Loading...
You are here:  Home  >  Info Muria  >  Artikel ini

Setiap Kamis, Pamong di Desa Jambu Jepara Berlurik dan Berbahasa Jawa Dalam Melayani Warga 



Reporter:    /  @ 18:36:25  /  28 Juli 2017

    Print       Email

Layani warga, pamong Desa Jambu, Kecamatan Mlonggo, Jepara menggunakan baju lurik dan berbahasa Jawa setiap hari Kamis.(MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Setiap hari Kamis, suasana di Kantor Petinggi (Kepala Desa) Jambu, Kecamatan Mlonggo, Jepara, selalu berbeda. Khusus hari tersebut, seluruh pamong (petugas) yang bekerja mengenakan busana lurik dan berbahasa Jawa saat melayani warga. 

Ahmad Zaenudin, Staf Tata Usaha (TU) Desa Jambu mengatakan, hal tersebut mengacu pada Surat Edaran Bupati Jepara No. 430/6807 tertanggal 20 Oktober 2014, tentang Penggunaan Bahasa Jawa di Lingkungan Pemkab Jepara. Selain itu, penggunaan bahasa Jawa juga didasarkan atas Perda Provinsi Jateng No 9/2012 tentang Bahasa dan Aksara Jawa.

Wonten edaran saking gubernur Jawa Tengah dinten kamis pelayanan kapurih migunakaken Basa Jawa (Ada edaran dari Gubernur Jawa Tengah supaya hari Kamis pelayanan diimbau menggunakan bahasa Jawa),” tuturnya, Kamis (27/7/2017). 

Dirinya mengatakan, pengaplikasian peraturan tersebut baru dilakukan pada tanggal 8 Juni 2017. Hal itu menurutnya, karena pihaknya memerlukan banyak persiapan. 

Persiapan menika ngatur kebiasaan saking pamong piyambak. Biasanipun kan melayani ngagem Basa Indonesia, sakmenika kedah ngagem Basa Jawa  (Persiapan berasal dari kebiasaan pamong sendiri, biasanya pelayanan kan memakai bahasa Indonesia, kini harus memakai bahasa Jawa),” tambahnya. 

Dirinya mengucapkan, motivasi penerapan bahasa Jawa di lingkungan Pemdes Jambu adalah untuk turut melestarikan budaya. Zaenudin berkata, kalangan anak muda mulai kehilangan antusiasme berbahasa ibu Jawa. Hal itu menurutnya karena sejak di lingkungan keluarga, generasi mereka tidak dibiasakan menggunakan bahasa Jawa. 

Sementara itu, terkait pakaian lurik, semuanya berasal dari inisiatif Pemdes Jambu. Dikatakannya, busana khas Jawa dibeli dari kantong pribadi petinggi desa itu Muhammad Arif. Adapun selama menerapkan peraturan berbahasa Jawa, dirinya mengalami kendala karena tak serta merta dapat menggunakannya untuk semua warga.

Sampun antawis kalih wulan ngagem Basa Jawa saben dinten Kamis, nanging tasih wonten kendala, terkadang basane taksih campur-campur lan ugi mboten sedaya warga saged basa Jawa. Yen pun mekaten nggih ngagem Basa Indonesia. Menawi nglayani tiyang enem ingkang mboten ngertos krama inggil nggih ngagem ngoko (Sudah dua bulan memakai bahasa Jawa setiap hari Kamis tetapi masih ada kendala. Terkadang bahasanya masih campur-campur dan juga tidak semua warga bisa berbahasa Jawa. Kalau sudah begitu ya terpaksa memakai bahasa Indonesia, tidak bisa dipaksakan. Kalau melayani orang muda yang tak bisa berbahasa Jawa halus, ya memakai bahasa ngoko),” terang Zaenudin. 

Seorang warga Wuryanti (40) mengatakan apresasinya terhadap langkah Pemdes Jambu. Namun ia mengaku kaget mengetahui jajaran pamong yang memakai pakaian lurik dan menggunakan bahasa Jawa.

Ya baru tahu juga tentang peraturan ini, biasanya kan tidak pakai pakaian seperti ini,” ujar warga Jambu Barat itu sambil tersenyum.  

Editor : Kholistiono

Komentar

komentar


    Print       Email


Artikel terkait lainnya

Wabup Pati Sidak di Dinas Pertanian, Ini Temuannya

Selengkapnya →