Loading...
You are here:  Home  >  Opini Warga  >  Artikel ini

Anak, Seperti Pohon Jambu dan Pohon Kelapa



Reporter:    /  @ 12:07:31  /  18 Juli 2017

    Print       Email

Muhammad Itsbatun Najih,
Warga Kudus

KEBERSAMAAN anak dengan kedua orang tua, terutama kepada Ibu, mulai berkurang. Kini, Ibu tidak sedikit yang bekerja hingga menjelang sore. Sementara Ayah, berkewajiban mencari nafkah. Anak, lantas diakrabkan kepada kerabat-tetangga atau nenek untuk asyik bermain bersama. Model pengasuhan ini menggantikan pengasuhan tempo dulu kala Ibu masih mempunyai waktu berlebih menceritakan aneka pengetahuan kepada si anak. Seiring laju modernitas, celah ini lantas ditangkap dengan pertanda menjamurnya penitipan anak. Di tempat yang sudah menjamah pedesaan ini, anak-anak bermain, makan, dan bersenang-senang bersama teman sebaya, sampai nanti orang tua menjemputnya.

 Lepas itu, anak di hadapkan dalam bingkai ajang persekolahan, sekadar main-main untuk lekas belajar agak serius. Membanjirlah tempat dengan sebutan kelompok bermain (KB) dan sekolah PAUD (pendidikan anak usia dini). Di taman kanak-kanak (TK), si anak diharap sudah bisa membaca, menulis, dan berhitung. Berdasar hal ini, kebersamaan orang tua dan peranan terutama si ibu sebagai elan vital dan subjek pertama mendidik anak, mulai tertanggalkan.

Gerak modernitas juga menghilirkan banyak lembaga formal pendidikan, seperti PAUD dan TK. Mereka berlomba menarik hati para orang tua. Semisal di TK ini, ditambahkan pengajaran bahasa asing. Dan di TK sebelah, tersedia lengkap fasilitas belajar dan sarana bermain. Dari sini, kiranya sudah dimunculkan benih-benih pemacuan agar si anak menjadi anak hebat dan jagoan; lancar berhitung, membaca, menulis, bernyanyi, berenang, bermusik, dan lainnya. Ada hasrat anak dijadikan orang tua sebagai manifestasi ukuran agar mampu menjawab tantangan zaman dewasa nanti.

Hal ini berlanjut kala mulai sekolah dasar (SD) terpatri sistem pemeringkatan (rangking). Si anak cerdas adalah yang memperoleh nilai/angka paling tinggi di hampir semua mata pelajaran, untuk kemudian menduduki rangking satu. Sebaliknya, anak-anak yang berkecenderungan biasa saja tidak ubahnya kebanyakan orang. Ironisnya, tak sedikit anak yang hanya unggul di satu mata pelajaran/keahlian, akan terpental dari apresiasi karena tak kebagian peringkat kelas. Dari sini, anak lantas dileskan agar ia menjadi andal berhitung. Dengan artian, sekadar agar nilai/angka matematika membaik; padahal ia unggul di ranah kesenian, atau misal pandai menggambar.

Fenomena ini lantas terus berlanjut hingga jenjang sekolah lanjut atas (SMA) dan kemudian si anak masuk ke perguruan tinggi (PT). Basis/pondasi yang kadung dibangun kurang tepat itu disebabkan si anak dan terutama orangtua abai dan alpa memetakan keistimewaan si anak sedari usia dini. Kita sudah sering mendengar bahwa setiap anak mempunyai keunikan dan spesialisasi masing-masing.

Menurut Idad Suhada (2016) dalam Psikologi Perkembangan Anak Usia Dini, harusnya, pemetaan dan pembacaan orang tua terhadap potensi otentik/bakat si anak sudah bisa ditemukan sejak usia balita. Kini, imbasnya kita pun akhirnya maklum dengan fenomena banyak mahasiswa merasa salah masuk jurusan/bekerja tidak sesuai “bakat”, lantaran sedari kecil tidak terlatih menemukan potensi otentik dalam dirinya.

