Loading...
You are here:  Home  >  Regional  >  Grobogan  >  Artikel ini

Begini Cara Bertahan Hidup Keturunan Empu Supa, Si Ahli Keris Zaman Kerajaan, di Grobogan



Reporter:    /  @ 10:00:28  /  12 Juli 2017

    Print       Email

Wargono, sedang menyelesaikan pekerjaannya sebagai pande besi di Dusun Tahunan, Desa Putatsari, Kecamatan/Kabupaten Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Pekerjaan sebagai seorang pande besi sudah dijalani Wargono selama puluhan tahun. Pilihan dengan pekerjaan itu dilakukan pria berusia 66 tahun tersebut bukan semata-mata sebagai mata pencaharian saja. Tetapi lebih dari itu, dengan menekuni pande besi, Wargono secara tidak langsung ikut melestarikan keahlian luluhurnya.

Wargono tinggal di sentra pande besi di Dusun Tahunan, Desa Putatsari, Kecamatan/Kabupaten Grobogan. Di dusun tersebut ada ratusan pande besi. Sehari-hari, para pande besi tersebut kebanyakan membuat alat pertanian dan rumah tangga. Seperti cangkul, sabit, bendo dan pisau.

Di antara pande besi, Wargono termasuk paling senior. Tidak hanya itu saja, menurut cerita orang tuanya, leluhur Wargono dulunya masih merupakan garis keturunan Empu Supa. Seorang ahli pembuat keris pusaka pada era Mataram kuno dan juga salah satu murid dari Sunan Kalijaga.

“Saya ini termasuk generasi keenam dari leluhur yang jadi pande besi di sini. Saya sudah sejak anak-anak sudah membantu orang tua yang juga jadi pande besi. Keahlian pande besi ini didapat secara turun temurun,” terangnya.

Wargono, memperlihatkan hasil pekerjaannya sebagai pande besi di Dusun Tahunan, Desa Putatsari, Kecamatan/Kabupaten Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

Pada awalnya, barang yang dibuat leluhur pande besi di Dusun Tahunan tidak berupa alat pertanian atau peralatan rumah tangga. Tetapi, berwujud pusaka, seperti keris dan mata tombak. Pada ratusan tahun lalu, leluhur pande besi di Tahunan merupakan orang kepercayaan untuk membuatkan pusaka Kadipaten Grobogan. Tepatnya, ketika Kadipaten Grobogan masih berpusat di Kecamatan Grobogan dan belum pindah ke Purwodadi.

Seiring perjalanan waktu, sudah tidak ada lagi orang yang bikin pusaka. Sekarang. “Kalau simbah saya masih bikin keris. Tetapi, oleh bapak, saya boleh jadi pande besi tetapi dilarang bikin keris. Makanya, saya tidak berani melanggar pesan ini sampai sekarang,” katanya.

Keahlian pande besi ternyata juga menurun pada putranya Miftakhul Huda (32). Sejak kecil, putranya sudah mulai dilatih menjadi seorang pande besi andal. Bahkan, produk Huda saat ini sudah dikenal banyak orang karena barang yang dibikin beda dengan lainnya. Yakni, pisau berpamor atau memiliki motif seperti sebuah ukiran. Seperti yang biasa terdapat pada sebilah keris pusaka. “Kalau bikin pacul atau sabit juga bisa. Tetapi, lebih banyak bikin pisau pamor,” imbuh pria berkaca mata tebal itu. 

Editor : Akrom Hazami

 

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

DPC PDIP Kudus Buka Penjaringan Calon Bupati

Selengkapnya →