Loading...
You are here:  Home  >  Regional  >  Grobogan  >  Artikel ini

Bangunan Zaman Belanda di Sumber Jatipohon Grobogan Ini Pernah Ditempati Perdana Menteri Indonesia



Reporter:    /  @ 21:25:08  /  29 Juli 2017

    Print       Email

Inilah kondisi bangunan lama yang dibangun di era penjajahan Belanda yang berada di Desa Sumber Jatipohon, Kecamatan Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Sebuah bangunan lama bergaya Eropa yang masih terdapat di Desa Sumber Jatipohon, Kecamatan Grobogan, Grobogan ternyata menyimpan catatan penting.

Bangunan itu pernah ditempati Perdana Menteri Indonesia ke-9 Burhanuddin Harahap bersama keluarganya selama hampir setahun lamanya. Burhanuddin tinggal di tempat itu dalam statusnya sebagai tahanan politik di era Orde Lama.

Kisah ini diketahui banyak diketahui banyak orang sampai saat ini. Salah satu saksi yang masih mengetahui peristiwa itu adalah Mbah Karto Sudirjo alias Rasipin, warga Desa Sumber Jatipohon.

“Burhanuddin Harahap tinggal di rumah itu sekitar tahun 1960 karena masalah politik. Sekitar satu tahun ada di situ dan tidak ada warga yang berani mendekat ke sana,” kata pria yang sudah berusia 91 tahun itu.

Selama ditempati Burhanuddin, sekitar bangunan itu dijaga aparat keamanan. Untuk kebutuhan sehari-hari, ada salah seorang warga setempat bernama Rasmin yang melayani.

Karto sering lewat dekat bangunan tersebut. Tetapi, ketika lewat dia tidak berani menengok ke arah bangunan karena takut ditegur aparat. Ketika melintas, ia sering mendengar suara radio dari dalam bangunan.

Di Desa Sumber Jatipohon pada waktu itu sebenarnya terdapat rumah tahanan negara. Lokasinya ada di pinggir jalan Purwodadi-Pati, samping kiri balai desa. Namun, bekas bangunannya sudah tidak ada lagi saat ini.

“Rumah tahanan waktu itu hanya untuk menampung pelaku kejahatan saja. Kapasitasnya, juga tidak terlalu besar. Saya tahu persis karena bekerja jadi penjaga rumah tahanan itu dari tahun 1953-1982,” kata pria yang memiliki 6 anak, 17 cucu dan 10 cicit itu.

Bangunan lama itu selesai dibangun pada 13 Oktober 1935, sesuai tulisan yang tercetak di tembok depan sisi kiri. Meski dibangun pada era penjajahan, pembuat bangunan itu bukan orang Belanda. Tetapi, pengusaha keturunan Tionghoa dari Purwodadi bernama Tan Liong Pin.

Pengusaha itu membuat bangunan untuk pesanggrahan atau istirahat. Lokasinya memang cocok untuk pesanggrahan karena ada di ketinggian dan di selatan bangunan bisa melihat pemandangan alam hamparan hutan jati.

Pada tahun 1950, bangunan itu dijual pemiliknya pada perusahaan kayu milik negara yang kini bernama Perum Perhutani. Oleh pihak Perhutani, bangunan dengan beberapa kamar yang dinamakan Wana Marto itu dijadikan tempat penginapan dengan label ‘City View Jatipohon’.

Sebelumnya, ada empat bangunan pesanggrahan yang berdiri di sekitar lokasi yang sekarang jadi obyek wisata Bukit Pandang tersebut. Selain milik Tan Liong Pin, ada bangunan milik Bupati Grobogan periode 1933-1944 Raden Adipati Sukarman Martohadinegoro dan pengusaha Tionghoa lainnya bernama Tiong Sam.

Satu bangunan lagi didirikan oleh dokter berkebangsaan Belanda bernama Van Palisen. Sehari-hari dokter itu bertugas di Rumah Sakit Zending yang didirikan pemerintah kolonial Belanda tahun 1924 yang kini menjadi RSUD Dr R Soedjati.

Dari empat bangunan itu, hanya satu yang masih terselamatkan hingga saat ini. Tiga bangunan lainnya sudah roboh belasan tahun lalu karena tidak ada yang merawat.

Editor : Kholistiono

Komentar

komentar


    Print       Email


Artikel terkait lainnya

Asyiknya Nge-Jazz Sambil Berkubang Lumpur

Selengkapnya →