Loading...
You are here:  Home  >  Info Muria  >  Artikel ini
MUTIARA RAMADAN

Antara Pahala dan Dahaga



   /  @ 03:30:34  /  30 Mei 2017

    Print       Email

Bakhruddin, S.Pd.I., M.Pd
Tokoh Muda NU dan Pengajar di MTS NU TBS Kudus

TULISAN ini ditujukan untuk semua muslim yang bertemu dengan bulan Ramadhan dalam keadaan sehat wal afiat, agar dapat memanfaatkan bulan tersebut dalam ketaatan pada Allah Ta’ala. Semoga melalui tulisan ini dapat menjadi sarana untuk membangkitkan semangat di dalam jiwa seorang mu’min dalam beribadah kepada Allah di bulan yg mulia ini. Maka penulis memohon kepada Allah Ta’ala agar diberikan taufik dan jalan yang lurus serta menjadikan amal ini ikhlas hanya karena mengharap Ridlo-Nya semata.

Saudaraku umat muslim yang dirahmati Allah. Ramadan bulan yang istimewa bagi umat Islam,  disebut sebagai syahrul ‘ibadah (bulan ibadah), di mana terdapat nilai ibadah dan semangat beribadah yang sangat tinggi. Pada malam bulan ini banyak orang berlomba-lomba mengerjakan amal ibadah dan kebaikan, kita bisa melihat mushola dan masjid ramai dengan orang muslim-muslimat berpakaian rapi khas santri. Pada bulan ini puasa menjadi ibadah wajib yang dilaksanakan satu bulan penuh. Amalan ini dijanjikan pahala kebaikan berlipat ganda dari Allah SWT. Namun, apakah berbuah pahala atau justru hanya menyisakan lapar dan dahaga.

Saudaraku umat muslim yang dirahmati Allah. Ada tingkatan klasifikasi puasa yang disampaikan oleh Imam al-Ghazali. Tingkatan pertama, yaitu puasa orang awam, adalah puasa yang hanya menahan perut dari makan, minum, dan kemaluan dari syahwat, namun masih tetap dan tidak mampu melepaskan diri dari perbuatan dosa dan maksiat seperti menggunjing dan berbohong. Imam al-Ghazali pernah berkata, banyak orang yang berpuasa, namun ia hanya mendapatkan dari puasanya lapar dan haus. Sebab, hakikat puasa itu adalah menahan hawa nafsu, bukanlah sekedar menahan lapar dan haus. Karena orang tersebut masih melakukan perbuatan yang haram, Ghibah dan berdusta. Maka yang demikian itu membatalkan hakikat puasa. Golongan ini adalah orang-orang yang oleh Nabi Muhammad SAW disebut sebagai golongan orang yang merugi, karena mereka tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga. Orang yang seperti ini tidak mendapatkan pahala yang dijanjikan oleh Allah.

Saudaraku umat Muslim yang dirahmati Allah. Tingkatan kedua, Puasa orang khusus, yaitu puasa orang sholeh adalah puasa tidak hanya menahan perut dan kemaluan, namun juga menahan semua anggota badan dari berbagai dosa dan maksiat. Mereka menundukkan pandangan, menjaga sikap dari hal yang diharamkan, dicela dan dibenci (makruh) oleh agama dan norma, dan dari setiap hal yang dapat menyibukkan diri dari mengingat Allah.

Saudaraku umat Muslim yang dirahmati Allah. Tingkatan ketiga, puasanya orang super khusus, yaitu puasa orang sholeh yang disertai dengan puasa hati dari berbagai keinginan yang rendah dan pikiran-pikiran yang tidak berharga, juga menjaga hati dari selain Allah secara keseluruhan. Puasa ini akan menjadi ”batal” karena pikiran selain Allah (segala pikiran tentang dunia, apapun bentuknya). Ini adalah puasanya para Nabi dan Rasul Allah SWT.

Saudaraku umat Muslim yang dirahmati Allah. Mari kita pergunakan momen Ramadhan ini, bulan yang penuh rahmat, dengan menjadikan kita sebagai insan yang sholeh. Dengan harapan, diakhir Ramadhan kita menjadi orang yang mendapatkan rahmat-Nya. Amin.(*)

(Bakhruddin S.Pd.I., M.Pd, Aktif sebagai Pengurus di Aswaja Center dan Pengajar di MI Matholiul Hija)

Komentar

komentar


    Print       Email


Artikel terkait lainnya

30 Lembaga Keuangan Mikro di Grobogan Diverifikasi OJK

Selengkapnya →