Loading...
You are here:  Home  >  Headlines  >  Artikel ini

Tradisi Bedug Dandang di Prawoto Pati Jadi Penyambut Ramadan



Reporter:    /  @ 14:30:12  /  27 Mei 2017

    Print       Email

Suasana Alun-alun Desa Prawoto, Sukolilo yang dipenuhi dengan payung warna-warni. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Ada tradisi unik di Desa Prawoto, Kecamatan Sukolilo, Pati untuk menyambut bulan suci Ramadan. Bedug dandang namanya.

Tahun ini, tradisi menabuh bedug berulang-ulang itu diperingati di Alun-alun Desa Prawoto. Tabuh bedug dandang menjadi pertanda dimulainya bulan suci Ramadan.

Official Gusdurian Prawoto, Tri Yono mengungkapkan, bedug dandang memiliki perbedaan dengan tradisi dandangan di Kudus atau dugderan di Semarang. Bedug dandang Prawoto menggunakan bedug tajidor dengan alunan khas bedug masa lalu.

Alunan bedug kemudian mendapatkan sentuhan improvisasi khas tradisional seperti lagu Astagfirullah, Syiir Tanpo Waton, Kereta Jawa, dan sebagainya. Event itu terasa meriah, karena dikemas dalam festival budaya Ramadan seperti panggung Ramadan, lomba tongtek, buka bersama, parade bedug dan takbir akbar.

“Bedug dandang bertujuan untuk menghidupkan budaya yang ada di Desa Prawoto. Sebab, hampir 25 tahun ini budaya itu sempat ditinggalkan masyarakat,” ujar Tri Yono, Sabtu (27/5/2017).

Menurutnya, budaya menjadi sumber kekuatan untuk menggerakkan kebersamaan masyarakat sehingga tercipta kondisi sosial dan religiusitas yang baik. Terlebih, tradisi bedug dandang ternyata berpengaruh pada sektor ekonomi warga.

Salah satu yang unik dari serangkaian festival penyambut Ramadan di Desa Prawoto, di antaranya adanya payung warna-warni dan gapura dari keranjang buah. Payung dipasang di kawasan pinggir alun-alun yang memberikan satu filosofi penting bagi kerukunan umat beragama dan berbangsa.

“Payung warna-warni menjadi simbol keberagaman, karena pada zaman dulu Alun-alun Prawoto menjadi lokasi pertemuan dari berbagai negara dan ras. Sedangkan gapura dari keranjang buah srikaya merupakan khas buah musiman di Prawoto, dulu tumbuh subur di hutan bambu,” tambahnya.

Gapura keranjang secara filosofis bermakna moto iro. Artinya, masyarakat diharapkan bisa saling membuka mata secara utuh. Sebab, dengan mata, seseorang bisa melihat budaya yang menjadi senjata bagi leluhur Nusantara untuk membangun peradaban manusia yang unggul dan berkepribadian.

Editor : Kholistiono

Komentar

komentar




Artikel terkait lainnya

DPC PDIP Kudus Buka Penjaringan Calon Bupati

Selengkapnya →