Loading...
You are here:  Home  >  Info Muria  >  Artikel ini

Ini Mitos Telaga Sejuta Akar Bangsri Jepara, Objek Wisata Keren dan Menyejukkan



Reporter:    /  @ 18:30:29  /  2 September 2017

    Print       Email

Warga menikmati Telaga Sejuta Akar yang ada di Dukuh Margokerto, Desa Bondo, Kecamatan Bangsri, Jepara. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Sedang melancong ke Jepara? Tidak ada salahnya menjajal objek wisata alam Telaga Sejuta Akar yang ada di Dukuh Margokerto, Desa Bondo, Kecamatan Bangsri. Lantaran begitu memasuki areal ini, udara panas yang kini menerpa Bumi Kartini seolah sirna diterpa semilir angin yang berembus disela akar pohon Beringin Karet atau Ficus Elastica. 

Sesuai namanya, akar dari pepohonan beringin karet tersebut seolah melindungi telaga yang berada di tengahnya. Untuk memasuki objek wisata itu, per orang hanya dikenai biaya kebersihan sebesar Rp 2.500. 

Hadi Priyanto Ketua Pengelola Telaga Sejuta Akar mengatakan, konon tempat itu sudah ada sebelum desa tersebut dibangun. Mitosnya, tempat itu adalah petilasan Dewi Anjani yang kemudian melahirkan anak yang berupa kera putih Hanoman. 

“Mitosnya dulu telaga ini disebut sebagai Telaga Mandireja, tempat Dewi Anjani hamil dan kemudian melahirkan kera berwarna putih yang disebut Hanoman. Sehingga dulu, di sini banyak spesies tersebut. Namun kini sudah tidak ada jejaknya,” ujarnya, ditemui di wanawisata tersebut, Sabtu (2/9/2017). 

BacaAir Sumur Petilasan Empu Supo di Pati Diyakini Bisa Bikin Awet Muda

Kisah lain memaparkan, sebelum desa itu ditinggali oleh orang telaga tersebut telah ada. Konon, sesepuh desa tersebut bernama Mbah Isrom, sengaja tidak membabat pepohonan yang ada ditebang. 

“Dukuh ini ada sekitar tahun 1901. Dulu tempat ini disakralkan, konon orang yang menstruasi tidak boleh memasuki salah satu bagian dari tempat ini. Namun kalau sekadar berkunjung boleh. Akan tetapi itu dulu sekarang ya sudah tidak,” tambahnya. 

BacaIni Mitos Daun Jati dan Beras yang Tersisa Usai Buka Luwur Makam Sunan Kudus

Dirinya menuturkan, telaga tersebut sempat mengering karena banyaknya sedimentasi. Akhirnya pada sepuluh tahun lalu, warga bersama pemerintah desa mulai merevitalisasi tempat tersebut. 

Telaga tersebut diketahui tak hanya dipergunakan sebagai tempat wisata, namun berperan sebagai sumber pengairan bagi sawah-sawah di sekitarnya. Total ada 90 hektare sawah yang bisa teraliri air dari telaga tersebut.  

BacaMbah Bungkuk Mengaku Pernah Ditemui Angling Darma

“Ke depan, kami harap objek wisata ini dapat menjadi semacam laboratorium pendidikan alam. Soalnya pepohonan di sini juga cukup langka. Selain itu, kami ingin dengan merawat tempat ini, air yang digunakan untuk pengairan bisa terus tercukupi. Karena sejatinya tempat ini adalah anugerah dari Tuhan yang harus dijaga,” urainya. 

Selain bisa ngadem, tempat ini juga cocok untuk dijadikan lokasi camping atau memancing. Sebab di telaga tersebut telah ditebar bibit ikan seperti nila. 

BacaKhasiat Air Sendang, Dipercaya Bikin Awet Muda

Seorang pelancong Adi menuturkan baru kali tersebut ia menginjakan kaki di tempat tersebut. Berwisata bersama kawan-kawannya, ia mengaku takjub akan akar pepohonan yang menghujam ke tanah. “Banyak sekali akarnya, jadi seperti tirai dan bagus juga untuk foto-foto,” ujar warga Bangsri itu. 

Editor : Akrom Hazami

Komentar

komentar


    Print       Email


Artikel terkait lainnya

Jelang Libur Akhir Tahun, Pantai Kartini Siapkan Personel Tambahan

Selengkapnya →