam (HST). Pada fase awal, tanaman jagung terlihat seperti rumput. Namun, pada usia 14 HST, kondisi tanaman akan berangsur-angsur normal dan tampak kokoh ketika sudah menembus rekahan tanah serta terkena sinar matahari.

Setelah dipupuk dengan kocoran pada 21 HST, batang tanaman akan terisi dengan sempurna. Selanjutnya tanaman jagung dikocor sekali lagi pada umur 35 HST dan setelah itu tinggal menunggu masa panen.

Kepala Dinas Pertanian Grobogan Edhie Sudaryanto mengungkapkan, areal tanam jagung di lahan yang tanahnya merekah pada musim kemarau itu luasnya sekitar 40 ribu hektar yang tersebar di beberapa kecamatan. Menurutnya, pada musim kemarau seperti itu, petani mengoptimalkan pemanfaatan lahannya dengan merekayasa irigasi sistim kocor.

“Dengan rekayasa ini, pengocoran yang biasanya dilakukan 4 kali bisa berkurang jadi 2 kali saja. Oleh sebab itu, di Grobogan tetap memiliki areal jagung yang cukup luas saat kemarau,” jelasnya.

Edhie menambahkan, jagung merupakan salah satu komoditas andalan di Grobogan. Setiap tahun, luas panen jagung di Grobogan sekitar 120 ribu hektar dengan produktivitas rata-ratanya mencapai 6 ton per hektar.

“Produksi jagung setiap tahun totalnya mencapai 720 ribu ton. Dengan capaian ini, Grobogan menyumbang lebih dari 20 persen prdiksi jagung di Jawa Tengah,” jelasnya.

 

Editor : Akrom Hazami

Komentar

komentar


    Print       Email


Artikel terkait lainnya

Pemkab Kudus Anggap Kenaikan Harga Jelang Akhir Tahun Wajar

Selengkapnya →