Loading...
You are here:  Home  >  Info Muria  >  Artikel ini

Cuaca Tak Menentu, Petani Garam di Rembang Gelisah



Reporter:    /  @ 17:31:45  /  25 Juli 2017

    Print       Email

Salah satu petani garam sedang menggarap lahannya untuk membuat garam.(MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom,Rembang – Meski telah memasuki musim kemarau sejak awal bulan Juni lalu. Namun saat ini  petani garam di Rembang masih belum bisa memanen hasilnya.

Pasalnya, proses produksi garam hingga pertengahan Juli ini belum membuahkan hasil. Hanya ada beberapa petani yang berhasil panen garam, itupun dengan jumlah dan kualitas yang jauh di bawah standar.

Jika cuaca dalam kondisi normal, biasanya petani garam sudah bisa panen sebanyak tiga kali. Namun, lantaran anomali cuaca yang masih belum menentu, sebagian besar petani masih belum bisa memproduksi garam.

Salah satu petani garam, Jasman, warga Desa Waru, Kecamatan Rembang mengaku sejak awal proses penggarapan tambak garam miliknya pada awal bulan Juni lalu, pihaknya baru berhasil memanen garam satu kali. Itupun hanya mampu menghasilkan 20 karung garam atau sekira 1 ton garam dari tiga petak tambak miliknya.

“Harusnya sudah tiga kali panen, tapi kemarin masih saja ada hujan, sehingga harus mengulang lagi dari awal proses penggarapan tambak. Selama 1,5 bulan, baru sekali panen, itupun jumlahnya jauh dari harapan. Selain itu kualitasnya juga tidak sebaik jika kondisi cuaca normal,” ungkapnya.

Hal serupa juga diungkapkan Wakijan, warga Desa Banggi,Kecamatan Kaliori. Ia mengeluhkan, meskipun pihaknya telah menggunakan metode plastik dalam produksi garam, namun selama masuk musim kemarau ini selalu gagal dalam produksi.

“Harusnya sudah empat kali panen, tapi selama ini saya selalu gagal karena hujan. Tiap turun hujan, proses penambakan harus mulai kembali dari awal, mulai nylender untuk meratakan tanah sampai tuang air lagi,” ujarnya.

Ia mengaku hampir putus asa terkait kondisi cuaca yang tidak menentu. Kini pihaknya memaksakan untuk menggarap satu petak tambak garam, meskipun airnya masih tercampur dengan air hujan.

Hal ini, ternyata juga berimbas pada kenaikan harga yang cukup signifikan. Dari harga normal rata-rata petani hanya berkisar tak lebih dari Rp 1.000 per kilo, kini melonjak empat kali lipat. Harga berkisar Rp 3.500 sampai Rp 4.500 per kilogram. 

Editor : Kholistiono

Komentar

komentar


    Print       Email


Artikel terkait lainnya

Jepara Dapat Jatah Rehab RTLH Dari Pemprov Sebanyak 568 Unit

Selengkapnya →