MuriaNewsCom
Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Ngaji Bandongan Menjadi Andalan di Bulan Ramadan

561
Muhammad Yusril Muna
Alumni MA NU TBS Kudus

RAMADAN merupakan bulan yang sangat dirindukan seluruh umat Islam, karena sangat istimewa dibandingkan bulan lainnya. Di mana terdapat banyak keutamaan pada bulan suci Ramadan. Satu-satunya bulan yang tidak akan didapati pada bulan lain yaitu puasa Ramadan.

Bulan Ramadan adalah bulan yang penuh rahmat, bulan yang penuh magfiroh atau ampunan, dan juga bulan yang dijauhkan dari api neraka. Sebagaimana sabda Rasulullah :  “Apabila datang bulan Ramadan maka dibukakan pintu-pintu surga, ditutupkan pintu-pintu neraka dan setan-setan dibelenggu”.

Maka atas dasar itu umat Islam di bulan Ramadan berduyun-duyun untuk beribadah semaksimal mungkin dan lebih menyibukan diri berlomba-lomba melakukan kebaikan. Karena Allah sudah menjanjikan akan melipatgandakan pahala kepada siapapun orang yang melakukan kebajikan dan kebaikan di bulan suci Ramadan.

Di Indonesia mempunyai berbagai kegiatan mengisi bulan Ramadan. Salah satunya ngaji bandongan. Dalam  metode ini,  santri menggali ajaran Islam melalui kitab kuning atau kitab turats.  Istilah bandongan sendiri berasal dari bahasa Sund, Ngabandungan, yang berarti memperhatikan secara seksama atau menyimak.

Dengan metode ini seorang murid akan belajar menyimak secara kolektif, namun dalam bahasa Jawa, bandongan disebutkan juga berasal dari bandong yang artinya pergi berbondong-bondong. Hal ini karena bandongan dilangsungkan dengan peserta dalam jumlah yang relatif besar. Tradisi ini menjadi daya tarik tersendiri bagi umat Islam yaitu menghadiri majelis ilmu di bulan suci Ramadan,  dengan kegiatan ngaji metode bandongan untuk mendapatkan ilmu.

Dalam mempraktikan metode ini, seorang kiai akan membacakan, menerjemah, dan menerangkan  kitab kuning dengan penerjemahan bahasa Jawa zaman dahulu. Pada kenyataanya ngaji bandongan ini sudah menjadi andalan di setiap pesantren, bahkan di surau, di masjid ataupun dilembaga formal atau dalam lembaga formal biasa disebut dengan “ngaji kilatan”. Kitab yang digunakan kiai adalah kitab kuning klasik yang dikarang oleh ulama terdahulu. Kitab itu seakan menjadi literatur wajib sebagai sumber referensi untuk memahami ilmu agama seperti ilmu Fiqih, ilmu Tauhid, ilmu Tasawuf dan lain sebagainya.

Masyarakat sangat senang dan bersemangat untuk datang menghadiri majlis ilmu, hanya untuk mengikuti ngaji bandongan tersebut. Karena hanya ada pada bulan Ramadan saja dan tidak ada pada bulan lainnya, dengan maksud untuk mengisi amaliyah-amaliyah Sunah di bulan suci Ramadan.

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW.

مَنْ حَضَرَ فِيْ مَجْلِسِ العِلم فِيْ رَمَضَانِ كَتَبَ اللهُ تَعَاليَ بِكُل قَدَم سَنَة.

Barang siapa yang menghadiri majlis ilmi pada bulan Ramadan, maka Allah akan menulis setiap (langkah) telapak kakinya dengan ibadah selama satu tahun.”

Seperti dikatakan di awal, bulan Ramadan merupakan bulan yang dianugerahkan oleh Allah SWT kepada seluruh umat Nabi Muhammad, yang didalamnya terkucurkan rahmat dan keutamaan yang diberikan seorang hamba yang ikhlas dalam menjalankan ibadah puasa dan ibadah-ibadah atau amaliyah-amaliyah lainnya.

Maka pada bulan Ramadan, seharusnya umat Islam untuk terus meningkatkan amal ibadahnya dan kebersihan hatinya untuk tidak melakukan hal-hal negatif atau maksiat dengan melakukan amaliyah-amaliyah Sunah yang ada. Agar di bulan suci Ramadan seorang hamba bisa beribadah dengan baik dan semaksimal mungkin.

(Muhammad Yusril Muna, alumni Pondok Pesantren Raudlatul Muta’allimin Kudus. Mahasiswa Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir UIN Walisongo Semarang. Artikel dimuat MuriaNewsCom pada Senin, 12 Juni 2017)

United Futsal Pc

Ruangan komen telah ditutup.