MuriaNewsCom
Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Berupaya Menjaga Terumbu Karang

336
Bin Subiyanto M
Pegiat Ekologi  Pulau Panjang 1990 – Jepara Jateng

TERUMBU karang sebagai habitat adalah “Rumah Tinggal “yang nyaman bagi berbagai spesies organisme di laut. Ekosistem laut terumbu karang banyak yang  berada  di pantai. Tetapi ada beberapa tipe terumbu karang  yang hidup jauh di kedalaman  laut. 

Kehidupan terumbu karang dan upaya merawat kelestariannya telah lama menjadi perhatian khusus lembaga konservasi dunia. Terbukti, Conservation International (CI) meluncurkan film Virtual  reality berjudul “Valens Reef“. Film mengangkat cerita perjalanan ilmuwan  Ronald  Mambrasar dalam menjaga segitiga  terumbu karang di bentang laut  kepala burung, di barat laut Papua.

Pada pertemuan media bertajuk “Konservasi Laut di Raja Ampat dan Kaimana”  di Jakarta, Selasa 26 Juli 2016, ilmuwan senior  Conservation  International  M Sanjayan mengatakan,  Valens Reef  mengajak kita ke bawah laut Raja Ampat, melihat lebih 600 jenis terumbu karang  dan 1765 spesies ikan  yang hidup  di sana.

“Lokasi ini adalah  salah satu program konservasi laut  berbasis komunitas  yang paling  sukses  yaitu inisiatif bentang laut kepala burung,” katanya eyakinkan bahwa metode konservasi berbasis komunitas memang signifikan untuk membuat perubahan. Sekaligus menguatkan rasa cinta untuk laut Indonesia.

Namun apa hendak dikata, ketika  pada 4 maret 2017 yang lalu  kapal pesiar  MV Caledonia  kandas di perairan  Raja Ampat.  Kapal yang kandas bisa  diangkat  tetapi  merusak  1.600 meter persegi  terumbu karang aset dunia di Raja Ampat itu. Padahal telah ratusan tahun ekosistem  di barat laut Papua tersebut   menjadi habitat  ribuan spesies ikan.

Sementara itu nampaknya Kementerian Kelautan dan Perikanan RI  masih amat fokus pada pengawasan terhadap Illegal-Fishing. Menenggelamkan, menyikat dan menangkap Kapal Ikan Asing (KIA) pelaku pencurian ikan di wilayah kelautan  Indonesia.

Terkait KIA  Dirjen  PSDKP(Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan )  Kementerian Kelautan dan Perikanan, DR.Ir.Eko Djalmo MH, menyatakan bahwa pada 7 Maret 2017( tiga hari setelah peristiwa kandasnya Kapal MC Caledonia di Raja Ampat),  pihaknya telah menangkap  KIA  asal Vietnam dengan 44 awak kapal  di pulau Tiga Kumbik- Natuna.  Menyusul kemudian penangkapan empat KIA asal Pilipina, yang sedang penuh muatan ikan Cangkalang di wilayah laut Sulawesi pada 16 maret 2017.  Jadi total sampai bulan April sejak Januari 2017  KKP telah berhasil menangkap 106 KIA. 

Di tengah perhatian publik pada sigapnya PSDKP menangkap KIA. Ternyata ada fakta lain yang terabaikan.  Hal yang serupa di Raja Ampat Papua juga terjadi di kawasan Balai Taman Nasional di Kepulauan Karimunjawa, Kecamatan Karimunjawa, Kabupaten Jepara Jawa Tengah.  Proses kerusakan terumbu karang  di wilayah itu justru telah tercatat sejak awal tahun 2017  yang disebabkan benturan dasar kapal. Akibat kapal-kapal tongkang  yang  kandas lalu menabrak terumbu Karang. Ditambah efek lintasan kapal pengangkut  batubara dari Kalimatan ke Jawa.

Kerusakan terumbu karang yang semula 200 meter persegi di bulan Januari, menyusul laporan di bulan Maret telah bertambah  menjadi 1.660 meter persegi sebagaimana terungkap pada Rapat Dengar Pendapat  Komisi B DPRD Jawa Tengah, di Semarang, 21 Maret 2017. Tercatat kerusakan meliputi wilayah Pulau Gosong, Pulau Cilik  dan Pulau Tengah.

Tahun lalu sebagian wilayah pulau tersebut, merupakan area wisata snorkeling favorit untuk menikmati keindahan bawah laut berpadu dengan   gugusan bakau atau mangrove  yang memesona dan menghiasi di pesisir puluhan pulau-pulau kecil lainnya  di Karimunjawa.

Belajar dari  kerusakan terumbu karang di Raja Ampat Papua dan Karimunjawa serta memetik inspirasi film Virtual Reality  Valens Reef . Maka  harus terus diingat, bahwa terumbu karang yang hanya menghuni 0,2 persen permukaan bumi. Namun kehebatannya, terumbu karang berfungsi sebagai habitat  lebih dari 30 persen ikan di laut  dan menghasilkan nilai ekonomi sekitar  375 miliar US dollar / per tahun  untuk pangan, perlindungan kawasan pesisir serta pariwisata.

Urgensi perlindungan terumbu karang perlu menjadi perhatian ulang  Kementerian Kelautan dan Perikanan  RI. Selain berdasarkan pada   prinsip  pengelolaaan laut yang terintegrasi, produktif dan berkelanjutan serta berkeadilan. Juga  seharusnya berdasarkan pada sangat pentingnya  penegakan hukum  yang berkaitan dengan sangsi  terhadap pelaku perusakan terumbu karang. Tepatnya perlu ditinjau kembali UU No 5 tahun 1990, seperti juga yang diusulkan  seorang  anggota DPRD Jateng, yang menyebutkan bahwa perusak terumbu karang hanya dikenakan pidana 1 tahun  dan denda 50 juta.

 Jika demikian perundangan yang diberlakukan  maka  memang betul-betul ironis dan sungguh tidak berkeadilan. Karena hukuman dan denda tersebut sangat  ringan dibandingkan dengan akibat -kerusakan  yang berdampak pada nilai ekonomi bernilai miliar US dolar dan penyelamatan kembali sistem ekologi kelautan  yang memerlukan ratusan tahun.

Memahami bahwa perlindungan terumbu karang tidak kalah pentingnya dibandingkan dengan penangkapan KIA yang merambah di wilayah  RI. Maka sudah mendesak keadaan sekarang ini agar Kementerian Kelautan dan Perikanan mengintensifkan pengawasan di wilayah kawasan Konservasi  Nasional  dan perairan- perairan lain habitat terumbu karang. 

Jangan hanya memandang bunga di taman yang jauh. Lihatlah bunga di balik jendela kamarmu. Jangan hanya menilai besarnya ancaman KIA pencuri ikan, tapi, lihatlah terumbu karang, yang sejatinya ia tidak hanya menghidupi ikan di laut, tetapi juga untuk kehidupan manusia.

(Bin Subiyanto M, Direktur PADERI (Pusat Analisis Demokrasi Ekonomi keRakyatanIndonesia). Tinggal di Kudus. Artikel dimuat MuriaNewsCom, pada Senin/19/6/2017)

 

United Futsal Pc

Ruangan komen telah ditutup.