Loading...
You are here:  Home  >  Info Muria  >  Artikel ini

Peneliti dari Perancis Kepincut Prasasti Sambikalung di Pamotan Rembang



Reporter:    /  @ 18:30:50  /  19 Juli 2017

    Print       Email

Peneliti dari Perancis sedang mengamati Prasasti Sambikalung yang berada di Desa Pamotan. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom,Rembang – Peneliti dari Perancis Dr. Veronique Blood bersama pakar arkeologi nasional Prof. Agustianto tertarik pada peninggalan bersejarah di Kabupaten Rembang. Di antaranya  situs perahu kuno di Punjulharjo serta Prasasti Sambikalung di Desa Pamotan, Kecamatan Pamotan.

Selama dalam perjalannya di Kota Garam tersebut, mereka telah menyusuri beberapa peninggalan bersejarah. Baik mulai dari piringan, caruban, situs Majapahit di Jolotundo dan  Sumber Girang di Lasem, Masjid Lasem, Desa Gembleng Mulyo, dan Dukuh Ngreco Langkir.

Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia dan Tenaga Ahli Cagar Budaya Rembang Edi Winarno saat mendampingi peneliti tersebut mengatakan, peneliti perancis tertarik Prasasti Sambikalung, karena selain ukurannya besar juga terdapat tulisan kecil huruf kuno berjajar rapi yang diperkirakan usianya ratusan tahun, dan hingga kini yang isinya belum tergali.

“Situs Sambikalung awalnya terdapat di  pohon kesambi. Muncul secara keseluruhan setelah pohon kesambi tumbang tahun 1994 dan dilaporkan ke balai arkeologi. Namun karena keberadaan prasasti  masih misterius, menjadi ketertarikan Arkenas dan peneliti Perancis,” bebernya. 

Ukuran Prasasti Sambikalung berbentuk besar, terdapat tulisan kuno yang masih misterius dan belum bisa dikenali, karena tulisannya kecil berjajar rapi ukuran sekitar 1 cm.

“Prasasti ini tidak cukup bisa dimaknai tapal batas, meski ada hal penting yang disampaikan dalam prasasti. Sehingga kita mengupayakan minta bantuan Balai Arkeologi Yogyakarta yang mempunyai alat lebih canggih untuk menelitinya,” ungkapnya. 

Namun demikian, ia menyayangkan kondisi prasasti yang tidak terawat karena termakan cuaca panas dan hujan, sehingga menyebabkan tulisannya mulai terkikis dan tidak kelihatan. 

“Saya berharap ada perhatian dari pemkab atau pihak desa khususnya untuk pelestrarian sejarah prasasti, minimal terlindung dari cuaca panas dan hujan dengan dibuatkan kanopi,” harapnya.

Sementara itu, Ketua RW 07 Dukuh Sambikalung  Trimo menyatakan, pihaknya sebelumnya sudah mengusulkan pihak Desa Pamotan untuk membuatkan kanopi agar kondisi Prasasti Sambikalung bisa terawat. Namun sejauh ini belum ada tanggapan dari pihak desa.

Editor : Kholistiono

Komentar

komentar


    Print       Email


Artikel terkait lainnya

Jepara Dapat Jatah Rehab RTLH Dari Pemprov Sebanyak 568 Unit

Selengkapnya →