Loading...
You are here:  Home  >  Info Muria  >  Artikel ini

Rob Landa 2 Desa di Kecamatan Kedung Jepara



Reporter:    /  @ 15:12:41  /  3 Juni 2017

    Print       Email

Seorang petani garam di Desa Surodadi Kecamatan Kedung, sedang mengarap lahan. Karena rob dan hujan petani urung memanen garam karena harus kembali mengeringkan lahan mereka, Sabtu (3/6/2017). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Air rob melanda setidaknya dua desa di Kecamatan Kedung, yakni Desa Panggung dan Desa Surodadi. Fenomena alam ini telah berlangsung selama sepekan terakhir.

Khanifa (48) warga Desa Panggung mengatakan, sudah sejak seminggu belakangan air laut menggenang di sekitar tempat tinggalnya. Bahkan di tempat yang lebih rendah, air mencapai rumah-rumah. 

“Kalau di tempat saya itu setinggi di atas mata kaki, namun tak sampai masuk rumah. Kalau lebih dalam di kampung sampai rumah. Biasanya kalau siang seperti ini sudah mulai meninggi tapi ini belum,” katanya, Sabtu (3/6/2017).

Menurutnya, air mulai meninggi sewaktu-waktu. Bisa pagi hari, siang hari atau saat petang. Ia mengatakan hal itu sudah menjadi rutinitas tahunan. 

Sementara itu, di Desa Surodadi air laut masuk ke lahan pembuatan garam. Ditambah dengan guyuran hujan, praktis petani garam hingga kini belum bisa berproduksi. 

“Ini robnya tergolong tinggi, kalau sudah begitu biasanya berlangsung sampai seminggu. Ditambah lagi ada hujan, saya jadi harus mengeringkan kembali lahan untuk kemudian dimasukan air laut sebagai bibit,” ungkap Samsudin(45) seorang petani garam. 

Ia mengatakan, pada tahun lalu keadaannya lebih baik. Pada bulan yang sama, ia mengaku telah menuai endapan garam dari lahannya. Namun kali ini, dirinya belum menikmati hasil garam. 

Selain di Panggung dan Surodadi, Samsudin menyatakan, rob juga terjadi di Desa Babalan yang ada di Kabupaten Demak. Bahkan ada yang sampai masuk rumah. 

Terpisah, Ketua Kelompok Petani Garam “Garam Makmur” Sukahar mengatakan hampir semua lahan tambak garam di Kecamatan Kedung terdampak rob. Hal itu mengakibatkan waktu panen yang mundur.

Menurutnya, sekitar 100 hektar lahan yang ada terdampak gejala alam itu. “Ya tidak bisa untuk mengendapkan garam, karena harus mengeringkan tambak lagi,” ujar Sukahar.

Editor : Kholistiono

Komentar

komentar


    Print       Email


Artikel terkait lainnya

Besaran UMK Grobogan Tahun 2018 Diusulkan Naik Rp 125 Ribu

Selengkapnya →