Loading...
You are here:  Home  >  Info Muria  >  Artikel ini

Ganjar Terperanjat Lihat Ukiran Wajahnya di Sandal Jepit



   /  @ 13:12:50  /  26 Agustus 2017

    Print       Email

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo menunjukkan sandal ukir bergambar wajahnya yang dibuat pemuda Jepara. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Jepara – Gubernur Jateng Ganjar Pranowo cukup terperanjat mengetahui wajahnya tergambar di sandal jepit. Bahkan orang nomor satu di Jateng itu harus menghentikan langkahnya untuk melihat sandal itu, saat mengunjungi Pameran Desain Kreatif Pesta Rakyat HUT Jateng di Jepara, Sabtu (26/8/2017).

Dan ternyata, Ganjar bukan marah justru sangat girang. Ia bahkan memuji ukiran di sandal karya pemuda Jepara tersebut yang dipamerkan di stan Sandal Carving Jepara (Sacaje) itu. “Ha ha ha apik iki, kreatif. Sandal diukir,” seloroh Ganjar.

Mantan anggota DPR RI itu pun penasaran bagaimana cara membuatnya. Ia pun mendekat bertanya dengan M Nur Fawaid, perajin yang membuat sandal ukir tersebut.

Selain wajah Ganjar, Nur juga mengukir logo Jateng Gayeng. Satu desain lagi yang membuat Ganjar juga tertawa adalah sebuha sandal berukir tulisan “Sandal Gubernur”. Ganjar tertarik dan membeli beberapa pasang sandal tersebut.

“Tuku, tuku, kanggo souvenir,” kata gubernur berambut putih itu. 

Ganjar Pranowo memuji Nur sebagai perajin yang mampu melihat peluang dan berkreativitas tinggi. “Ini perlu didukung, mengerjakan barang yang tak disangka-sangka hingga memiliki nilai ekonomi,” ucapnya.

Nur mengaku untuk membuat ukiran di sandal tak butuh waktu lama. Untuk ukiran sederhana, hanya dibutuhkan waktu tiga jam saja, sementara jika ukirannya rumit bisa sampai lima jam.

Untuk sepasang sandal, Nur menjual dengan harga Rp 25 ribu. Pembeli bisa memilih sandal yang sudah jadi atau memesan desain dan tulisan sendiri.

Karya Nur bukan saja unik tapi juga menggelitik. Simak misalnya sandal bertuliskan “Bojoku Ketikung”, “Ngopi Ngaji”, atau “Colong Mati”.

Ada juga produk dari beberapa sandal digabung menjadi jam dinding, papan nama, dan lambang klub sepakbola. Untuk jam dan hiasan dinding, Nur membanderol Rp 75 ribu.

“Harga bergantung kesulitan serta kerumitan ukiran. Tentu harga sandal ukir wajah beda dengan ukir tulisan,” terang Nur.

Ia mengaku, ide sandal ukir muncul ketika nyantri di sebuah pondok pesantren. Nur yang jengkel karena sandal jepitnya berkali-kali hilang, kemudian mengukir sandalnya sehingga beda dari milik teman-temannya.

“Awalnya asal bikin, asal beda agar mudah mengingat sandal saya. Pertama kali saya mengukir nama di sandal. Ternyata teman-teman suka dan minta diukirkan juga,” tuturnya.

Ketika permintaan semakin banyak, Nur mulai memasang tarif. Sejak 2013 ia membuka workshop bernama Sacaje.

“Itu setelah saya rasa ukiran sandal tersebut cukup rapi dan layak dijual,” terang warga Jalan Krajan RT 08/02 Jambu Timur, Kecamatan Mlonggo Kabupaten Jepara ini.

Editor : Ali Muntoha

Komentar

komentar


    Print       Email


Artikel terkait lainnya

Petaka Mempermasalahkan Beda Kasta Tampak di Pementasan Teater Keset Kudus

Selengkapnya →