Loading...
You are here:  Home  >  Info Muria  >  Artikel ini

Belajar dari Semangat Nyamini, Perempuan Paruh Baya yang Sudah Belasan Tahun Jadi Tukang Tambal Ban



Reporter:    /  @ 21:06:10  /  25 Mei 2017

    Print       Email

Nyamini sedang memompa ban motor milik konsumennya. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom,Rembang – Nyamini sesekali menyeka keningnya yang basah oleh keringat. Nafasnya terdengar begitu berat. Namun wanita kelahiran 1967 ini tak sedikit pun mengeluh.

Ia terus berkutat dengan ban sepeda motor yang sedang ditambalnya. Kedua tangannya yang sudah mulai sedikit keriput terlihat begitu kontras dengan velg sepeda motor yang kinclong.

Untuk wanita dengan usia 50 tahun, Nyamini memang masih sedikit terlihat kuat untuk menjadi seorang penambal ban. Namun demikian, ia tak punya pilihan lain untuk melakukan pekerjaan dalam mencukupi kebutuhan keluarga.

Apalagi, kini Nyamini menjadi tulang punggung keluarga. Suaminya, Agus Anwar (60) sudah tidak bisa lagi melakoni pekerjaan sebagai penambal seperti beberapa tahun lalu. Agus lebih banyak istirahat di rumah karena kondisi fisiknya yang sudah mulai melemah.

Sebagai penggantinya, Nyamini harus melanjutkan pekerjaan ini meski sendirian. “Dulu ketika suami masih sehat, ya bersama suami kerja nambal ini. Tapi, sejak 2012 lalu, saya bekerja sendirian, karena kondisi kesehatan suami sudah menurun,” ujar wanita asal Pandean RT 2 RW 2 Kecamatan Rembang ini.

Setiap hari, dirinya mangkal di perempatan Alun-alun Rembang dengan beberapa peralatan untuk keperluan tambal ban, yang dimuatnya dalam gerobak. “Sebelum di sini, dulu lapak saya di daerah Tasikagung. Tapi sejak 2009, saya pindah sini,” imbuhnya.

Setiap harinya, dirinya biasa mulai buka jasa tambal ban mulai pukul 08.00 WIB hingga jelang Maghrib, bahkan hingga malam. Untuk penghasilan sendiri, menurutnya tak bisa menjadi patokan. Baginya, berapapun hasilnya, dirinya harus bersyukur.

Dengan hasil keringatnya itulah, dirinya masih bisa menyekolahkan putrinya hingga SMA. “Putri saya dapat lulus di SMA Santamaria. Sedangkan anak saya yang laki-laki yang masih berusia 22 tahun ini juga baru kejar paket untuk kesetaraan. Meskipun sekolah tak seperti siswa pada umumnya, mudah-mudahan nanti dapat manfaat hasilnya,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Komentar

komentar


    Print       Email


Artikel terkait lainnya

30 Lembaga Keuangan Mikro di Grobogan Diverifikasi OJK

Selengkapnya →