Loading...
You are here:  Home  >  Opini Warga  >  Artikel ini

Tak Mudah Memberlakukan Full Day School



   /  @ 12:36:44  /  26 Juli 2017

    Print       Email

 

Farid Jaelani
Mahasiswa STAIN Kudus, Jurusan Tarbiyah, Prodi Bahasa Arab

TAHUN pelajaran baru 2017-2018 setingkat sekolah dasar dan  menengah  sudah mulai berjalan beberapa hari yang lalu. Hal ini menandakan mata pelajaran yang akan disampaikan kepada  peserta didik  sudah mulai dipersoalkan dan dibahas sesuai dengan kurikulum yang dipakai oleh sekolah tersebut.

Tak hanya segi kurikulum yang dibahas tapi soal metode-metode pengajarannya hingga infrastrukturnya  pun juga ikut dibahas dalam rapat tahunan guru. Beberapa waktu lalu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Prof Dr Muhadjir Effendy menggagas dan meluncurkan program full day school (FDS) atau sekolah sehari penuh. Program tersebut digadang-gadang dapat menciptakan karakter seorang siswa yang baru-baru ini dianggap mulai luntur.

Program tersebut memang baik jika diimplementasikan dengan benar dan tepat pada sasarannya. Tapi malah sebaliknya, program tersebut masih menuai pro kontra dari semua lapisan. Pasalnnya program tersebut dirasa terlalu cepat untuk diluncurkan dan diterapkan ke berbagai sekolah atau madrasah.              

FDS yang diluncurkan oleh mendikbud memang secara harfiah pembentukan karakterlah yang diutamakan. Namun , program tersebut cendurung seperti program pengawasan anak dalam sehari. Hal ini menandakan seolah-olah orang tua tidak percaya tentang tanggung jawab yang dimiliki oleh buah hatinya. Di kota misalnya, berbagai masalah yang sering  orang tua lakukan adalah lengahnya pengawasan.

Akibatnya timbul kegiatan negatif, seperti pelecehan seksual, penculikan dan lain-lain. Problem tersebutlah yang menjadi titik permasalahan terbitnya sekolah 5 hari oleh mendikbud. Belajar terus-menerus  memang dibolehkan dan dianjurkan , dan tentunya itu jauh lebih baik  dari pada sepulang sekolah peserta didik tidak punya kegiatan. Parahnya lagi mereka lepas pengawasan dari orang tua.

 Penawaran  FDS memang jauh lebih baik dari pada peserta didik lepas pengawasan dari  orang tuanya. Namun dalam penyelenggaraka program tersebut dalam sekolah atau madrasah tentunya ada penawaran harga yang lebih dibanding dengan penyelenggaraan pembelajaran reguler. Hal itu menandakan hanya siswa beruanglah  yang mampu mengakses program tersebut. Otomotis siswa yang kurang mampu tentunya tetap istiqomah dalam pembelajaran regulernya.

Keadaan Pendidikan di Indonesia                                                                                                           

Pendidikan di Indonesia dirasa masih ketinggalan jauh sama negara tetangga lainnya. Faktor yang mempengaruhi di antaranya adalah kurikulum pembelajaran serta sarana dan prasarana yang masih minim yang dianggarkan pemerintah. Apalagi yang sekarang digadang – gadang akan meluncurkan sekolah 5 hari yang notabenenya membutuhkan sarana dan prasarana yang lengkap dan memadai.

Berdasarkan data pada Raker Komisi X DPR RI dengan Mendikbud 21 Juli 2016, dari 1.833.323 ruang kelas, hanya  466.180 yang dalam kondisi  baik, sisanya              1.367.143 ruang kelas rusak dengan rincian 930.501 atau 51% rusak ringan, 283.232 atau 15% rusak sedang, 78.974 atau 4 % rusak berat dan 74.436 atau 4 % rusak total.                                                                                                                       

Tak hanya itu, kesiapan dalam menjalankan sekolah  sehari penuh juga harus menggunakan sarana dan prasarana yang layak. Jika disurvei  dari 217.781 sekolah, terdapat 104.081 yang belum memiliki peralatan pendidikan. Dijenjang SD dari 151.586 sekolah, baru 86.058 yang sudah memiliki alat pendidikan, sisanya 65.528 sekolah belum memilikinya. Di SMP dari total 39.787 sekolah, baru 25.559 yang sudah , baru 25.559 yang sudah memilikinya, akan tetapi 14.228 belum memiliki alat pendidikan. Padahal fasilitas adalah alat penunjang keberhasilan dalam kegiatan belajar mengajar.

Sudah sepatutnya pemerintah tidak terburu-buru dalam merubah mekanisme pendidika. Memang benar           pemerintah sigap dalam mengambil keputusan dalam memperbaiki pendidikan negeri ini. Akan tetapi , dilihat dari kesiapan dalam berbagai sekolah masih relatif lemah. Tak hanya fasilitas yang sering dibahas yang notabenya masih kurang lengkap.      

