Loading...
You are here:  Home  >  Info Muria  >  Artikel ini

IKM Tapioka Krisis, DPR Panggil 3 Menteri ke Pati



Reporter:    /  @ 13:02:42  /  17 Juli 2017

    Print       Email

Anggota DPR RI Firman Soebagyo (berbaju putih) saat meninjau langsung lokasi IKM tapioka di Ngemplak, Margoyoso, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Krisis yang melanda industri kecil menengah (IKM) tapioka di Pati menjadi perhatian khusus anggota DPR RI Firman Soebagyo. Politisi senior Golkar ini memanggil tiga menteri untuk datang ke Pati, meninjau secara langsung dan menyelesaikan masalah tersebut.

Firman menilai, krisis IKM tapioka di Pati disebabkan impor di tengah ketersediaan tapioka lokal yang melimpah. Akibatnya, harga singkong turun drastis dan berimbas pada nasib para petani.

“IKM tapioka di Pati dalam posisi yang sangat memprihatinkan. Hampir semua produk-produk pertanian kita mengalami tantangan berat karena adanya impor. Padahal, produksi tapioka di Pati mengalami surplus,” ucap Firman, Senin (17/7/2017).

Wakil Ketua Badan Legislasi DPR RI ini menyebutkan, masalah utama pelaku IKM tapioka di Pati adalah produksi yang meningkat, tetapi tidak ada serapan. Ketimpangan itu semakin terasa saat data kebutuhan tapioka nasional cukup besar, pada saat yang sama, serapan lokal menurun.

Hal itu disebabkan kecenderungan pabrik-pabrik besar mengedepankan impor untuk bahan baku tapioka. Bila kondisi itu dibiarkan, nasib petani singkong di Pati menjadi taruhannya.

Kondisi itu menurut Firman tidak sejalan dengan konsep pemerintah dalam menarik investasi untuk mengembangkan usaha. Sebab, investasi dan usaha harus berbanding lurus dengan serapan tenaga kerja, kesejahteraan masyarakat, termasuk penggunaan bahan baku lokal.

“Saya sudah berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian, Pedagangan dan Perindustrian. Atas surat Pak Wapres Jusuf Kalla, saya meminta Pak Menteri untuk hadir ke Pati meninjau langsung kondisi di lapangan dalam waktu dekat. Pak Menteri sangat responsif menanggapi persoalan ini,” kata Firman.

Sementara itu, salah satu anggota paguyuban IKM tapioka, Mashuri Cahyadi menjelaskan, minimnya serapan tapioka lokal yang membuat harga singkong anjlok menyebabkan para petani enggan memanen singkong. Mereka lebih memilih tidak panen ketimbang tekor.

Soal kualitas singkong yang dianggap Staf Khusus Wapres RI Michiko Nachi tidak memenuhi spesifikasi, Mashuri menepisnya. Pasalnya, pelaku IKM di Pati, terutama Ngemplak sudah menerapkan standar internasional ISO.

“Ada sejumlah industri menengah yang beli tapioka Ngemplak dengan standar ISO. Artinya masalah spek sudah masuk. Kalau perusahaan besar beralasan tidak sesuai spek itu tidak rasional, karena sama-sama pake standar ISO,” tutur Mashuri.

Karena itu, impor yang dilakukan perusahaan-perusahaan besar dianggap sebagai sebuah bencana besar bagi para petani. Bagi dia, impor datang bukan untuk memenuhi kekurangan dalam negeri, tapi untuk membunuh produk tapioka lokal.

Editor : Kholistiono

Komentar

komentar


    Print       Email


Artikel terkait lainnya

Taman Bajomulyo Juwana Dikembangkan Jadi Objek Wisata

Selengkapnya →