Loading...
You are here:  Home  >  Info Muria  >  Artikel ini

Petani Garam di Jepara Setuju Ada Impor, tapi …



Reporter:    /  @ 14:51:06  /  2 Agustus 2017

    Print       Email

Petani garam di Jepara sedang memanen produknya, Rabu. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Petani garam di Jepara tak mempermasalahkan impor garam yang dilakukan oleh pemerintah. Hanya, mereka tak ingin jumlah garam yang didatangkan dari luar negeri terlalu berlimpah. Hal itu karena akan menyebabkan harga jual produk mereka anjlok. 

“Impor boleh-boleh saja jika memang kekurangan namun jangan terlalu banyak. Ini (produksi) garam jika cuaca panas terus pasti akan berlimpah dan otomatis menurunkan harga jual garam. Namun kalau impornya kebanyakan sementara di sini juga sedang panen, harganya bisa terpuruk,” kata Saroni (48) petani garam asal Desa Panggung, Kecamatan Kedung, ditemui di lahan tambaknya di Bulak Baru, Jepara, Rabu (2/8/2017). 

Dirinya mengatakan, saat ini harga jual garam krosok per tombong (80 kilogram) masih tinggi yakni Rp 300.000. Artinya, setiap kilogram dihargai Rp 3.750. Sementara sebelumnya garam hanya diharga sekitar Rp 300- Rp 400 per kilogram. 

Dirinya mengakui, harga tersebut adalah yang tertinggi semenjak dirinya bertani garam. Saroni menyebut, harga garam memang pernah tinggi namun tak lebih dari Rp 100.000 per tombong. 

Petani lain, Khamsani (45) mengakui hal serupa. Kini harga garam masih berada di angka penjualan tersebut. Terkait impor garam, ia sendiri telah mengetahuinya dari berita di televisi. Bahkan ia sempat disurvei dari pihak kepolisian.

“Baru kemarin ada pak polisi, tanya tentang pasokan garam bagaimana. Ya saya jawab saja masih balapan dengan hujan, belum bisa maksimal panennya. Menurut polisi, ia disuruh untuk mengecek ke lapangan karena presiden sudah turun tangan untuk menyiasati harga garam yang bergejolak,” tutur dia. 

Lebih lanjut ia mengatakan, hingga kini dirinya belum memiliki stok garam. Hal itu karena setiap kali panen, pengepul selalu saja sudah menunggu produknya.  “Ini saja saya sudah dibayar duluan, baru saya panen. Sehingga saya memang belum bisa memiliki simpanan garam di gudang,” terangnya. 

Khamsani berujar dirinya sudah memanen sekitar 13 tombong garam dari lahan miliknya. Sementara itu Saroni telah memanen 35 tombong dari lahannya seluas lebih kurang dua hektar. 

Adapun, peruntukan garam produksi warga Kedung itu lebih banyak dipergunakan untuk bidang industri. Seperti pengawetan ikan, bumbu kacang asin dan sejenisnya. Akan tetapi, garam tersebut pun bisa dikonsumsi untuk harian. 

Editor : Akrom Hazami

 

Komentar

komentar


    Print       Email


Artikel terkait lainnya

Presiden Jokowi Bakal Hadiri MQK ke-VI di Ponpes Balekambang Jepara

Selengkapnya →