Loading...
You are here:  Home  >  Regional  >  Grobogan  >  Artikel ini

Bupati Grobogan Minta Petugas Inseminasi Buatan Bekerja Maksimal



Reporter:    /  @ 20:11:56  /  18 Agustus 2017

    Print       Email

Petugas inseminasi buatan saat melakukan penyuntikan untuk kawin gratis. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Bupati Grobogan Sri Sumarni menyatakan, predikat Grobogan sebagai lumbung sapi nomor dua di Jawa Tengah perlu dipertahankan. Upaya utama yang harus dilakukan adalah berupaya agar populasi sapi terus meningkat tiap tahun.

Menurut Sri, untuk meningkatkan populasi sapi, peran petugas teknis inseminasi buatan atau inseminator dinilai cukup penting. Oleh sebab itu, para inseminator itu diminta sungguh-sungguh dalam melaksanakan tugas dan meningkatkan capaian kebuntingan sapi dengan penggunaan teknologi tersebut.

“Teknologi inseminasi buatan ini sudah terbukti bisa meningkatkan populasi sapi. Untuk itu, peran dari para inseminator ini sangat diandalkan dalam keberhasilan pemakaian teknologi inseminasibuatan atau IB tersebut,” katanya.

Menurut Sri, penerapan teknologi IB di Grobogan sudah dilakukan sejak tahun 1976. Yakni, di Kecamatan Toroh dan Purwodadi. Saat ini, pemakaian IB sudah menjangkau semua wilayah kecamatan.

“Sekarang ini, kita punya 34 wilayah kerja atau pos IB. Untuk petugas inseminatornya ada 43 orang,” katanya.

Sejauh ini, jumlah populasi sapi di Grobogan mencapai 200 ribu ekor. Banyaknya jumlah sapi di Grobogan ini menempati urutan kedua di Jawa Tengah, setelah Blora.

Meski punya potensi cukup besar namun Sri meminta agar populasi sapi itu harus terus ditingkatkan. Hal ini sebagai salah satu upaya mendukung program pemerintah swasembada daging sapi.

Untuk mempertahankan populasi sapi, Sri meminta dinas terkait lebih memaksimalkan program IB. Sebab, melalui upaya ini bisa menghasilkan sapi yang berkualitas.
Selain itu, upaya lainnya adalah menekan tingkat penyembelihan sapi betina. Khususnya sapi yang masih dalam usia produktif.

Dia menjelaskan, jika terjadi pemotongan sapi produktif maka dampak dikemudian hari adalah menurunnya jumlah populasi. Sebab, calon indukan yang siap berproduksi sudah kurang jumlahnya akibat dikonsumsi dagingnya. Oleh sebab itu, dia berharap kepada masyarakat agar tidak memotong sapi betina produktif jika ingin menjual atau mengonsumsi daging.

“Saya minta agar Disnakkan terus mengawasi masalah ini. Pemotongan sapi betina ini harus dicegah agar tidak memotong rantai produksi,” tegasnya.

Editor: Supriyadi

Komentar

komentar


    Print       Email


Artikel terkait lainnya

Petaka Mempermasalahkan Beda Kasta Tampak di Pementasan Teater Keset Kudus

Selengkapnya →