Publisher is the useful and powerful WordPress Newspaper , Magazine and Blog theme with great attention to details, incredible features...

Nilai-Nilai Perjuangan Bung Karno

71
Bin Subiyanto M Anggota Dewan Pengupahan  dan pegiat Buruh  Kudus

Bung Karno “hidup kembali” tatkala  Pancasila  dipersoalkan siapa  yang melahirkan. Maka sebaiknya bukan mendiskusikan siapa yang melahirkan Pancasila. Tetapi cukuplah melihat dengan kejujuran bahwa Bung Karno adalah proklamator  yang justru melahirkan Republik Indonesia. Dan oleh karena itu setiap tanggal 21 Juni sejumlah jemaah dan termasuk para kader marhaenis selalu menyelenggarakan khaul memeringati  wafatnya Bung Karno.  Sebagai wujud kesinambungan batin yang tak terputuskan.

Setiap  warga  NKRI semestinya   mengingat sejarah Indonesia. Sekaligus   tidak  melupakan sejarah perjuangan dan peran Bung Karno pada masa prakemerdekaan, kemerdekaaan dan awal menggerakkan roda NKRI. Dengan demikian kita akan memahami Bung Karno dan nilai  yang diperjuangkan. Adapun  filosofi perjuangan Bung Karno tidak lepas dari nilai-nilai.

Pertama: Kebangsaan. Terbukti Bung Karno dengan serta merta mengumandangkan proklamasi  Kemerdekaan Republik Indonesia, setelah  mendengar dan didorong situasi dan  pendapat kawan seperjuangan  juga merasakan kejamnya penjajahan. Kemudian menghadapi kelas pertama 1947 dan kelas kedua 1949. Juga menyelenggarakan Konferensi Asia Afrika  (KAA). Masihkah  kurang nasionalismenya, jiwa kebangsaannya?.

Bung Karno memahami ke Indonesiaan, yang sekaligus kemajemukannya. Sehingga dengan segala pemikirannya Bung Karno mencanangkan NASAKOM sebagai gambaran bahwa  di Indonesia telah ada berbagai macam pemikiran, agama serta kepercayaan yang sebetulnya bisa dipersatukan. Menurut saya inilah kejujuran dan sikap obyektif Bung Karno dalam melihat pluralism Indonesia.

Nilai kedua yang diperjuangkan Bung Karno adalah  “kerakyatan”, sikap yang komitmen pada nasib rakyat. Khususnya kaum tani dan buruh.  Wong Cilik memang berada di lapisan buruh dan petani , dari dahulu hingga sekarang. Karenanya Bung Karno melahirkan Marhaenisme, aliran pemikiran kerakyatan khas Indonesia.

Sedangkan dalam sikap komitmennya pada  kaum buruh  Saya ingin mengingatkan lagi  pesan Bung Karno agar  para juragan dan pengusaha tidak menelantarkan kaum buruh dengan menyebut ”lima pesannya” yaitu:  Wareg, Waras, Wasis, Wutuh dan Wisma.

WAREG : Pengertianya adalah cukup pangan. WARAS : Maksudnya terjamin kesehatanya. WASIS  : Berarti mendapat  pendidikan dan pelatihan. WUTUH : Cukup sandang dan pakaian. WISMA : Artinya rumah atau tempat tinggal.  Lima pesan Bung Karno tersebut secara implisit juga mengandung maksud agar pengusaha ketika memberi upah pada pekerja jangan hanya berpikir untuk kebutuhan makan, pengetahuan, sehat dan tempat tinggal. Namun juga memikirkan keluarganya : anak dan istrinya.

Nilai ketiga yang diperjuangkan Bung Karno adalah ”Kemandirian”, yang pada hakikatnya adalah Indonesia jangan  bergantung pada asing. Terlebih kepada Amerika (saat itu). Maka relevan ketika Bung Karno menggagas  konsep BERDIKARI (Berdiri di atas Kaki Sendiri).

Sikap jujur dan berani demikian patut diwarisi dan diaktualisasikan  tata kelola  pemerintah. Seperti akhir-akhir ini terbukti oleh bidang perikanan dan kelautan yang pekan lalu tanggal 6 Juni 2017 mendapat apresiasi dari Majelis PBB di New York AS, di dalam Forum “ Transnational Organized Crimes In Fisheries“.

Oleh banyak pembicara dikatakan bahwa Menteri Susi Pudjiastuti terbaik, terutama kemampuan dan keberaniannya memberantas penjahat kapal penangkap ikan asing yang sering mencuri di wilayah perariran Indonesia.

Demikian,nilai-nilai perjuangan Bung Karno yaitu :  Kebangsaan, Kerakyatan dan Kemandirian  yang  telah mulai kembali menjadi dasar penyemangat  Kabinet Jokowi-JK. Dan seyogyanya nilai-nilai perjuangan Bung Karno diajarkan pada generasi muda  yang cinta NKRI. (*)

(Bin Subiyanto M adalah  mantan aktifis Fakultas Biologi Unsoed dan Fakultas Filsafat UGM, kini anggota Dewan Pengupahan dan pegiat buruh Kudus)

Ruangan komen telah ditutup.