Loading...
You are here:  Home  >  Info Muria  >  Artikel ini

Duh, 30 Warga Pati Jadi Korban Penipuan UN Swissindo



Reporter:    /  @ 10:41:58  /  12 Agustus 2017

    Print       Email

Contoh surat dari UN-Swissindo yang digunakan untuk menipu calon korban. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Warga Pati diimbau untuk mewaspadai tawaran yang menyebut dirinya UN-Swissindo tentang voucher human obligation dan biaya peningkatan kesejahteraan hidup.

Imbauan itu disampaikan Kabag Ops Polres Pati Kompol Sundoyo setelah ada korban hingga 30 nasabah, Sabtu (12/8/2017).

“Penipuan ini sudah ada di sejumlah daerah, termasuk Pati. Ada sekitar 30 nasabah yang tertipu UN-Swissindo di Pati,” kata Kompol Sundoyo.

Modus dari penipuan tersebut, salah satunya meminta korban untuk mencari debitur bermasalah untuk diajak bergabung, meminta korban membayarkan sejumlah uang pendaftaran untuk menjadi anggotanya dan mencari korban yang terlibat kredit macet, serta menjanjikan akan menyelesaikan hutangnya dengan jaminan surat berharga negara.

Bahkan, UN-Swissindo berani mengatasnamakan negara dan lembaga negara dengan dasar kedaulatan rakyat berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Modus tersebut dilakukan untuk mengelabuhi para korban.

“Jadi, sasaran korban adalah debitur bermasalah, dibujuk untuk tidak membayar hutang kepada kreditur. UN-Swissindo memberikan tawaran menggiurkan dengan melunasi semua hutang debitur. Tapi dengan syarat membayar biaya administrasi sebesar 50 persen dari angsuran bulanan,” tuturnya.

Demi menjaga keamanan masyarakat dari kejahatan penipuan berbasis keuangan, pihaknya meminta kepada masyarakat untuk proaktif melaporkan kepada aparat penegak hukum bila ditemukan informasi sejenis.

UN Swissindo atau United Nations Swissindo World Trust International Orbit menyebut dirinya sebagai lembaga dunia yang mengklaim melepaskan hak keuangannya senilai 6,1 triliun dolar di Bank Indonesia dan enam bank, seperti Mandiri, BCA, BRI, BNI, CIMB, dan Danamon.

Uang sebanyak itu disebutkan untuk membebaskan utang rakyat Indonesia. Namun, pihak bank dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tidak membenarkan pengakuan itu. Sebab, klaim seperti itu sengaja dibuat untuk meyakinkan calon korban.

Editor: Supriyadi

Komentar

komentar


    Print       Email


Artikel terkait lainnya

Petaka Mempermasalahkan Beda Kasta Tampak di Pementasan Teater Keset Kudus

Selengkapnya →