Peran orang tua dalam memperkuat basis pendidikan si anak terlebih dahulu ditekankan perihal pentingnya kesadaran kepada orang tua agar mereka tidak menjadikan si anak sebagai ukuran pembanding terhadap anak lain. Si anak yang lebih berorientasi kepada dunia kesenian, akan tidak optimal manakala orang tua menghendaki untuk kuliah di jurusan arsitektur.  Fenomena jamak terjadi itu sedikit-banyak didasari oleh sekadar urusan sejauh mana keterjaminan finansial si anak di kemudian hari.

Unsur lain, adalah persaingan, menciptakan pemeringakatan di kelas. Anak diperlombakan agar unggul di semua mata pelajaran. Dan di sisi lain, menanggalkan optimalisasi potensi diri/bakat mereka. Manusia adalah makhluk unik yang berdimensi menjadi keberbedaan. Orang tua tidak perlu membandingkan anaknya yang lemah di bidang eksakta namun jago di ilmu sosial dengan anak tetangga yang juara olimpiade Fisika. Menurut kajian Psikologi Anak, kutip Idad Suhada (2016), bakat/potensi otentik diri adalah fitrah.

Seperti halnya ikan tidak akan pernah bisa  memanjat pohon sebagaimana kera tidak bisa berenang. Begitupun tingginya pohon kelapa, tidak bisa dibanding-bandingkan dengan tingginya pohon jambu. Semua anak mempunyai keistimewaan dan keunikan masing-masing. Yang mana satu dengan yang lainnya tercipta untuk saling melengkapi sebagai basis harmoni dan keselarasan kehidupan.

Dalam konteks sekarang, orang tua yang sibuk, bisa menyisipkan waktu belajar bersama si anak saat malam hari dan di akhir pekan. Dibutuhkan sinergitas dengan stakeholder pendidikan, guru sekolah PAUD, tentang potensi diri si anak untuk kemudian bisa dikembangkan dan dioptimalkan. Sinergitas bisa terlihat kala orang tua mengantarkan ke sekolah si anak untuk kemudian berbincang sesaat –namun kontinu tiap hari- kepada guru. Gelaran pertemuan berkala antara orang tua dan pihak sekolah juga penting. Terutama lagi, pemberian porsi pengajaran terkait moralitas dan tatakrama juga mendesak diberikan, sebagai pendidikan pengembangan mental si anak.

Boleh jadi si anak bakal stres bila tidak disesuaikan dengan minat dan bakatnya. Sudah saatnya meninggalkan anggapan bahwa sukses anak merupakan bukti kesuksesan orang tua. Sayangnya, model pemaksaan orang tua itu kini terwartakan ramai terjadi di Amerika Serikat.

Banyak orang tua sudah mendaftarkan calon anak mereka di sekolah-sekolah bergengsi begitu mereka hamil. Anak bak sudah diprogram dan setelah itu mereka diandaikan bakal lebih mudah masuk ke universitas top Amerika dan bekerja di perusahaan besar. Pun, memaksa si anak untuk lekas berlatih berenang agar cepat-cepat dapat mengikuti Olimpiade (Intisari, Mei 2017).

Kita tentu tidak menginginkan hal itu terjadi di sini; orangtua yang memaksa dan telah memprogram sebegitu rupa kepada si anak. Potensi diri otentik/bakat adalah sesuatu yang unik dan biasanya muncul secara alami. Tugas orang tua sekadar menganalisis bakat si anak dan mengembangkan potensinya di tengah kesibukan mereka yang bekerja dari pagi hingga jelang sore.    (*)

 (Muhammad Itsbatun Najih, Alumnus UIN Yogyakarta. Artikel dimuat MuriaNewsCom, pada Selasa/18/7/2017)

 

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

Mulai Beralih Fungsi, Anggota Dewan Soroti Penggunaan GOR Simpanglima Purwodadi

Selengkapnya →