Loading...
You are here:  Home  >  Info Muria  >  Artikel ini

Modal Rp 100 Ribu, Pengukir Sandal Jepit di Jepara Ini Raup Jutaan Rupiah Per Bulan



Reporter:    /  @ 20:30:46  /  2 September 2017

    Print       Email

Pengukir sandal, M Nur Fawaid, sedang menyelesaikan pengerjaan kreatifnya, di Jalan Krajan, Desa Jambu Timur RT 08/02, Kecamatan Mlonggo, Jepara . (MuriaNewssCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Sandal jepit biasanya dipakai saat momen tak resmi, selain karena harganya murah tampilannya pun terkesan ndeso. Namun di tangan kreatif M Nur Fawaid, sandal jepit diukir, sehingga menjadi barang unik dan naik kelas.

Bahkan karena keunikannya, orang nomor satu di Jawa Tengah, Gubernur Ganjar Pranowo ikut memborong kreasi unik warga Jalan Krajan, Desa Jambu Timur RT 08/02, Kecamatan Mlonggo, Jepara itu. Total ada 13 pasang sandal yang diborong, saat perhelatan Pesta Rakyat Jateng 2017, seminggu silam. 

BacaKisah Sukses Peternak Sapi di Desa Gunungsari Rembang

Kepada MuriaNewsCom, M Nur Fawaid atau lazim disapa Fawa menuturkan awal usahanya. Ia mengaku, ukir sandal sudah menjadi tradisi  di pondok pesantren, tempatnya mengaji ilmu dulu. “Jadi di ponpes dulu sudah lazim ada praktik ghosob-mengghosob atau meminjam tapi tidak bilang dulu. Tidak hilang, namun tidak lantas diletakan pada tempat semula. Jadi kadang sandal kita berada di mana-mana. Nah dari situ kemudian muncul ide untuk memberi ciri pada sandal kepunyaan kita,” ujarnya, Sabtu (2/9/2017).

Mulanya, Fawa melanjutkan, penamaan pada sandal hanya dilakukan dengan menggunakan pulpen. Namun karena tintanya gampang pudar, maka akhirnya diukir menggunakan pisau cutter. Setelahnya, semakin berkembang ide-ide untuk mengukir di atas sandal jepit karet. 

BacaKisah Bambang, Petani Asal Rembang yang Sukses Budidaya Burung Murai Batu

Dari situlah ide bisnis Fawa muncul. Mengaku awalnya tak terampil, ia lantas mencoba-coba secara tekun dalam waktu dua bulan penuh.  “Mulanya pada tahun 2013 saya dengan teman saya yang ahli ukir sandal membuat contoh sandal bertuliskan selamat lebaran. Lalu saya posting di medsos. Eh, ada yang tertarik dan pesan. Namun karena saya tidak bisa saya serahkan ke teman saya. Akan tetapi tak kunjung jadi, sampai akhirnya saya bertekad belajar sendiri, dan sampai sekarang,” kenangnya. 

Dari hasil belajar otodidak, Fawa kemudian nekat memasarkan sandal-sandal ukirnya melalui medsos. Bak gayung bersambut, pesanan mulai datang satu demi satu, dari pelanggan asal Jepara hingga seluruh Indonesia. 

BacaGagal Nyalon Polisi, Pemuda Pati Ini Justru jadi Miliarder

Untuk membuat satu sandal ukir, dibutuhkan waktu sekitar dua jam. Namun untuk ukiran yang paling rumit, setidaknya butuh tiga hari untuk menyelesaikannya. Dari sisi harga, paling murah dibandrol Rp 25 ribu, sedangkan yang paling mahal bisa mencapai Rp 500.000. 

Disinggung masalah omzet bulanan, Fawa membeberkan berada di kisaran Rp 3-5 juta. Padahal, pada waktu pertama kali terjun di bisnis ukir sandal modalnya sangat minim.  “Modalnya dulu berapa ya, sekitar Rp 100.000. Sementara untuk sandalnya sendiri harga per pasangnya sekitar Rp 10.000,” tuturnya. 

Fawa mengatakan, pangsa pasar sandal ukir masih sangat terbuka lebar. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya pengusaha serupa di seantero Indonesia. Namun demikian, ia mengaku tak pelit ilmu menurutnya semakin banyak pesaing justru malah bagus.

BacaAli Mustofa, Warga Gembong yang Sukses Jadi Jutawan Karena Jamur Tiram

“Saya bersedia membagikan ilmu kepada siapa saja yang mau belajar, gratis. Namun syaratnya ia harus tekun dan mau belajar sampai bisa. Kalau tidak tuntas malah saya suruh bayar Rp 500 ribu. Tetangga-tetangga saya banyak yang belajar dan saya tidak khawatir banyak saingan,” ujarnya. 

Terakhir, ia berpesan agar tidak malu dalam menjalani pekerjaan sebagai seorang wirausahawan. Ia mengaku selalu ada jalan rezeki asal tekun.  m”Tidak usah minder, usaha itu tinggal keberanian kita,” pungkas Fawa. 

Editor : Akrom Hazami

Komentar

komentar


    Print       Email


Artikel terkait lainnya

Kosek Kos-kosan dan Penginapan, 9 Pasangan Mesum di Grobogan Terjaring

Selengkapnya →