Guru, kata yang sering muncul dalam dunia pendidikan . Jika memang benar  full day school ini akan diterapkan serentak di Indonesia, maka  guru swasta yang kemungkinan  akan terkuras habis tenaga, waktu dan pemikirannya.

Bahkan waktu untuk bekerja sampingan pun akan tersita hanya untuk program FDS ini. Semua orang tahu  bahwa gaji guru swasta itu tidak seberapa, jika dibandingkan dengan guru PNS. Bahkan guru swasta yang mengajar madrasah ibtidaiyyah kadang masih ada yang menerima gaji  Rp 300.000 per bulan. Dan untuk  menambah penghasilan lain, mereka bekerja sampingan setelah mengajar

Menurut  Khofifah Indah Parawansa, menteri sosial, wacana sekolah sehari penuh belum bisa diterapkan di seluruh sekolah atau madrasah di Indonesia. Mengingat, persoalan  di daerah dan metode pembelajaran yang efektif sangat bergantung dengan situasi di daerah masing-masing. Sekolah sehari penuh ini sekiranya mungkin cocok diterapkan di daerah perkotaan yang rata-rata orang  tua mereka sibuk dengan pekerjaannya. Juga sangat cocok,  jika diterapkan di penitipan anak, yang kegiatannya super padat. Dan itupun,  harus dilengkapi dengan sarana dan prasarana yang lengkap dan memadai.

Madrasah  Diniyah Terancam                                                                                                    

Madrasah diniyyah merupakan  suatu lembaga pendidikan yang berbasis pada keagamaan yang ranahnya pada jalur luar sekolah dengan meneruskan pendidikan agama Islam. Adapun cara pembelajaraanya memakai sistem klasikal. Lembaga pendidikan tersebut juga mempunyai beberapa tingkatan layaknya seperti sekolah umum lainnya, di antaranya tingkatan awaliyah, wustho , dan ulya.

Sejarah adanya lembaga agama ini memang sudah ada sejak jaman  penjajahan  dulu. Hal ini dibuktikan dengan umur rata-rata madrasah diniyah di Indonesia yang sudah mencapai puluhan tahun, bahkan ada yang mencapai 1 abad. Lembaga inilah yang memberi kontribusi terhadap nilai karakter dengan pendidikan agama  yang dapat melahirkan generasi penerus bangsa yang berbudi luhur.        

Namun sejak diluncurkannya program sekolah sehari penuh, seolah –olah mengagetkan beberapa pengurus madrasah ini. Hal ini dirasa kurang etis, karena madrasah ini biasanya mulai pembelajarannya pukul 14.00 sampai 16.00 WIB. Secara otomatis madrasah ini akan gulung tikar jika peserta didiknya masih berada di sekolah mengikuti sekolah sehari penuh  ini.                                                                

Lembaga  ini seharusnya diperhatikan karena sudah ikut andil dalam mencerdasakan anak bangsa. Perlu diketahui. Jika memang sekolah sehari penuh memang diterapkan, otomatis pendidikan di Indonesia ini mengkhususkan atau mendominasi mata pelajaran umum saja . Padahal mata pelajaran agamalah yang sering digunakan dalam bersosialisasi tertutama dalam akhlak karimahnya.

Apa jadinya nanti ketika Indonesia lepas tanpa adanya akhlak karimah. Sudah barang tentu kejadian kriminal berpeluang lebih terbuka lebar dilakukan anak-anak. Tawuran mudah terjadi, dan kriminal lainnya.

Tercatat pada tahun 2008, bahwa jumlah madrasah diniyah seluruh Indonesia adalah 37.102 unit. Mereka mendidik santri sebanyak 3.557.713 orang, dengan jumlah guru 270.151 orang. Angka tersebut bukanlah angka sedikit.  Tentunya jumlah guru yang begitu banyak yang ikhlas dalam mengajar, bahkan mereka tidak dapat tunjangan sertifikasi, namun mereka rela demi membentuk karakter seorang anak didik.

Oleh karena itu, sekolah sehari penuh atau full day school ini sebaiknya jangan terburu – buru diluncurkan supaya tidak menimbulkan persoalan –persoalan baru nantinya. Sebab program tersebut tidak hanya membutuhkan waktu belajar, tetapi fasilitas dan tenaga guru yang ekstra pun juga harus dibutuhkan. 

Dalam istilah kaidah ushul fiqih “ dar’ul mafasid muqoddamun ‘ala  jalibil  mashalih”  yang maksudnya menghindari atau mencegah kerusakan hendaknya didahulukan dibanding melakukan inovasi yang tak teruji.  Wallahu a’lam bishshowwab.

(Farid Jaelani, Warga Undaan, Kabupaten Kudus. Artikel ini dimuat MuriaNewsCom, Rabu 26 Juli 2017)

 

 

 

Komentar

komentar


    Print       Email


Artikel terkait lainnya

Asyiknya Nge-Jazz Sambil Berkubang Lumpur

Selengkapnya →